
Fiani hanya ikut saja. Apakah suaminya tengah cemburu?
Padahal dia kan tau jika dia sudah menjadi miliknya.
Cemburu tanpa alasan.
Dasar!
"Kau kenapa sih!" Fiani merasa tidak paham kenapa dengan pria ini.
"Tidak," dengan memperlihatkan wajah setengah sebal, cemburu tidak beralasan.
"Apa kamu cemburu?" tanya Fiani dengan sedikit menggoda Faam.
"Hah, cemburu padamu tidak lah."
"Jika kamu cemburu tidak apa kok, kan kamu suamiku ya kan."
"Nih istriku bikin orang susah nolak aja, kan aku jadi serba salah gini. Ah dasar, tapi tadi itu aku cemburu kah? Haduh malu maluin dasar." Faam menepuk jidat nya karena ulahnya sendiri.
"Udah deh udah, kamu juga malah makan di sibuk bukannya langsung pulang." ucap Faam sebal sendiri.
"Suami ku ini kenapa sih, istrimu ini kan lagi ingin makan yang pedas pedas."
"Sayang... Kamu tau kan kalau kamu ini lagi hamil. Jadi jangan aneh aneh deh."
__ADS_1
"Iya deh iya maaf!!"
Fiani tampak lesu di pojokan.
"Maaf kan aku sayang, bukannya aku ini ingin mengekang mu, tapi aku hanya tidak ingin kamu menemui pria itu. Aku memang cemburu apalagi saat Wulan mengatakan jika seorang pria ingin menemui mu. Hah rasanya hati ini merasa tidak ikhlas akan hal itu."
"Kenapa dengan pria rese ini, apakah aku mempunyai hubungan khusus dengan pria itu nyatanya pria rese ini sampai cemburu seperti ini."
"Tuan, Nona" Faam baru sadar sejak tadi kan ada obat nyamuk di belakang mereka.
"Dasar para bucin marahannya bakalan lama enggak ya?"
"Ana, sekarang kamu harus menjaga bumil yang tidak bisa di beritahu ini." ucap Faam sambil melirik Ana lewat kaca depan.
"Kau ini kenapa sih, kamu juga keterlaluan kok."
Faam menatap tajam mata istrinya.
"Aku? Keterlaluan? Kenapa kamu bisa bilang seperti itu? keterlaluan apa?" tanya Faam yang ingin tahu.
"Kamu! Kan tadi Wulan sudah mengatakan jika ada... " Faam menatap mata Fiani dia merasa sebal masa dia tidak tau jika suaminya ini sudah cemburu buta.
Dasar wanita tidak pernah mengerti perasaan pria.
"Ada mantan pacarmu gitu, lalu apa kamu masih sayang padanya itu kan yang ingin kamu katakan pada ku!" Fiani merasa bersalah bukannya dia ingin menyinggung perasaan suaminya tapi kan dia juga butuh bantuan. Mana tau dengan kedatangannya pria itu bisa sembuhkan.
__ADS_1
"Bukan.. Bukan itu maksudku!" ucap Fiani mencoba untuk menjelaskan jika dia hanya kasihan.
Bagaimana mungkin ada cinta di antara dia dan pria itu sedangkan dirinya sendiri pun tidak ingat apapun.
"Sudahlah sebaiknya kamu jangan membuat ku semakin cemburu padamu." ucap Faam membuat Fiani tertawa kan dirinya cemburu.
Cie yang lagi cemburu 😂.
"Nona selalu saja tidak berubah, Tuan Faam kan cemburu berat eh Nona selalu saja menggoda Tuan, tapi siapa? Siapa Pria yang di maksudkan oleh Tuan Faam. Coba ingat ingat apakah dulu Nona menceritakan hal hal lain selain hal yang sudah di ketahui oleh Tuan Faam. " Ana mencoba untuk mengingat ingat.
"Haduh nih cowok rese, cemburu yoh rupanya."
"Kamu bilang apa tadi? Coba ulangi?" ucap Faam sebal sendiri.
"Aku bilang jika kamu itu cowok rese dan pecemburu."
"Kamu bilang sekali lagi awas kau... " Ancam Faam membuat Fiani menjulurkan lidahnya karena dia tidak memperdulikan Faam yang sedang cemburu akut.
"Sudahlah Tuan, nanti Nyonya mencari kalian berdua." ucap Ana membuat Faam menyadari jika ibu Faam pasti menghawatirkan keadaan menantunya yang sedang hamil muda.
"Kali ini kamu bisa menang istriku yang usil tapi lain kali awas saja kau... " ucap Faam mengancam.
"Idih."
"Benar-benar jadi obat nyamuk nih aku"
__ADS_1