Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar

Shadow King Chronicles: Membangun Kerajaan Dari Balik Layar
Bab 101: Babak Kedua dan Penyiksaan


__ADS_3

Kini, Will dan Issac saling berhadapan satu sama lain. keduanya memiliki ekspresi yang kontras. Issac tetap tenang dan memandang lurus ke depan. tanpa gemetar dan rasa takut. hal sebaliknya terjadi pada Will. wajahnya menampakan murka. tubuhnya gemetar-. dia memandang Issac sama seperti harimau yang siap mencabik mangsanya.


hanya ada mereka berdua sekarang. Issac telah menyerahkan Anna pada James. begitu juga Evelyn. keberadaan mereka disana hanya akan menjadi penghalang bagi Issac untuk menghabisi orang yang ada di depannya.


"hehh...sampah jelata sepertimu ingin melawan ksatria bangsawan yang mulia sepertiku? Hahaha! jangankan untuk melukaiku! teknikmu yang murahan bahkan tidak akan bisa menyentuhku! di kota Cliff ini, aku adalah yang terkuat!"


Issac tidak mendengar apa yang Will katakan. dia hanya sedang menggaruk telinganya. tidak usah ditanya, tindakan itu jelas membuat Will semakin berang.


"Ah maaf maaf. telingaku terlalu gatal tadi jadi aku menggaruknya. aku sudah lama tidak membersihkannya sih. biasa, karena kesibukan. jadi, apakah tadi kau mengatakan sesuatu?"


"Bajingan! jangan harap kau bisa lolos setelah membuat ku semarah ini! Berkumpul lah! wahai perwujudan dari kemarahan. penuhi keinginan ku dan hancurkan musuhku menjadi Abu! [Hundred Lance Fire]"


puluhan tombak api muncul dari lingkaran sihir yang terwujud berkat rapalan Will. masing-masing dari tombak api itu memiliki daya hancur yang tinggi. bahkan mengenai satu diantara mereka saja bisa langsung menjadi abu.


tetapi yang dia hadapi adalah Issac sekarang. bahkan, itu sama sekali tidak menimbulkan rasa takut sama sekali. baginya, tombak api semacam itu hanya mainan anak-anak. bahkan Crimson Flame milik Lilianne masih jauh lebih mengerikan.


maka, ketika Tombak api itu menerjangnya, Issac tetap tidak bergeming dari tempatnya. dia hanya mengangkat tangannya dan...CTAKK! hanya perlu satu jentikan jari untuk menghilangkan puluhan Tombak api itu.

__ADS_1


"ehh... ternyata hanya segitu saja kekuatan dari seorang komandan Ksatria Grade satu? membosankan sekali. aku kira akan menjadi spektakuler atau apalah. lagipula ada apa dengan teknik itu? bukannya kau bilang seratus? tapi yang kulihat bahkan tidak lebih dari 30 tombak."


Mustahil! Will mengerutkan wajahnya. itu adalah salah satu sihir pamungkasnya. dia sengaja tidak mengeluarkan seluruh seratus tombak agar tempat ini tidak hancur. tetapi seharusnya tiga puluh tombak api miliknya lebih dari cukup untuk menghanguskan bocah itu!


Will tidak menganggap Issac lemah. dia sadar bahwa dia tidak bisa mendeteksi Issac sebelum kedatangannya. itu artinya mungkin saja kekuatan anak ini berada di atas kedua temannya tadi.


"Sombong sekali kau, dasar Jelata! kalau begitu, biar aku tunjukkan apa artinya seorang Ksatria Grade satu!"


kali ini, Will memutuskan untuk bertarung jarak dekat. dia menyiapkan pedangnya dan menarik itu dari sarungnya. ini bukan pedang biasa. ditempa oleh pandai besi terbaik dan dilapisi oleh mana. ketajaman bilahnya sama sekali tidak perlu dipertanyakan.


setelah menyadari bahwa serangan pedangnya tidak mengenai sasaran, Will dengan gesit mengubah posisinya dan menyerang Issac dengan tebasan silang. tetapi percuma, gerakan menghindar Issac jauh lebih gesit dari yang ia bayangkan.


Will terpaksa melancarkan teknik pamungkasnya. seribu cabikan. ini adalah teknik berpedang yang memungkinkan Will menyerang lawan selama Terus menerus selama lima menit ketika lawan telah terjebak dalam lingkar sihirnya. dan Issac telah memenuhi syarat itu.


"Hahaha rasakan! akan ku cabik-cabik tubuhmu dan kuberikan kepada anjing-anjing liar yang kelaparan!"


serangan beruntun datang menerjang. Issac sedikit direpotkan dalam hal ini. Will bergerak dengan sangat cepat. seolah dia memiliki stamina tidak terbatas. Issac hanya menangkis semua serangan itu tanpa menyerang balik. Harus Issac akui, dia sedikit mengubah pandangannya tentang Will meskipun itu tidak mengabaikan fakta bahwa si bajingan bejat ini berusaha untuk menodai temannya.

__ADS_1


empat menit berlalu. serangan bertubi-tubi dari Will mulai melemah. dia sudah membuka banyak celah. meski begitu dia belum berhenti sama sekali. tetapi itu sudah lebih dari cukup untuk Issac. Issac mengakhiri satu serangannya dengan tebasan vertikal, yang membuat tangan Will terputus dari tubuhnya.


Will tidak sempat berteriak. tidak, lebih tepat untuk mengatakan bahwa dia tidak lagi memiliki stamina untuk berteriak. Teknik seribu tebasan yang dia gunakan mengorbankan nyaris seluruh tenaga maupun mana miliknya kedalam satu rentetan serangan seperti tadi. hasilnya, dia sangat kelelahan sekarang, bahkan melupakan rasa sakitnya


selain itu, tekniknya yang tadi sangat tidak diuntungkan dengan Medan bertarungnya sekarang yang merupakan kamarnya dan memiliki ruang yang sempit. sebenarnya itu juga kerugian bagi Issac karena dia tidak memiliki banyak ruang untuk mengindari serangan itu. tetapi dia Issac sih. tidak mungkin dia terganggu dengan hal seperti itu kan?


"Ja-jangan bunuh aku! aku adalah adik ipar dari Stevens Clifford! membunuhku sama saja dengan menjadi musuh dari keluarga bangsawan!"


Issac terkekeh. ujung-ujungnya, orang seperti Will pasti akan mengatakan itu sebagai kartu terakhirnya untuk bertahan hidup. tapi sayang, dia mengatakan hal itu kepada orang yang salah.


"ahahaa...maaf ya. tetapi kalau begitu, kau telah melakukan hal yang jauh lebih mengerikan lho. kau telah menjerumuskan keluarga Clifford kedalam peperangan dengan keluarga Randall."


"Apa yang kau katakan Bang...." Will tidak melanjutkan kata-katanya ketika dia Issac mengeluarkan sesuatu dari pakaiannya. itu adalah lencana pengenalan bahwa Issac adalah bagian dari keluarga Randall.


"namaku Issac Randall. salam kenal tuan Will sang adik ipar Earl Clifford." dengan nada mengejek, Issac mempermainkan emosi Will.


Issac tentu ingin Membunuh orang ini. tetapi setelah semua hal yang dia lakukan, membuatnya mati tanpa merasakan sakit adalah sebuah dosa. maka, malam-malam panjang yang dipenuhi penyiksaan, kesengsaraan, dan rasa sakit baru saja dimulai.

__ADS_1


__ADS_2