
Peperangan akhirnya selesai ketika malam tiba. Karena hari sudah gelap sementara fasilitas pencahayaan di Pesa tidak sebaik yang ada di Venz, ratu Aurellia akan memasuki Pesa di keesokan harinya. Sekarang, ia tetap berada di garis belakang setelah kelelahan karena harus mengatur banyak hal.
Warga sipil segera di evakuasi. Mereka dibawa ke sebuah bangunan semi permanen yang ada di luar Pesa dan akan tinggal di sana untuk sementara waktu. Sementara para beastmen yang telah menyerah dan menjadi tawanan di bawa ke sebuah penjara bawah tanah istana kerajaan Garlin dan ditahan di sana.
Meskipun diperlakukan dengan dingin oleh sipir penjara, para tawanan mendapatkan perlakuan yang relatif baik. Mereka diberikan makan dan alas serta selimut untuk beristirahat. Karena kelelahan, mereka segera jatuh tertidur.
Sementara di jalanan Pesa, para tentara sedang berpatroli dan mengantisipasi adanya pemberontakan yang mungkin saja berasal dari loyalis Boabdil. Ia sendiri sekarang beristirahat di tenda medis setelah mendapatkan pengobatan dari tim medis tentara kerajaan.
Issac sedang berjalan-jalan di Pesa. Tidak sendirian, Marina menemaninya. Berkat bujukan oleh para gadis, Marina setuju untuk bergabung dengan kerajaan Heinz dengan syarat kalau Boabdil akan dibiarkan hidup. Issac tidak keberatan dengan itu.
Banyak informasi strategis yang bocor ke pihak kerajaan berkat dirinya. Hal itu meliputi kekuatan militer kerajaan Garlin, total prajurit yang siap berperang, cadangan logistik yang mereka miliki, dan banyak lainnya.
Karena itulah, penaklukan Pesa menjadi lebih mudah berkat dirinya.
"Aku tidak menyangka kalau orang yang kaku sepertimu akan bergabung dengan kami. Yah, aku bersyukur sih. Tetapi aku juga tidak naif. Tujuan utamamu pasti adalah sesuatu yang lebih besar lagi kan?"
Marina mengangguk. Harus diakui kalau ia bergabung dengan kerajaan bukan hanya karena ingin menyelamatkan hidup Boabdil. Lebih dari itu, ia ingin menyelamatkan nasib para beastmen.
Awalnya ia yakin kalau dirinya bisa menang melawan kerajaan Heinz. Itu semata karena dirinya kekurangan informasi. Selama ini ia hanya mengandalkan informasi dari para pengintai yang beraksi di perbatasan. Tetapi setelah melihat sendiri kekuatan kerajaan Heinz, mereka yakin bahwa kerajaan Garlin tidak akan memiliki kesempatan untuk menang.
"Daripada terus memaksakan diri untuk berperang dan mengalami kekalahan yang jauh lebih mengerikan, membuat kesepakatan dengan kepala staf istana tidak terlalu buruk."
Marina mengatakan itu dengan santainya. Ia tajam seperti biasanya. Issac mengaggumi bakatnya dalam urusan internal seperti ini. Benar-benar kontras jika disandingkan dengan Boabdil yang bersumbu pendek.
"Mari kita bicarakan soal kesepakatan nanti. Sekarang, aku mendapatkan informasi bahwa sebuah entitas di luar kekaisaran Elf dan kerajaan Dwarf ikut campur dalam peperangan ini. Apa itu benar?"
Marina terkejut tapi ia segera menenangkan diri. Issac membaca kekagetan Marina. Ekor dan telinga rubahnya terlihat sangat menggemaskan ketika ia sedang terkejut. Jadi Issac mengelus kepala Marina dengan lembut.
"Maaf saja, tapi jaringan intelejen yang aku miliki jauh lebih luas dan lebih dalam daripada yang kau bayangkan. Sudah menjadi tugasku untuk mendapatkan berbagai informasi penting demi mengamankan kekuasaan ratu dan membuat kerajaan semakin kokoh."
"Itu luar biasa. Tapi yang terpenting singkirkan tanganmu dari kepalaku Bajingan Playboy! Jangan sentuh.....huh?"
