
Faham merasa bingung sama halnya dengan Yuda mereka berdua tidak mengerti bagaimana caranya merayu seorang wanita agar mau mengikuti ucapan mereka para wanita hanya bisa menangis tanpa mau menjelaskan apa terjadi jadi para laki-laki merasa kebingungan dalam menghadapi wanitanya.
Ana melihat Fiani yang masih terbaring lemah entah lah dia merasa sangat kasihan pada Nona mudanya.
"Ana.. " ucap Fiani.
Ana tersenyum sebenarnya ia ingin menangis tapi ia mencoba untuk menahan kesedihannya walaupun Ana hanyalah tangan kanan Fiani namun dia juga merasakan rasa sakit jika Nona mudanya sakit.
"Nona... Apa yang terjadi pada Nona?" Fiani hanya tersenyum saja tidak menjawab pertanyaan dari Ana.
"Apa ini ada hubungannya dengan Tuan Muda? " tanya Ana mencoba menebaknya.
"Benar, apa kau tau sebenarnya aku hanya ingin mempertahankan bayiku saja namun semua orang tidak mengizinkannya." Ana baru tau pasti ini sebabnya Tuan mudanya di depan sangat murung apa dokter juga memintanya untuk menggugurkan bayinya? Kasian Nona Fiani baru saja dia ingin mendapatkan kebahagiaan namun di sisi lain kebahagiaan itu harus di hancurkan.
"Nona mungkin saja dokter mengatakan hal itu karena mungkin saja jika Nona terus mempertahankan janin Nona maka resikonya sangat besar apalagi Nona kan sekarang sedang sakit. "
"Nona apakah Nona ingin mempertahankan janin Nona? Nanti saya akan mengatakannya pada dokter, Nona tenang saja ya." Tak berselang lama Lisa datang untuk menengok keadaan temannya namun belum saja berucap Ana segera menarik lengan dokter Lisa dan membawanya untuk menjauh, sedangkan Fiani yang melihat nya hanya bisa pasrah saja semoga saja Ana bisa membujuk Lisa.
"Ana ada apa? Kenapa kau membawaku menjauh?" tanya Lisa.
Fiani memandangi kedua orang sahabat baiknya sedang berbincang.
__ADS_1
"Coba kau katakan separah apa ke adaan Nona mudaku hingga janin yang ada di rahim nona muda tidak bisa di pertahankan?" Lisa tersenyum ternyata Ana membawanya untuk menjauh dari Fiani gara-gara ini.
"Ke adaan Fiani saat ini sangat lemah, aku takut jika kehamilannya terus di pertahankan makan nyawanya akan terancam. Aku tidak ingin kehilangan dia. Kau paham kan!" Ana juga bingung harus bagaimana tapi Fiani bersikeras ingin mempertahankan janin yang ada di rahimnya apakah tidak ada cara lain?
"Tapi apakah tidak ada cara agar keduanya dapat di selamatkan, aku saja kasihan dengan Tuan Muda tampaknya dia juga bingung harus bagaimana."
"Sebenarnya ada satu cara sih dia harus di rawat selama kehamilannya di rumah sakit ini agar aku tau perkembangan nya bagaimana." Ana tersenyum setidaknya ada cara agar nona mudanya tersenyum bukan.
"Tapi ini sangat beresiko besar, kau harus menemaninya." Ana mengangguk.
Ana mempersilahkan Lisa untuk memeriksa Fiani. Melihat sahabatnya terbaring seperti ini dia sudah sangat kasihan.
"Fiani, apa kau sudah mendapatkan keputusan? Jika tidak maka aku akan menemui suamimu." tegas Lisa pada Fiani.
Lisa memegang tangan Fiani. " Pasti akan ada cara, kau istirahatlah aku akan menemui suamimu untuk membicarakan hal ini." Fiani tersenyum. Lisa segera meninggalkan ruangan tampak ada raut kecemasan di wajah Fiani. Ia takut jika suaminya masih saja tidak menginginkan janin di dalam rahimnya.
"Ana apa sebaiknya kita..."
"Nona jangan aneh aneh yakin pada Lisa, pasti dia akan membantu kita." Terang Ana.
"Lebih baik Nona tidur lah, biar saya menjaga Nona disini. " terang Ana Fiani segera menutup matanya rasanya badannya sangat sakit semua.
__ADS_1
Di sisi lain Faam yang bingung pun masih memandang kearah Yuda, semoga saja istrinya tidak membencinya karena keputusannya.
"Am.. Bisa bicara sebentar ini mengenai istrimu, apa kau sudah mendapatkan jawaban?" tanya Lisa. Ana pun keluar sebenarnya ia malas jika harus melihat wajah Yuda namun Nona mudanya butuh istirahat.
"Aku bingung harus bagaimana? Di sisi lain aku harus mengorbankan anakku namun di sisi lain istriku juga ingin mempertahankan janin yang ada di dalam rahimnya. Apa yang harus aku perbuat aku tidak ingin kehilangan keduanya apalagi salah satunya." terang Faam.
"Tapi jika kau tidak mengambil keputusan kasihan Fiani. Aku tau pasti berat memutuskannya. Tapi kau harus memutuskan." Di lain sisi Fiani mendengar ucapan mereka dari balik pintu. Dari tadi dia hanya berpura-pura tidur ia mengumpulkan seluruh tenaganya untuk bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku harus memutuskan walaupun berat bagiku, aku....
" Suamiku jangan lakukan itu jangan ambil anakku dariku. "
"Aku memilih istriku...
" Tidak!! Kau tidak boleh melakukan ini suamiku tidak, Tidak.. Ti..... Dak...!!!" Fiani tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi dan akhirnya dia pun tumbang sebelum mendengar semua nya. Hatinya sudah tidak sanggup lagi mendengar jika suami nya ingin mengambil buah cinta mereka.
"Tapi aku juga tidak bisa merenggut kebahagiaan istriku dengan memaksanya untuk menggugurkan janin nya, aku kasihan padanya. .
" Ana.. " Yuda memanggil Ana namun karena merasa sangat malas jika harus menghadapi Yuda maka Ana pun segera masuk namun baru juga dia membuka pintu Ana melihat Fiani yang sudah pingsan tepat di hadapannya.
"NONA!!!! " teriak Ana membuat semua orang yang ada di sana segera menghampiri Ana, begitu terkejutnya Faam melihat istrinya yang lagi lagi pingsan, apakah tadi istrinya mendengar pembicara mereka?
__ADS_1
Faam pun segera menggendong tubuh lemah istrinya menuju tempatnya lagi. Lisa menyuruh semua orang untuk keluar agar dia bisa tau keadaan Fiani yang sebenarnya.
Tak berselang lama Lisa pun keluar dengan raut wajah yang muram, bagaiman pun dia harus mengatakan nya terutama pada Faam tentang keadaan Fiani.