Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Curiga


__ADS_3

Faam sudah lelah berkeliling namun tidak menemukan seseorang yang ia cari. Kemana gadis itu kenapa disaat seperti ini dia menghilang?


Padahal tadi dia bilang jika dia akan datang ke mari jika Faam membutuhkannya tapi sekarang saat dia membutuhkan dirinya, dirinya pun hilang entah kemana.


Fiani dan Ana sudah pulang, walau bagaimana pun tidak bisa di pungkiri mata Ana masih sembab karena menangis.


Fiani pun tidak bisa mengelak jika nanti saat Faam pulang Ana matanya sembab seperti itu apa yang harus dia katakan pada Faam?


"Ana... " ucap Fiani pada Ana.


"Kenapa kau masih saja menangis? " tanya Fiani pada Ana yang masih tidak bisa menahan air matanya.


"Bagaimana mungkin saya bisa menahan air mata saya Nona, jika saya mengetahui bahwa Nona Fiani seperti itu bagaimana mungkin saya bisa menyembunyikan kesedihan saya Nona." ucap Ana tanpa sedikit pun berbohong. Tidak di pungkiri lagi dia juga hanya seorang manusia biasa yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya apa lagi tentang penyakit yang di cerita Fiani. Semoga saja Faam akan tau dengan sendirinya jika Nona Fiani sakit. Jadi dia tidak perlu repot-repot menjelaskan tentang keadaan Nona Fiani karena menjelaskan nya saja sudah membuat air matanya nanti ter kuras apalagi jika ini menyangkut nyawa seseorang.


"Diam lah jika tidak suaramu bisa membuat seisi rumah ini dengar," pekik Fiani yang segera membungkam mulut Ana.


Tak berselang lama Faam pun datang dan betapa terkejutnya dia saat melihat Ana yang matanya sembab, apa yang di katakan Xi tadi memang benar, apa yang Fiani sembunyikan padanya, kalo ini dia harus menyelidikinya tapi Fiani tidak boleh sampai mengetahuinya.


Faam harus bertanya pada Xi tentang hal ini.


"Fia, kau apakan asisten mu?" tanya Faam masih bersikap biasa saja.


Padahal sebenarnya dia sangat khawatir mengingat jika sampai terjadi sesuatu pada Fiani pasti dia yang pertama kali merasa kehilangan.


" Kenapa dia memandangi ku seperti itu?" tanya Fiani ingin tahu biasa nya juga Faam akan bersikap biasa saja kenapa pandangan matanya memperlihatkan kecurigaan?

__ADS_1


"Ku apakan? Hey aku bukan orang yang asal mukul orang tau. Kau tanya saja kenapa dia kan aku bukan ibunya yang tau segalanya." Jelas Fiani dengan sedikit bercanda.


"Dasar bocah bakal, aku tanya baik-baik kau malah bercanda." ucap Faam terkekeh.


"Saya tidak apa-apa Tuan, saya hanya terharu karena hari ini baru hari pertama bekerja dan Nona memberikan saya sebuah gaun yang indah." Faam melirik barang belanjaan Ana dan terlihat gaun berwarna senada dengan gaun yang besok Fiani pakai untuk acara pernikahan mereka berdua.


"Kau terlalu baik hati ya sayang!" Fiani terkekeh mendengar ucapan Faam.


"Kau baru tau? Hahahaha" Fiani tertawa.


"Tuan, Nona saya pamit." Ana segera meninggal kan kedua pasangan yang besok ingin menikah, sebenarnya Faam khawatir jika sampai sesuatu terjadi mengingat Fiani yang wajahnya kadang pucat dan selalu merasa kelelahan setiap kali dia ajak jalan-jalan.


"Sayang, kau memang terlalu baik jadi orang, kenapa kau membelikan gaun senada dengan gaun kamu?" tanya Faam ingin tau balasan kenapa Fiani melakukan hal itu padahal asistennya baru juga hari pertama bekerja tapi tidak apa lah itu tandanya Fiani menyukai asistennya bukan, hah jangan berprasangka buruk dulu Faam jangan sampai Fiani mencurigai mu.


Fiani memandang Faam kenapa dia menjadi diam? Apa dia memikirkan tentang pernikahannya besok? Atau ada hal lain yang dia sembunyikan kenapa pikirannya jadi kemana-mana? Haduh semoga saja Faam tidak menaruh curiga padanya.