Sebuah belati yang terbang hampir saja mengenai jantungnya, tetapi katana Issac lebih cepat dari belati itu dan menangkisnya hingga terpental jauh. Saat itulah, Marina merasakan kehadiran banyak orang. Mungkin lebih dari seribu. Mereka berasal dari balik reruntuhan ataupun sudut-sudut gelap di Pesa.
__ADS_1
"Kayaknya kita kedatangan tamu yang tidak diundang. Marina, berdiri di belakangku. Kau tidak terlalu ahli dalam bertarung kan?"
Marina tidak punya pilihan. Jika ia ikut bertarung, dirinya justru hanya menjadi beban. Satu-satunya cara untuk menghindari itu Marina mau tidak mau harus menuruti Instruksi Issac.
Lalu dari balik tembok, sekelabat bayangan terbang ke arah mereka. Namun dalam waktu yang singkat, kelebat bayangan itu dipenuhi oleh darah segar. Issac telah membunuhnya tanpa menyentuh bayangan itu.
Melihat rekannya yang tewas, mereka semua segera keluar. Seperti yang Marina rasakan, mereka berjumlah lebih dari seribu orang dan telah mengepung dirinya serta Issac. Berbeda dengan Marina yang gemetar, Issac malah tersenyum. Akhirnya keluar. Itulah yang terlintas di kepalanya.
"Betapa beraninya. Seorang kepala staf istana kerajaan Heinz berkeliaran di kota ini hanya dengan dua orang tanpa pengawalan. Tenang saja. Tidak akan ada satupun prajurit yang datang membantu kalian. Seluruh area ini telah dipasangi barrier yang mengahalangi persepsi seseorang."
Salah satu pria yang mungkin bertindak sebagai pemimpin kelompok ini berdiri di atas sebuah gedung yang masih kokoh. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup tudung. Tetapi Issac bisa tahu kalau orang itu adalah laki-laki.
"Menarik. Jadi informasi itu benar. Kerajaan Garlin telah membentuk kesepakatan rahasia dengan kekaisaran Moskov. Dan jika hal buruk terjadi kalian akan bertindak seperti ini ya? Luar biasa."
Tidak mengatakan apapun lagi, ia memberikan sinyal kepada prajuritnya untuk segera membunuh Issac dan Marina. Semua bawahannya dari atas, depan, belakang, kiri, dan kanan menyerbu dua orang malang yang tidak bisa berbuat apapun.
Namun mereka tidak tahu kalau kemalanganlah yang akan menimpa mereka. Hanya dengan satu jentikan jarinya, semua orang yang berada dalam jangkauan sepuluh meter di sekelilingnya, kecuali Marina, langsung hancur berkeping-keping.
Sebuah lingkaran besar muncul di langit. Hujan api hitam mengguyur kota dan menyerang gerombolan orang itu tanpa ampun. Setiap orang yang berdiri di sana benar-benar terbakar oleh api ilahi dan tidak bisa dipadamkan. Dalam waktu singkat, semua orang yang terbakar telah mati.
"Cih, siapa kau sebenarnya! Apa kau adalah iblis!? Tidak, seperti yang dikatakan oleh para Bishop dari kuil dua belas dewi di kerajaan Heinz, kau adalah utusan dewa jahat kan!?"
Sang pemimpin yang melihat bagaimana anak buahnya di bantai tanpa sisa dengan cara yang menakutkan jatuh dalam kebingungan. Ia tidak pernah berpikir seorang kepala staf seperti Issac memiliki kekuatan yang sangat mengerikan.
"Yang Iblis itu kau kan? Aku sudah curiga daritadi. Sepertinya darah yang mengalir tubuhmu mengandung darah para iblis kan? Kelihatannya kau mentransfusi darah iblis ke tubuhmu ya? Ini lebih menarik dari yang aku bayangkan."
Orang itu terlihat sedikit bergidik. Tapi sejenak kemudian, tawa yang menjijikkan keluar dari mulut orang itu.
"Hahahaha! Benar! Ini adalah darah iblis yang mengalir di dalam tubuhku! Berkat darah ini, aku menjadi sangat kuat! Tidak peduli jumlah orang yang aku hadapi, seribu atau sepuluh ribu orang, mereka semua tidak cukup untuk mengalahkanku!"
