
tiga hari kemudian, di sebuah bukit yang masih masuk dalam teritorial wilayah Schafer, Adalrich dan beberapa orang kepercayaannya sedang berdiri disana. termasuk makhluk misterius yang mengenakan jubah berwarna hitam dan sangat tertutup.
Agatha juga berada disana. dia mengenakan gaun berwarna hitam. matanya ditutupi oleh sebuah ikat mata dan tangannya juga diikat. posisinya sekarang seperti seorang kriminal yang siap untuk dihukum mati.
dia berlutut di atas sebuah lingkaran yang di lukis dengan darah. dibawahnya ada sebuah huruf yang bukan dari benua itu. entah itu Adalrich dan bawahan kepercayaannya sama sekali tidak bisa membacanya.
"Ritual pengorbanan akan segera dimulai. Tuan Adalrich, anda sendirilah yang harus menumpahkan darah adik anda di atas lingkaran itu. dengan begitu, anda akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar dan anda dapat dengan cepat membalaskan dendam keluarga anda."
Adalrich mengangguk. dia sudah menggenggam pedangnya dengan erat. matanya tidak lagi memancarkan kesedihan. melainkan sebuah keyakinan dan tekad. dia tidak akan melihat ke belakang. jika ini adalah satu-satunya jalan, dia tidak boleh lagi menyesali apapun.
dia berjalan menuju Agatha. sementara itu, Agatha sendiri bergetar. dia takut. Agatha takut mati. tapi bukan itu yang paling dirinya takutkan. kakaknya, Adalrich Von Schafer, yang akan memenggal kepalanya sendiri.
mereka telah kehilangan orang tua mereka sejak kecil dan mereka hidup dengan mengandalkan satu sama lain. mereka bahu membahu menjaga seluruh warisan dan tekad yang orang tua mereka tinggalkan. mereka saling melindungi punggung satu sama lain dari orang-orang jahat. tapi kenapa, tapi kenapa.....
setitik air mata jatuh ke tanah. itu adalah tangisan seorang adik yang pada akhirnya mati di tangan kakak tercintanya. dia tidak bisa melakukan apapun. dia tidak bisa berteriak. lebih tepatnya tidak mau.
dia menyayangi kakaknya. jika hal ini ternyata akan membuat kakaknya bisa menghilangkan haus darahnya, maka biarlah terjadi. itulah bentuk kasih sayang terakhir dirinya kepada Adalrich.
Adalrich berhenti di samping Agatha dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. dia sudah siap. tanpa ragu, dia menebaskan pedang miliknya ke leher Agatha, adik tersayangnya.
waktu seolah berjalan lambat. berbagai kilas balik memenuhi pandangannya. adiknya yang menangis, tertawa, tersenyum, dan berbagai peristiwa yang mereka lalui, semua itu memenuhi pandangannya.
Sampailah!! dia bertekad untuk menjaga nama Schafer lebih kuat dari siapapun! dia merasakan tekad orang tuanya lebih dekat dari siapapun! dia tidak punya waktu untuk ragu! setelah semua ini selesai, dia akan menyusul orang tua dan adiknya.
tapi pedang itu tidak pernah sampai. pedang yang ia ayunkan tidak pernah menyentuh Agatha. karena begitu hanya tinggal beberapa sentimeter lagi, sebuah bilah menghalangi bilah pedangnya.
"Tidak sampai."
Adalrich sangat terkejut dan mengangkat kepalanya. seorang pemuda berambut hitam berhasil menahan pedangnya di detik-detik terakhir.
"Pedangmu, tidak akan pernah mencapai dirinya, Adalrich."
pemuda itu tersenyum. tetapi sirene di kepala Adalrich berbunyi. hawa dingin tiba-tiba menjalar ke punggungnya. dia berbahaya! Adalrich langsung melompat ke belakang dan mengambil jarak dari pemuda itu.
tapi itu adalah kesalahan. karena begitu dia mendarat di tanah, pemuda itu menjentikkan jarinya dan tanah yang Adalrich pijak langsung meledak dan membuatnya terpental.
"Siapa dia!!"
"Jangan takut!! siapkan pedang kalian dan serang orang itu secara bersamaan!!"
"Mage! serang dia dengan sihir kalian! bantu tuan Adalrich!!"
tapi hanya teriakan itu saja yang bisa mereka lakukan. karena sebelum mereka bisa bertindak, dua gadis melancarkan serangan pada mereka dan melumpuhkan semua bawahan Adalrich.
pemuda itu adalah Issac dan dua gadis itu tentu saja Margareth dan Angelica. mereka berdua mengamankan semua bawahan Adalrich dan memastikan agar mereka tidak bisa bergerak lagi.
di saat yang sama Issac memutus rantai yang mengikat tangan dan Kaki Agatha dan membuka penutup matanya. Issac bisa melihat ekspresi kebingungan dan kesedihan di mata Agatha. tapi sedetik kemudian, ekspresi dan tatapannya berubah menjadi cerah. campuran antara kaget, gembira, dan marah. Agatha langsung memeluk Issac erat-erat dan mencengkeram punggungnya.
