
Pagi ini matahari bersinar dengan cerah namun berbanding terbalik dengan suasana hati Dini yang tengah mencemaskan seseorang yang tak tau dimana keberadaannya. Sekuat apa pun ia berusaha untuk tidak berpikiran buruk tetap saja hatinya tidak bisa tenang sebelum ia tau dimana keberadaan Bastian.
Hari semakin siang namun tetap tak ada tanda-tanda keberadaan Bastian, ia pun memutuskan untuk memberitahu kepada orang tua Bastian bahwa tetap tak ada kabar baik tentang keberadaan Bastian.
Setelah mengetahui hal tersebut kedua orang tua Bastian pun segera berangkat menemui Dini ke tempat liburan mereka.
Malam harinya mereka sampai ditempat penginapan Dini dan Bastian, ia pun menceritakan awal mulai Bastian pergi meninggalkan dirinya dikamar hotel sampai saat ini tak kembali.
"Sekarang istirahat lah dulu besok papa akan lapor kekantor polisi terdekat." Terang Nugroho menenangkan menantunya tersebut.
"Sayang.. Yang dikatakan papa itu ada betulnya juga, kamu harus istrahat ya besok baru kita cari Bastian."
"Ia mah."
"Ya udah kalau gitu mama tinggal dulu mau mandi dulu." Terang Mita kemudian beranjak meninggalkan Dini.
"Pah." Panggilnya kepada Nugroho yang tengah duduk di sofa kamar hotel tepat di sebelah kamar Dini.
__ADS_1
"Papa bingung ma, kemana perginya Bastian? gak mungkin kan dia sengaja ninggalin Dini disini sendiri." Terang Nugroho.
"Ia pah, mama juga tau itu. Sudah papa juga istirahat lah dulu besok pagi kita harus cari Bastian."
"Umm." Sahut Nugroho.
Keesokan harinya Nugroho mendatangi kantor polisi terdekat namun ia harus bersabar menunggu kabar selanjutnya dari kepolisian.
Satu minggu sudah mereka menunggu kabar tentang keberadaan Bastian namun hasilnya tetap saja nihil sehingga akhirnya Nugroho pun memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka.
Sementara disebuah rumah sakit, seorang yang terbaring si ranjang rumah sakit mulai memberi tanda-tanda tubuhnya mulai membaik.
Perlahan ia menggerakkan jari tangannya meski pun matanya masih tertutup rapat.
Ya, orang itu ialah Bastian yang sudah satu minggu ini terbaring lemah di atas sana. Ia mengalami koma akibat kecelakaan yang terjadi beberapa hari lalu.
Pada saat terjadi kecelakaan Bastian tidak membawa identitasnya sehingga gadis yang menabraknya itu tidak dapat menghubungi keluarganya.
__ADS_1
Setelah kejadian tersebut gadis itu selalu setia menunggu perkembangan kesehatan Bastian. Selain merasa harus bertanggung jawab tentunya atas desakan dari orang tuanya yang ingin ia menyelesaikan masalah akibat perbuatannya yang mengakibatkan seseorang terluka bahkan nyaris kehilangan nyawanya.
Gadis yang tengah duduk di depan ruang ICU tempat Bastian dirawat melihat dokter yang menangani Bastian berjalan kearahnya. Ia pun bertanya kepada dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan pasiennya dok?" tanya lovia.
"Sepertinya ia mulai membaik baru saja suster mengatakan kepada saya bahwa pasien menggerakkan jari tangannya. Jadi saya permisi dulu untuk melihat keadaan pasien." Pamit dokter tersebut.
"Oh, silahkan dok!"
"Ya Tuhan semoga saja ada kabar baik setelah ini, aku takut jika terjadi sesuatu hal buruk. jika sampai ia tak tertolong bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku nanti.
Tidak, tidak... Dia pasti akan baik-baik saja." Gumamnya sambil menggelengkan kepala.
Tak berapa lama pintu ruang ICU pun terbuka sontak ia langsung berdiri dari duduknya untuk bersiap mendengar kabar buruk atau kabar baik.
Bersambung.
__ADS_1