
setelah malam teror yang cukup mengerikan itu, akhirnya matahari mulai mengintip dari ufuk timur. hahh sudah pagi ternyata. aku cukup kelelahan sekarang. daritadi malam aku asik menonton orang-orang bodoh itu saling menyiksa satu sama lain.
awalnya aku berpikir untuk membiarkan orang yang sepertinya menjadi tangan kanan pemimpin penyusup itu membunuh menusuk dan mencabik bawahannya satu persatu. tapi seiring waktu berjalan, ternyata itu tidak asyik. jadi aku gunakan saja mereka semua untuk menyiksa satu sama lain.
dan hasilnya...ah sudahlah. aku tidak mau membahasnya. sepertinya karena amarah ku terlalu besar kemarin, aku jadi lepas kendali sehingga tanpa sadar menghabisi mereka. lain kali nggak lagi deh!
saat matahari telah naik, aku memutuskan untuk meninggalkan mereka. tentu saja setelah membakar mayat mereka dan menyisakan satu untuk barang bukti. sekarang, aku ingin menjenguk kakakku dan tuan putri terlebih dahulu. semoga kondisi mereka telah membaik.
aku juga berpikir untuk memikirkan hukuman yang tepat bagi pemimpin penyusup itu. hmmm apa ya? oke, mari kita pikirkan itu nanti! yang terpenting adalah memastikan keselamatan mereka!
****
Is!! Syukurlah kau baik-baik saja! aku sungguh mengkhawatirkan mu!" Dengan berlinang air mata, Kak Sasha memeluk ku. begitu juga dengan kak Misha. dia menangis sih, tapi lebih kalem.
"Putri Aurellia, anda tidak ingin menangis juga? tidak apa-apa lho, saya tidak akan membocorkan nya pada siapapun."
Putri Aurellia membuang muka sambil mendengus. "Hmpph, aku bukan anak kecil!"
wahh ternyata putri juga bisa mempunyai ekspresi ngambek yang serius. itu imut jadi jangan terlalu sering dipamerkan oke? atau aku akan mencubit kedua pipimu!
aku menepuk dua kepala kakak ku untuk menenangkan mereka. yah, ku pikir ini adalah pertama kalinya mereka berhadapan dengan musuh yang lebih kuat dari mereka jadi mungkin akan ada perasaan bahwa mereka masih lemah dan akan berlatih lebih keras lagi agar mereka semakin kuat.
ini jauh lebih baik bagi mereka daripada terjebak di dalam penjara yang bernama kesombongan. mau bagaimana-pun mereka masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. begitupun aku, Putri Aurellia, dan lainnya.
nah sepertinya mereka sudah cukup tenang dan ingin mengatakan sesuatu. mari kita dengarkan.
"Terimakasih Is, berkat mu kami masih bisa hidup sekarang. a-aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau tidak datang di saat seperti itu."
__ADS_1
aku tersenyum mendengar terimakasih dari kak Misha. astaga, jika kau dalam bahaya aku pasti akan datang menolong mu!
"Itu berkat kalian bertiga juga. saat aku datang ke sana sepertinya mereka sudah kelelahan jadi aku..."
"Jangan bermain Bodoh Is!" Ehhh Kak Sasha memotong kalimat ku. yahh pasti dia sudah menyadari sesuatu sih.
"Kau itu lebih kuat daripada kami kan!? kenapa selama ini kau selalu menahan diri!? padahal selama ini a-aku, aku..."
Waduhh, Kak Sasha mulai menangis lagi! aku kurang lebih paham apa yang ingin dia katakan. selama ini dia terus berlatih agar bisa terus melindungi ku. itulah kenapa dia selalu memasang front yang kuat di hadapan ku.
mungkin melihat adiknya yang ternyata lebih kuat daripada dirinya membuat Kak Sasha merasa bahwa semua latihan yang dia lalui sia-sia.
aku membawa kak Sasha ke pelukan ku lagi. aku juga menepuk kepalanya dengan lembut. sementara kak Sasha sama sekali tidak menolak. dia menenggelamkan wajahnya ke dadaku. nah dengan ini semoga dia bisa tenang.
Kak Misha juga dengan lembut memeluk ku dari belakang. itu membawa kehangatan tersendiri bagiku.