"Kenapa... kenapa...kenapa kau datang menyelamatkanku!? untuk apa kau kesini!?"
Agatha mulai menangis! meskipun dia bertanya kenapa, Agatha sangat bersyukur dan bahagia karena Issac datang menolongnya. Issac mengelus kepala Agatha dengan lembut.
__ADS_1
"Kenapa, kau bilang? jangan bercanda. akhir-akhir ini malam menjadi sepi. aku tidak tahu kenapa. tapi sepertinya, tidak ada teriakan dari seorang gadis bernama Agatha yang membuat Angelica, Margareth, dan seseorang yang bernama Issac Starfall tertawa."
Issac terus mengusap kepala Agatha untuk menenangkannya.
"Kau tidak sendirian Agatha. ingat itu. jika kau menangis di depan kami, kami juga akan menangis bersamamu. jika kau tertawa, maka kami juga akan terus tertawa bersamamu.
"Karena itulah Agatha, tidak perlu menahan diri lagi. kau tidak perlu untuk menanggung bebanmu sendirian lagi. kalau kau khawatir dengan mereka, kau bisa membagikan rasa sakitmu padaku."
Agatha mulai tertawa di tengah tangisnya. dia tidak memiliki apapun lagi untuk dikatakan. dia tidak bisa menyanggah Issac. tapi lebih baik seperti itu.
dia ingin berada dalam pelukannya lebih lama lagi, tapi Issac segera melepaskannya dan mendorong Agatha menjauh dari dirinya. bukan karena Issac merasa resah, tetapi karena orang misterius tadi sudah melayang di atas Issac dan menebaskan pedangnya ke arah Issac.
dengan sigap Issac langsung menusukkan katananya ke arah orang itu. TRANGGG!!! ujung bilahnya menabrak pedang orang itu.
suara decakan lidah terdengar orang itu dan dia mundur. Issac mengeluarkan dua pedang dari sihir spasialnya dan melemparkan itu pada dua pada Agatha.
Agatha kaget dia tapi dia tidak punya waktu untuk itu. ada sesuatu yang harus ia lakukan sekarang. setelah mengambil pedangnya, dia menghampiri kakaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"hahaha bagus anak muda! baru pertama kalinya dalam 300 tahun seseorang bisa menahan seranganku!"
orang yang memakai jubah itu terbahak-bahak ketika berhadapan dengan Issac. tapi Issac sendiri tidak merasa tersanjung atau apapun. dia mengamati musuh yang ada di depannya dengan seksama.
"dilihat dari energi sihirmu... sudah kuduga kau bukan manusia. kau adalah....vampire?"
"Hooo!! menarik, kau bisa langsung mengetahui ku hanya dengan melihat energi sihirku."
Orang itu melepaskan jubahnya dan sesosok pria bertubuh tinggi dengan kulit pucat dan pipi yang tirus dengan mata sayu muncul di depan Issac. ternyata benar, dia adalah Vampire dan tingkatannya tidak main-main. untuk standar manusia biasa, dia sangat kuat dan tidak terkalahkan.
"Maaf anak muda. karena kau melihat wujudku yang seperti ini, aku tidak bisa membiarkan kalian yang ada disini kembali hidup-hidup."
Vampire itu kemudian mengeluarkan sihirnya dan membakar para bawahan Adalrich. tapi Issac sudah memasang barrier pelindung daritadi ke Angelica dan Margareth.
"lumayan! kau bisa lolos dari serangan...."
"tidak perlu memujiku, bodoh. karena itu bukan satu-satunya kekuatanku."
Issac tiba-tiba muncul di depan Vampire itu. karena kaget, sang vampire langsung menghindar walupun Issac tidak menyerang sama sekali.
"Lumayan cepat. tapi barang milikmu tertinggal lho..."
Issac melempar-lempar tangan vampire itu dan menjadikannya mainan. vampire itu dengan panik melihat ke arah tangannya.
sejak kapan...!? dia berpikir seperti itu. tangannya sudah hilang bahkan sebelum pemuda itu menyerang. siapa sebenarnya dia!? dan yang lebih penting lagi, kekuatannya....
idealnya, vampire bisa kembali menumbuhkan anggota tubuh mereka yang hilang. tapi kali ini berbeda. vampire yang berusia lebih dari 500 tahun ini tidak bisa menumbuhkan lagi tangannya yang putus!
Bajingan!! Vampire itu berteriak dan kobaran api berwarna merah menyala muncul dan segera menyerang Issac. tapi Issac meniupnya dan api itu menghilang.
"Ba-bagaimana bisa!?"
__ADS_1
Dia berniat melarikan diri lewat sebuah portal. dia menguras seluruh mananya hanya untuk membuka portal antar dimensi. tapi upaya pelarian dirinya gagal karena Issac mencengkeram lehernya dari belakang.