Dengan angkuh ia mulai melesat ke arah Issac dengan sebuah pedang di tangannya. Sangat cepat! Bahkan tanpa kekuatan sihir penguat, dirinya bisa bergerak secepat itu.
Tetapi Issac telah muncul dihadapannya. Matanya yang menyerah menyala sama sekali tidak memperlihatkan setitik pun rasa takut. Ia meninju wajah orang itu dengan pelan. Tapi dampaknya mengerikan.
__ADS_1
Ia langsung terpelanting dan berputar-putar di udara dan jatuh ke tanah dengan sangat kencang. Saking kencangnya tanah itu hancur dan kepulan debu terbentuk.
Tetapi dari sana, sebuah pedang kecil terbang ke arah Issac dengan kecepatan seperti proyektil yang ditembakan dari senjata api. Lambat. Issac berhasil menangkapnya hanya dengan dua jari.
"Pengalihan seperti ini.... tidak akan bisa mengecohku."
Dan dari belakang, orang itu muncul dan mengincar leher bagian kiri Issac. Tetapi ayunan pedangnya ditahan dengan tangan kosong. Merasakan bahaya, ia segera mundur. Untungnya berhasil. Tapi ia harus mengorbankan tangan kanannya karena cengkeraman Issac pada bilah pedangnya sangat kuat.
Sekuat tenaga, ia menyerang Issac dengan sihir petir dan serangan jarak dekatnya. Tapi setiap kali ia melemparkan tombak petir ataupun setiap kali ia menebaskan pedangnya, tidak ada satupun yang bisa mengenai musuhnya.
Frustrasi karena itu, kemarahan memuncak dalam dirinya.
"Si-siapa kau sebenarnya! Tidak peduli seberapa besar aku menggunakan kekuatanku, semuanya tidak bisa mengenai dirimu! Bajingan!"
"Siapa aku? Sudah jelas kan? Aku Issac Starfall. Kepala staf istana kerajaan Heinz. Kenapa kau bertanya lagi? Oh, sepertinya sudah saatnya."
Ia tidak mengerti apa yang Issac maksud. Tetapi sedetik kemudian, rasa sakit yang sangat besar menyerang dirinya. Darahnya bergejolak dan tulang-tulangya terasa seperti sedang remuk satu persatu. Tidak kuat menahan rasa sakit itu, dirinya berteriak.
"Darah iblis adalah darah yang sangat kuat. Jika tidak memiliki kecocokan, orang yang menerima darah itu pasti akan langsung mati. Mungkin tubuhmu cocok, tetapi untuk menahan kekuatan iblis yang terus meningkat, kau pasti membutuhkan semacam serum obat yang harus kau konsumsi kan?
"Sayangnya, kau terlalu banyak mengeluarkan kekuatan iblis tanpa menggunakan serum itu. Hasilnya, kau sekarang kesakitan. Tubuhmu mulai tidak kuat untuk menanggung beban itu dan kau akan mati."
Lama-kelamaan, tubuh orang itu mulai mencair. Apa yang Issac katakan benar karena tubuhnya berubah menjadi bentuk yang aneh. Perlahan, kehidupannya mulai hilang dan pada akhirnya, pria itu mati dengan mengenaskan.
"Mengganggu pemandangan. [Clean]. Nah sekarang sudah beres. Oi Marina, ayo kita pergi dari si....huh?"
Marina tanpa sadar memandang Issac dengan ekspresi ketakutan. Malam ini, ia seperti melihat seorang dewa kematian yang turun dari alam ilahi dan menebarkan ketakutan di hati setiap manusia. Tidak peduli kemanapun ia pergi, dimana pun ia berjalan, kematian pasti akan mengikuti di belakangnya.
"Jangan memasang wajah seperti itu, Marina. Kau tahu....aku mungkin sudah lama berhenti menjadi manusia. Tenang saja, aku masih menyisakan rasa kasih sayang jadi jangan takut. Aku tidak akan membunuh mereka yang tidak layak untuk dibunuh."
Marina menelan ludahnya. Bagaimana bisa ia dengan santai mengatakan hal seperti itu? Tetapi entah kenapa ia percaya padanya.
Malam itu, mereka mengorek informasi berharga dari bukti yang para mayat tinggalkan di sebuah gudang.
__ADS_1