****
setelah semuanya tenang, aku memutuskan untuk pergi dari tenda darurat yang dibangun oleh para ksatria di kamp rakyat biasa. kali ini aku hanya mengajak tuan putri. sebenarnya bukan begitu sih. lebih tepatnya tuan putri Aurellia lah yang memintaku untuk ikut.
kami menuju ke tempat dimana pemimpin penyusup ditahan. aku sudah meminta komandan Ksatria menjaga orang itu. tapi sebagai tindakan berjaga-jaga, aku mengirimkan Cacha untuk ikut mengawasi si pemimpin penyusup itu.
sekarang inilah dia, bajingan yang telah berusaha membunuh kakak ku dan putri Aurellia. dia sudah berhenti teriak. tapi sepertinya rasa sakitnya belum hilang. tentu saja itu tidak bisa disembuhkan.
Komandan Ksatria daritadi berdiri di belakangnya sementara Cacha, yang sekarang berwujud sebagai anjing kecil, langsung berlari ke arahku dengan manja. Akhir-akhir ini dia benar-benar seperti anjing.
"Nah sia-sia saja kalau kau berusaha untuk menyembuhkan dirimu sendiri dengan sihir. begitu aku mematahkan kaki dan tangan mu, di saat yang sama aku juga menghancurkan bagian dalam tubuh mu."
__ADS_1
dia hanya bisa menggeram. nah aku memang tidak butuh mulutnya. toh orang seperti dia bahkan jika aku mematahkan seluruh anggota tubuhnya juga tidak akan bicara soal siapa tuannya. sebagai gantinya aku akan melakukan ekstraksi pikirannya. tentu saja dengan cara yang amat sangat menyakitkan!
aku mengeluarkan sebuah bola dari sihir ku. itu berwarna ungu. bola itu kemudian masuk ke dalam kepalanya dan dengan itu dimulailah proses ini.
hmmm? ini aneh. aku sepertinya melihat seorang berjubah hitam seperti sedang memberikan khutbah kepada para jamaah nya. tunggu...orang ini bukannya Sangat mirip dengan orang yang membayar White Goat untuk membunuh bangsawan random pada saat turnamen?
lalu khutbah apa yang dia berikan? karena aku penasaran aku mendengar nya dengan fokus. Eh, dia menyebut dewa Hades? apakah termasuk salah satu sekte yang menyembah dewa Hades?
tunggu dulu...kenapa orang ini memerintahkan para penyusup untuk membunuh para bangsawan? apakah karena mereka dianggap sebagai utusan 12 Dewi suci? sepertinya itu masalahnya.
cih. tapi informasi itu saja yang bisa aku dapatkan dari mereka. sepertinya mereka memang memiliki sihir khusus untuk menyegel ingatan Orang lain.
(aku tahu kau ingin bertanya banyak hal. baiklah aku akan menjawabnya. tapi tidak sekarang)
baiklah kalau itu adalah kehendak dewa Hades. tetapi sebagai gantinya aku akan menyelidiki mereka terlebih dahulu. aku telah mengingat interior bangunan yang mereka gunakan sebagai tempat penyembahan. karena melibatkan masalah keilahian seperti ini, aku yang akan bertindak sendiri dan tidak akan mengandalkan VIESTA.
"Percuma. orang ini telah dipasangkan segel khusus yang memblokir ingatan mereka dibaca oleh orang lain. Komandan Ksatria, aku minta kau membereskan sisanya. orang ini tidak akan bisa lagi bergerak apalagi menyerang mu."
Komandan Ksatria mengangguk. tentu saja aku sudah memberikan hukuman yang menyakitkan baginya. itu adalah Ilusi Neraka. dia akan merasakan rasa sakit terus menerus bahkan setelah dirinya mati.
"terimakasih Issac kau sudah menolong kami. aku tidak tahu lagi apa balasan yang tepat untuk membayar semua kebaikan mu."
aku menggeleng sambil tersenyum.
"Tidak perlu tuan putri. anda adalah sahabat yang berharga. lagipula jika tuan putri kenapa-napa, saya akan merasa sangat sedih."
kami yang sedang berjalan menuju kamp sebelah berhenti sejenak. putri terlihat ragu sejenak tapi segera memeluk ku. uhh hangatnya!
__ADS_1
yahh dengan ini kami melanjutkan berjalan menuju kamp rakyat biasa. tentu saja, sambil bergandengan tangan.