
Ini adalah kisah beberapa saat sebelum wilayah Savoy jatuh.....
Gram yang sedang ikut mempertahankan tembok sedang beristirahat di malam hari. Lebih tepatnya malam pertama setelah pengepungan berlangsung. Sudah tiga hari lamanya ia tidak beristirahat. Itu semua demi mempersiapkan perang yang akan datang.
Siapa sangka kalau tentara kerajaan lebih gigih daripada yang ia pikirkan. Mau bagaimana pun, Gram telah memikirkan berbagai strategi terbaik untuk mempertahankan Savoy.
Ia mengorganisir ksatrianya dan para relawan, menyemangati mereka, dan sebisa mungkin memberikan istirahat yang cukup bagi para penjaga dinding. Selama mungkin, Gram ingin menahan gerak laju mereka sambil membunuh sebanyak yang ia bisa.
Tetapi kualitas tentara kerajaan itu entah kenapa......mengerikan! Ketika ada satu dari mereka yang berhasil memanjat dinding, mereka langsung maju dan menghantam pasukannya.
Bahkan ketika salah satu dari mereka dikepung oleh sepuluh atau 15 orang, bahkan ketika mereka telah tertusuk tombak ataupun panah, mereka terus bertarung hingga mati karena kehabisan darah ataupun terpenggal.
Korban jiwa jatuh lebih besar daripada yang bisa ia pikirkan sebelumnya. Gram meyakini bahwa ksatrianya maupun para relawan memiliki patriotisme yang tinggi sehingga mereka akan melakukan apapun untuk melindungi tanah kelahiran mereka.
Tentu saja itu tidak salah. Tetapi melihat tentara kerajaan Heinz yang bertarung seolah-olah sedang mencari kematian, moral mereka menjadi rendah dan semangat mereka menurun.
"Ini sangat gawat....hahh. kami kekurangan pasukan, bahan makanan, dan jumlah senjata. Kerajaan Heinz terlihat sebaliknya. Kalau terus begini.... sudahlah."
Meskipun Gram berusaha tidur, ia tidak bisa. Kepalanya selalu dibayang-bayangi oleh darah yang akan menggenangi jalanan, bayi-bayi yang akan dibunuh, dan wanita yang akan diperkosa.
Karena itu tidak peduli berapapun harga yang harus ia bayar, Gram akan terus bertekad untuk melindungi tempat ini, meskipun nyawanya adalah salah satu bayaran itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pertempuran terus berlanjut di hari kedua. Tentara kerajaan semakin gigih sementara pasukan bertahan semakin terkikis. Meskipun begitu, mereka tetap bertahan. Terutama ketika melihat Gram terus menebas musuh tanpa ampun.
"TERUS PERTAHANKAN TEMBOK DAN TEBAS MUSUH SEBANYAK YANG KALIAN BISA!! JIKA KALIAN TIDAK MAU KELUARGA YANG KALIAN SAYANGI ATAUPUN KAWAN YANG BERHARGA TEWAS, TETAPLAH BERTAHAN!!"
__ADS_1
Moral para ksatria penjaga tembok meningkat. Pada akhirnya, mereka terus menebas musuh tanpa ampun. Tentara kerajaan tercengang dengan perkembangan ini.
Akhirnya tentara kerajaan mengerti siapa yang harus mereka habisi terlebih dahulu jika ingin meruntuhkan moril para pasukan bertahan. Itu adalah ksatria tua nan kuat bernama Gram. Cukup kuat untuk membunuh 30 tentara kerajaan seorang diri.
Hari kedua, tentara kerajaan gagal merebut wilayah Savoy sepenuhnya.
"Hahahaha!! Ayo minum-minum! Mari kita rayakan kemenangan kita hari ini!!"
Untuk menghibur diri mereka yang kelelahan, para ksatria mengadakan pesta untuk diri mereka sendiri. Tidak banyak yang dihidangkan. Hanya segelas alkohol dan beberapa camilan. Di tengah krisis, mereka tidak punya kemewahan untuk berfoya-foya.
Suara tawa para ksatria terdengar dimana-mana. Mereka tahu bahwa tidak ada jaminan kalau besok, mereka masih dapat melihat dunia. Jadi selagi masih ada kesempatan, mereka bercanda, tertawa, dan makan sebanyak yang mereka bisa.
Itu mungkin benar, tetapi perkiraan mereka sedikit meleset ketika salah seorang kurir berlari ke tempat pesta sedang berlangsung.