"Ka-kau Brengsek! kau menghancurkan seluruh rencanaku untuk membuka portal dimensi besar-besaran! kau telah menghancurkan rencana raja ibl...URRGGGHH!!!"
"aku tidak tertarik dengan perkataanmu. entah itu raja iblis atau dewa iblis sekalipun, aku akan tetap menghancurkan mereka jika menggunakan orang yang berharga bagiku sebagai tumbal untuk rencana kalian."
sambil mencengkram leher vampire itu hingga patah, Issac membakar vampire itu dengan api hitam miliknya. dan vampire itu musnah sama sekali.
\=\=\=\=\=\=\=
sementara itu, pertandingan yang sengit terjadi antara Agatha dengan Adalrich. awalnya Adalrich di atas angin. dibandingkan dengan Agatha yang ragu-ragu, Adalrich sama sekali tidak menahan diri. dia mengeluarkan seluruh kekuatannya dengan sepenuh hati.
percikan api dari pedang mereka yang saling beradu berterbangan. pusaran angin terbentuk karena betapa gilanya serangan mereka satu sama lain. Agatha yang tidak lagi ragu sekarang lebih unggul. kemampuannya dalam menggunakan dua pedang setara dengan Misha.
begitu Agatha melihat celah dari Adalrich, dia langsung mengayunkan pedangnya ke leher Adalrich. luka yang dia sebabkan cukup dalam hingga akhirnya Adalrich tidak lagi bisa bertarung. dia roboh ke atas rerumputan tetapi Agatha menangkapnya.
Agatha duduk dan meletakkan kepala Adalrich di atas pangkuan pahanya. dia berniat untuk menyembuhkan luka Adalrich. tapi Adalrich mencegah hal itu. setelah semua yang dia lakukan pada Agatha, Adalrich tidak berniat untuk hidup lebih lama lagi.
"Pada akhirnya.....aku sama sekali tidak bisa mengalahkan dirimu ya, Agatha."
Agatha tidak lagi menahan tangisnya. untuk yang kedua kalinya, air matanya jatuh hari ini. dia tidak mengatakan apapun. bukannya dia tidak mau. dia tidak bisa.
"seorang lelaki yang membuat wanita menangis sedih itu adalah kebodohan, Adalrich."
Issac mendatangi mereka berdua. dia memberikan sihir penyembuhan pada Agatha tapi tidak melakukan apapun pada Adalrich. Issac sudah tahu niat dia sejak awal.
"Terimakasih...teman. berkat dirimu...gadis ini tidak lagi ragu. Dia sudah....jauh....lebih kuat daripada.... diriku."
"Adalrich....jangan memasang wajah seperti itu sebelum kematianmu. ada hal yang harus kau ketahui. tidak peduli berapa kali pun kau berusaha menyembunyikan penyebab sebenarnya kematian orang tua kalian pada Agatha, gadis ini sudah mengetahui semuanya."
Adalrich tidak terkejut. dia mungkin sudah menduga semua itu.
"Tapi Adalrich.... tidak seperti dirimu yang melarikan diri, Agatha terus maju. dia memegang teguh prinsip dan tekad yang diwarisi dari orang tua kalian. dia belajar, dia berusaha keras mengambil apa yang sudah orang lain rebut dari dirinya dan kakaknya.
"bukan untuk membalaskan dendam. Agatha sudah lama kehilangan keinginan untuk melakukan itu. dia melakukan semua itu semata untuk melindungi jiwa terdalam kakak tercintanya. dan itu adalah kau Adalrich."
"Begitu, kah?"
Adalrich tersenyum. dia menatap Agatha, Issac, lalu menatap langit. ayah dan ibunya sedang tersenyum kepadanya dari surga. tangannya berusaha meraih langit sambil tertawa.
"Kalau begitu....uhuk! maukah kau berjanji... padaku? bukan sebagai sesama bangsawan.... tetapi sebagai seorang kakak dan lelaki. kumohon....jaga jiwa terdalam milik adikku."
Issac mengangguk. wajahnya tersenyum dengan tulus sambil memandang wajah Adalrich.
"Ya. aku berjanji padamu, Adalrich. sisanya, serahkan padaku."
kali ini Adalrich menatap Agatha yang tangisnya semakin keras dan membasuh air mata Agatha.
"Agatha.....jangan menangis.... tersenyumlah."
Agatha memaksakan dirinya untuk tersenyum meskipun tangisnya sama sekali tidak bisa berhenti. tidak peduli berapa kali dia menghapus air matanya, tangisnya tetap meluncur.
__ADS_1
"Terimakasih.... Agatha. dan....maaf."
tangan Adalrich terjatuh ke bumi. matanya kini tertutup untuk selamanya. meskipun begitu, mulutnya tersenyum. dan untuk yang ketiga kalinya, tangis Agatha memenuhi angkasa.