"Ah tidak, aku hanya memikirkan tentang pernikahan kita berdua besok," jelas Faam apa adanya, memang benar dia memikirkan tentang pernikahan dirinya dan Fiani tapi dia juga memikirkan tentang keadaan Fiani mengingat Fiani bisa menyembunyikan apapun padanya. Tapi jika di lihat dia sehat-sehat saja tidak ada sesuatu yang mencurigakan kok tapi kenapa rasa takut kehilangan itu sangat besar semoga tidak ada sesuatu yang terjadi kedepannya.


"Lalu kenapa kau pulang cepat?" tanya Fiani ingin tahu Faam pun tidak dapat mengatakan apapun yang ia pikirkan hanya Fiani gara-gara si Xi dia jadi banyak pikiran. Dia juga takut di tinggalkan oleh Fiani.


"Ah itu, " Faam menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus bagaimana menjelaskan pada Fiani dia cepat-cepat pulang karena terlalu memikirkan tentang keadaan Fiani jadi dia melupakan tentang acara yang tinggal besok.


"Aku hanya kangen kamu saja," Fiani terkekeh apa dia terlalu mencintai dirinya sampai-sampai baru juga di tinggal bentar dia udah kangen saja.


"Kangen!!!" tanya Fiani kembali terkekeh.

__ADS_1


"Baru juga di tinggal bentaran sudah kangen ajah dasar Faam." ucap Fiani seraya mencubit pipi Faam. Faam tiba-tiba memeluk Fiani.


"Kenapa dengan dia? Aku seperti merasakan jika dia sedang bersedih." ucap Fiani dalam hati.


"Entah kenapa aku seakan takut jika kau meninggalkan diriku." Jantung Fiani derdetak kencang entah kenapa rasanya ucapan Fs sm membuat hatinya menjadi tidak menentu dan kenapa sekarang dia jadi takut jika dia sampai benar-benar meninggalkan Faam kenapa dengan perasaannya?


"Kenapa kau berbicara seperti itu? Tidak akan ada yang akan meninggalkan dirimu." Faam semakin memeluk erat dan mendekap tubuh Fiani seakan tidak ingin melepaskannya.


"Kau janji tidak akan meninggalkan aku bukan?" tanya Faam memastikan dia masih terngiang akan ucapan Xi kenapa ucapan Xi membuat hatinya terasa sakit.


Fiani membeku, dia tidak bisa berjanji karena penyakit yang di deritanya semakin hari semakin parah tidak ada yang bisa dia lakukan.


Bagaimana bisa dia berjanji untuk tidak meninggalkan Faam kenapa dia harus berjanji seperti itu bagaimana dia akan menepatinya?


Fiani hanya mengangguk dia harus membuat Faam tidak mengetahui tentang penyakitnya. Kali ini dia harus berbohong walau tidak dengan kata-kata.


"Maafkan aku yang tidak akan pernah menepati janjiku, pasti kau akan mendapatkan cinta yang lebih baik dari pada kau harus menghamburkan cintamu padaku, aku yang sebentar lagi sudah hilang dari hadapanmu, akan selalu menjaga cinta ku. Aku tidak bisa mengatakan jika aku mencintai mu maaf karena mungkin sebentar lagi aku akan melukai hatimu dengan cara yang salah, maafkan aku." ucap Fiani seraya menitipkan air mata, tidak bisa di pungkiri lagi memang Fiani juga mempunyai perasaan yang sama namun perasaan nya itu sengaja dia simpan agar Faam lambat laun bisa melupakan dirinya semoga saja dia bisa terbiasa hidup tanpa dirinya.


Faam melepaskan pelukannya dan mendapati Faini yang menangis kenapa dengan dirinya? Kenapa dia menangis apa mungkin yang di katakan Xi jika Fiani merahasiakan sesuatu itu memang benar? Semoga saja Xi itu salah tapi selama ia mengenal Xi tebakan Xi selalu benar. Semoga kali ini tebakan Xi meleset.


"Kenapa kau menangis?" tanya Faam yang kebingungan apakah ucapannya tadi salah atau ada kata-kata yang membuat Fiani tersakiti?


Maaf telat up🙏🙏


karena susah sinyal 😢

__ADS_1


Selamat membaca


Dan Terima kasih yang sudah mampir😁


__ADS_2