"BERITA DARURAT!! TENTARA KERAJAAN HEINZ MELAKUKAN SERANGAN!!"
Seketika, suasana di ruangan itu menjadi hening.
Para ksatria yang berpatroli di atas dinding tidak sepenuhnya siap dengan hal ini. Alhasil, mereka diserang habis-habisan oleh tentara kerajaan tanpa sempat mempersiapkan diri.
Eugene menjadi ujung tombak serangan malam ini. Ia diseleksi oleh para komandan untuk mengeksekusi misi yang sulit bersama 500 tentara lainnya.
Misi mereka mungkin terdengar sederhana tapi faktanya sangat rumit. Mereka diberikan sebuah baju besi ringan berwarna gelap untuk menyamarkan diri mereka di malam hari. Tidak ada tangga yang akan membawa mereka ke atas tembok. Mereka harus memanjat dinding seperti halnya memanjat sebuah tebing.
Dengan senyap, mereka bergerak secepat mungkin tanpa menimbulkan kegaduhan. Ini bukan hal yang mudah. Hampir mustahil untuk tidak menimbulkan kegaduhan ketika mereka memakai baju besi meskipun ringan.
Tapi mau bagaimana pun, mereka bisa melakukan itu. Para ahli strategi telah menemukan celah di tembok wilayah Savoy. Bagian tembok yang mengalami kerusakan akan dijaga dengan ketat oleh para ksatria yang berpatroli.
__ADS_1
Sebaliknya, tembok yang sama sekali tidak memiliki kerusakan mendapat penjagaan yang tidak terlalu ketat. Disitulah tujuan mereka.
Setelah Eugene berhasil menjadi yang pertama kali mencapai bagian atas tembok, ia menunggu yang lainnya untuk naik. Tidak lama kemudian, 501 orang telah berkumpul di atas tembok.
"Kita akan melakukan serangan sesenyap mungkin. Mari kita bagi pasukan menjadi dua. 250 orang ikut denganku untuk menyerang para ksatria sementara 250 sisanya, kalian akan mencari cara untuk pergi ke bawah dan membuka pintu tembok. Di pahami?"
Mereka mengangguk. Setelah membagi pasukan, mereka berpencar dan menjalankan tugas masing-masing.
Tentu saja Eugene tidak bisa menjaga kesenyapan itu selamanya. Beberapa ksatria menyadari bahwa rekan mereka tidak kembali segera terburu-buru untuk mencari dalang di balik kematian rekan Mereka.
Dan saat itulah, pertempuran sengit pecah. Para ksatria sedang dalam kondisi kelelahan karena pertempuran yang terjadi selama seharian. Rencananya mereka akan berganti tempat dengan rekan mereka yang sedang berpesta tapi hal itu tidak akan pernah terjadi.
Eugene dan tentara kerajaan yang lain bentrok dengan Ksatria Savoy. Mereka berhasil membunuh banyak ksatria.
Sayangnya, ketika terus maju, seorang ksatria tua menghadang gerak mereka. Eugene langsung mengenalinya. Dia jelas tidak tahu namanya tapi ia paham. Orang tua inilah yang menjadi alasan kenapa moril pasukan bertahan tetap terjaga.
"Kalian pergilah. Orang ini kuat. Biar aku yang menghadapinya. Kalian fokus saja untuk terus mengalihkan perhatian."
Eugene langsung berhadapan dengan ksatria tua itu. Tanpa gentar, pedang mereka langsung berbenturan sama sekali.
"Kau cukup keras kepala ya, pak tua. Menyerah saja demi menghindari darah yang tertumpah lebih banyak lagi."
"Jangan bercanda! Kau pikir kami bersedia memberikan wilayah ini secara percuma!?"
Eugene dan Ksatria tua itu langsung mengambil jarak satu sama lain. Eugene paham dengan niatnya. Ksatria tua itu mengerti cepat atau lambat wilayah Savoy akan jatuh sepenuhnya.
Tujuan utamanya adalah mengulur waktu selama mungkin dan menimbulkan banyak korban jiwa dari pihak tentara kerajaan. Strategi yang cukup umum namun Ksatria tua ini menggunakannya dengan baik.
__ADS_1
Lagi dan lagi, pertarungan terus berlanjut. Eugene sempat terdesak tetapi pada akhirnya ia berhasil memojokan Ksatria tua itu.
Hingga pada akhirnya, Menjelang matahari terbit, Eugene memenangkan duelnya dan berhasil memenggal kepada Ksatria tua itu yang nanti baru ia ketahui namanya, Gram.