Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Pembicaraan Dua Penguasa (2)


__ADS_3

Sarapan berlangsung dengan suasana yang cukup meriah. Lebih tepatnya diisi oleh obrolan para wanita. Issac sendiri tidak ikut sarapan bersama mereka. Itu karena dia bilang ada sesuatu yang harus dia lakukan. Dia akan kembali saat waktu sarapan sudah selesai.


Adapun isi dari obrolannya sendiri bermacam-macam. Tidak peduli seberapa tinggi jabatan dan tanggungjawab mereka, ketiganya tetaplah wanita. Mereka berbicara tentang semua yang mereka sukai. Pakaian, makanan, dan lain-lain.


Tidak terasa, piring mereka telah kosong. Para maid datang dan menuangkan teh panas ke cangkir masing-masing. Para maid juga membersihkan meja dan merapihkan piring-piring kotor lalu membawa mereka pergi. Tepat saat itulah, Issac datang.


Sejak waktu sarapan telah selesai, suasan di ruang tahanan Maria menjadi lebih tegang. Pembicaraan sesungguhnya akan dimulai.


Issac hanya tersenyum kecut di dalam hatinya melihat ketegangan tiba-tiba datang. Dia hanya menyiapkan pena dan kertas untuk mencatat semua perbincangan yang terjadi.


"Nona Maria, sudahkah anda mendengar kabar yang terjadi di wilayah anda?"


Maria menggeleng. Dia adalah tahanan perang. Informasi yang dia terima sangat terbatas. Meskipun diperlakukan dengan baik, pada dasarnya dia diisolasi dari dunia luar.


Aurellia menatap Margareth. Ia mengangguk dan Margareth mulai mengatakan sesuatu.


"100.000 tentara kaisar dan Duke Sarkozy telah mengepung teritorial Petersburg. Mereka memvonismu sebagai pengkhianat karena Kabur dari Medan perang. Juga ada berbagai vonis lain.


"Bagi mereka, ini adalah kesempatan yang tidak dapat disia-siakan. Sudah sejak lama keluarga royalti mengincar semua yang kamu miliki dan bagi mereka ini adalah momen yang tepat."


Setelah Margareth mengatakan itu, Maria tidak terlihat terlalu kaget. Tentu saja dia telah menduga hal itu sebelumnya. Dia punya alasan sendiri untuk turun langsung ke Medan perang. Sepertinya Aurellia dan Margareth telah mengetahui niat Maria yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Ternyata seperti itu ya, Nona Maria. Bagi kamu, memang atau kalau tidaklah penting. Sepertinya ada alasan tersendiri kenapa Nona Maria turun ke Medan peperangan."


Maria tersenyum. Apa yang dikatakan Margareth benar.


"Nona Margareth benar. Bagi saya kalah atau menang tidak penting. Jika saya menang, saya bisa mendesak kalian untuk memberikan bantuan kepada keluarga saya untuk menghalau kaisar dan Duke Sarkozy.


"Tetapi sayangnya, saya kalah. Memang pahit, tetapi itu bukan berarti keuntungan yang saya miliki hilang. Saya yakin, dengan jaringan intelejen yang kerajaan miliki, kalian sudah bisa membaca niat kaisar.


"Dan dengan kemenangan ini, anda berniat untuk mengambil keuntungan dengan memaksa saya agar mengizinkan kerajaan untuk mengintervensi konflik internal antara keluarga Petersburg dan kaisar."


Margareth maupun Aurellia tersenyum kecut. Seperti yang diharapkan dari Maria, dia bisa membaca niat kerajaan yang sebenarnya. Well played....


Aurellia menggeleng. Kali ini ia angkat bicara.


"Semenjak Nona Maria kalah, anda sama sekali tidak berhak untuk mengajukan syarat apapun. Kita juga tidak perlu izin dari Nona Maria untuk memasuki teritorial Petersburg dengan asumsi bahwa Kekalahan anda membuat wilayah Petersburg secara otomatis jatuh ke tangan kami."


Kali ini Maria terdiam. Itu memang benar. Dan inilah kenapa pada dasarnya dia tidak ingin kalah. Inilah yang terjadi sekarang. Dia berada dalam posisi yang tidak diuntungkan.


Tetapi dia tidak bisa protes. Keadaan tidak mengizinkannya dan dia juga tidak memiliki pilihan. Akan lebih baik jika harus berhutang pada kerajaan Heinz daripada tunduk kepada kaisar.


"Kalau begitu lakukan sesuka kalian. Tidak ada lagi yang harus aku katakan. Ah tapi.... bagaimana untuk tawanan perang yang lain? Apa yang kerajaan akan lakukan pada mereka?"

__ADS_1


Ada sedikit kekhawatiran dalam nada Maria. Well, dia tidak mengirimkan orang-orangnya untuk mati. Dia mau perlakuan yang terbaik untuk pasukannya yang ditawan.


"Sesuai hukum yang berlaku di kerajaan, mereka akan dijadikan buruh kerja paksa selama lima hingga sepuluh tahun. Masih banyak wilayah kerajaan yang belum dikembangkan dan mereka akan mengerjakan proyek-proyek besar kedepannya.


"Tapi jangan khawatir. Kami akan memperlakukan mereka dengan manusiawi. Kami akan membayar mereka setidaknya setengah dari upah para buruh bangunan dan memberikan makan tiga kali sehari."


Penjelasan dari Margareth membuat Maria tenang. Dibandingkan dengan tentara kekaisaran yang memperlakukan para tawanan hanya seperti mainan, perlakuan kerajaan jauh lebih baik.


"Juga tentu saja, jika nona Maria ingin mengambil mereka kembali, anda harus membayar sejumlah uang kepada kerajaan. Tidak termasuk dengan biaya reparasi atau ganti rugi untuk kerajaan.


"Tapi mari bahas itu dikesempatan lain. Kami akan menyediakan waktu dan tempat sendiri untuk membicarakan prospek masa depan pasca perang dengan keluarga Petersburg."


Margareth mengakhiri penjelasannya. Maria menghela nafas lega dan Aurellia terlihat puas. Sementara Issac, dia dengan tenang mencatat semua percakapan tadi.


Tidak terasa sudah sore. Mereka melewatkan jam makan siang. Karena sebentar lagi waktu makan malam akan tiba, para wanita memutuskan untuk mengobrol santai. Nah, ketegangan sudah hilang dan suasana kembali cair. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Yah, Issac sendiri senang mereka kembali 'akur'. Tetapi menyebalkan karena hanya dianggap angin lalu. Sial bagi mereka bertiga, pikiran Issac dipenuhi dengan akal iblis.


Dengan tenang, Issac pergi ke belakang ketiga wanita yang sedang asyik mengobrol itu. Lalu, dia menjilati dan mengigit telinga mereka satu persatu yang langsung membuat mereka bergetar, terkejut, dan lemas. Mereka bertiga hanya bisa memasang wajah memelas pada Issac dengan mata berkaca-kaca.


Dan sisanya, kamar tahanan Maria dipenuhi erangan kenikmatan tiga wanita sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2