
Malam musim dingin di Savoy sunyi. Para warga masih berada dalam ketegangan. Para prajurit memang tidak menjarah ataupun menyakiti para penduduk di sini, tetapi itu bukan berarti mereka bisa bersuka cita.
Ini adalah lima hari setelah penaklukan. Salju masih turun walupun cuaca cenderung lebih stabil. Tidak ada badai yang terjadi malam ini. Di sebuah bar, para tentara kerajaan sedang berkumpul untuk minum-minum.
"Hei nona! Bawakan kami tiga gelas anggur!"
"Pak tua, berikan kami camilan untuk lima orang!!"
Kegaduhan terjadi di dalam bar. Ini adalah satu-satunya bar yang masih buka hingga malam. Well, sebenarnya ini hanyalah bar kecil yang sedikit beruntung. Masih ada bar yang lebih besar dan megah tapi mereka tutup.
Kehadiran para prajurit memberikan berkah tersendiri bagi mereka. Kelihatannya gaji para tentara cukup besar. Mereka memborong seluruh menu yang tersedia di dapur bar!
Di sebuah meja, dua orang sedang bercakap-cakap. Tidak ada yang berani mendekati mereka. Kedua orang itu adalah Eugene yang sedang menenggak sebuah anggur madu hangat. Duduk di depannya, adalah James, yang sedang melakukan hal yang sama.
"Jadi.... Eugene ya? Terimakasih banyak. Berkat dirimu, kita bisa menaklukan wilayah ini dalam jangka waktu yang relatif cepat."
"Anda terlalu menilai Tinggi saya, kapten James. Ini semua berkat tentara kerajaan yang berani menyusup di malam hari pada waktu itu. Saya hanya kebetulan melawan ksatria tua bernama Gram itu. Meski sebenarnya.... itu cukup pahit."
Eugene akhirnya mengerti kalau Gram hanyalah seorang ksatria veteran yang berusaha sekeras mungkin melindungi apa yang berharga baginya setelah mendengar cerita dari salah satu tawanan perang. Sejujurnya, dia tidak mau melawan seseorang seperti dia.
"Yah, aku mengerti apa yang kau pikirkan. Aku juga telah mendengar ceritanya. Memang pahit untuk melawan patriot seperti Gram. Tetapi kita perlu melakukan hal itu."
Eugene dan James sama-sama tersenyum pahit. James sendiri sering mengalami hal seperti ini di Medan perang. Ini pertama kalinya untuk Eugene, jadi dia mungkin belum terbiasa.
__ADS_1
"Entahlah. Kalau begini ceritanya mungkin aku akan membenci perang. Tetapi tanpa peperangan, kualitasku sebagai seorang prajurit mungkin tidak akan berkembang."
Tanpa disadari, keduanya ternyata cepat akrab. Mereka sudah kehilangan formalitas satu sama lain. Gaya bicara mereka lebih santai sekarang.
Di saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba seseorang mendatangi mereka. Dilihat dari pakaiannya, orang ini seperti musafir. Tapi hei, siapa musafir yang mau berpergian di tengah musim dingin seperti ini!?
"Maaf kalau saya menganggu, bolehkah saya duduk bersama kalian?"
James dan Eugene saling memandang. Orang ini jelas sangat mencurigakan. Tetapi tidak tanda permusuhan. James dan Eugene mengangguk bersamaan. Mengizinkan musafir itu untuk duduk.
Seorang pelayan wanita membawakan segelas anggur hangat yang dicampur oleh madu untuk musafir itu. Ia membuka tudungnya dan mengucapkan terimakasih. Dia juga memberikan satu koin perak untuk uang tip. Cukup besar untuk sekedar tip.
"Ah maafkan saya jika mengganggu kalian. Saya belum makan semenjak tadi siang dan ini adalah satu-satunya bar yang masih buka malam ini."
"Tidak ada masalah. Silahkan menikmati hidanganmu. Kita akan pergi dari sini jika kau butuh kesendirian."
James dan Eugene tadinya ingin pergi tapi tidak jadi. Tidak berapa lama kemudian, seorang pelayan mendatangi meja mereka lagi dan membawa sebuah makanan berupa steak daging babi panggang.
Musafir itu sepertinya benar-benar lapar. Ia dengan lahap menghabisi makanannya.
"Ngomong-ngomong...apa kau seorang musafir?"
Mungkin tidak tahan dengan kesunyian yang terjadi, James memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Bisa dibilang seperti itu. Aku berasal dari Grand Aria. Tapi itu sudah cukup lama. Aku tidak tahu apakah tempat itu masih ada sekarang."
Mendengar itu James hanya mengangkat bahunya. Dia adalah komandan dari markas tentara di perbatasan. Tentu saja dia tidak mengatakan hal itu kepada orang asing ini, tetapi pada dasarnya ia mengerti garis besar yang terjadi di Grand Aria.
"Secara tertulis, mungkin iya. Tetapi kekacauan benar-benar terjadi di sana. Perebutan kekuasaan masih terjadi dan kekuatan nasional mereka terbagi dalam tiga fraksi."
Eugene sedikit mengerutkan keningnya ketika James mengatakan hal itu. Ia mendekati mulutnya ke telinga James dan berbisik.
"Apakah tidak masalah memberitahu informasi seperti itu padanya, kapten James?"
"Tidak ada masalah. Itu hal yang umum dan bukan hal yang rahasia. Dia sudah lama pergi dari tanah kelahirannya. Tidak ada salahnya jika kita memberikan sedikit informasi kepadanya."
Sementara mereka berbisik, musafir itu terlihat cuek dan terus menghabiskan makanannya. Setelah selesai, dia berbicara lagi sebentar kepada mereka berdua, berterimakasih, lalu pergi dari bar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di jalanan Savoy yang sepi, seorang lelaki berjalan menembus malam yang dingin. Dia tidak mengingil. Namun setiap kali dia bernafas, mulutnya mengeluarkan asap.
Ada satu tempat yang ingin ia tuju. Tetapi di tengah perjalanan, ia menemukan beberapa sosok orang yang sedang berjalan seperti dirinya. Berlawanan arah. Ia terlihat masa bodoh dengan hal itu. Tetapi semuanya berubah ketika dirinya mendadak diserang.
20 orang. Orang sebanyak itu tiba-tiba muncul dari kegelapan malam dan menyerang dirinya. Dia terlihat tidak melakukan perlawanan apapun. Orang itu hanya mengangkat tangannya dan menjentikan jarinya.
Seketika, 19 orang dari mereka tewas dengan kepala meledak. Otak mereka tersebar di jalanan. Hanya ada satu orang yang masih hidup. Ia terpental karena ledakan yang terjadi karena jentikan tadi dan tidak sadarkan diri sekarang.
__ADS_1
"Skill mengendap dan bertarung kalian luar biasa. Tetapi kalian sedang apes. Well, kalian salah memilih lawan. Itu saja."
Setelah melakukan monolg, ia langsung pergi dari tempat itu. Bersama dengan orang yang tidak sadarkan diri tadi.