Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Kepulangan Orang Tua Liana


__ADS_3

"Menangis lah jika itu akan membuatmu lebih baik..." Ucap Ardan masih memeluk kekasihnya dia juga tau pasti berat bertemu orang yang tegar berbuat hal yang membuat hatinya hancur apalagi dia orang yang telah membuatnya menderita selama ini.


Liana menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Ardan memandangnya dengan tatapan tajam ternyata Tuhan tidak ingin menghukum nya, malah Tuhan memberikannya seorang kekasih yang selalu ada untuk nya dan tidak pernah meninggalkan dirinya kenapa dia tidak melihat ketulusan di mata Ardan dulu jika dia lebih peka lagi pasti hal ini tidak akan terjadi dan dia juga tidak akan kehilangan buah hatinya.


"Kenapa kau memandangi diriku seperti itu?" tanya Ardan ingin tahu.


"Tidak, aku hanya bahagia saja kenapa orang seperti ku mendapatkan seseorang yang baik seperti dirimu dan kau tau bahkan kau menerima diriku apa adanya dan kau terus saja berada di dekat ku," Ardan tersenyum bukankah itu yang seharusnya di lakukan orang yang sangat mencintai kenapa dia seakan tidak mempercayainya.


"Hey... Kau itu juga orang baik kok hanya saja kau hanya membutuhkan kasih sayang bukan? Aku tau kok, baiklah kita pulang. Aku tidak ingin kau terus menerus memikirkan pria yang tak jelas sebaiknya kita jalan-jalan bagaimana? Menghabiskan uang ku pastinya hahaha." ucap Ardan malah tertawa sedangkan Liana merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Ardan yang selalu ada di sisiNya dan tidak pernah sekalipun meninggalkan dirinya.


"Hey aku bukan orang yang matre tau, tapi jika kita menikah apakah orang tua ku akan menyetujui nya?" Ardan sedikit berpikir sebenarnya sih mungkin kedua orang tua Liana harusnya sudah tiba dari tadi sebaiknya mereka segera bergegas ke bandara.


Tapi bagaimana caranya memberitahu kan jika kedua orang tuanya akan tiba di tanah air, ternyata orang tua Liana sangat menyetujui pernikahan mereka, mereka sangat ramah Ardan awalnya sangat ketakutan tapi setelah melihat orang tua Liana langsung ternyata mereka sangat ramah dan saya membahas tentang pernikahan keduanya pun menyerahkan sepenuhnya pada Liana. Lampu hijau sudah di dapat jadi dia tidak perlu repot-repot untuk merayu.


"Kau ingin tau? Bagaimana jika kita menjemput mereka, " kedua bola mata Liana membulat menjemput siapa? Orang tuanya? Mas a orang tuanya sudah pulang? Tapi kenapa mereka tidak memberi tahukannya? Dan Dan kenapa justru Ardan yang tau? Apa jangan-jangan Ardan menemui mereka tapi orang tua Liana bukanlah orang yang gampang untuk di temui tapi kenapa Ardan mudah saja bahkan bisa membawa dan meyakinkan mereka untuk kembali ke tanah air apa yang Ardan janjikan?


"Menjemput? Maksud mu orang tuaku datang? Mereka datang? Apakah kau sedang bercanda?" tanya Liana merasa tidak percaya karena mereka itu bukan orang yang gampang untuk di bujuk anaknya sendiri saja berulang kali membujuk mereka namun selalu gagal tapi di bujuk Ardan eh mereka langsung pulang hebat.


"Aku sedang tidak bercanda sayang, mereka datang karena ingin menjadi saksi pernikahan antara kau dan aku, sebenarnya saat kau masih kritis dan belum sadarkan diri aku menemui orang tuamu untuk memberi izin untuk menikah dengan dirimu, saat itu aku di usir oleh mereka, tapi aku datang lagi dan datang lagi dan akhirnya ibumu mengizinkan diriku masuk setelah aku mengatakan jika aku ini adalah calon suamimu. Awalnya ibumu terlebih lagi ayahmu tidak percaya dan rese nya dan sotoy aku mengatakan jika aku akan menikahi dirimu, bodoh kan?" tanya Ardan merasa aneh sendiri dan jika kebodohannya itu tidak terwujud ya tidak apa-apa lah yang terpenting dia sudah mencoba nya ya walau pun gagal sih.

__ADS_1


Eh tapi kebodohan nya berhasil terbukti kok hahaha.


"Lalu?" tanya Liana ingin tahu.


"Kita kan akan menikah kan," ucap Ardan sambil menaik turunkan alisnya membuat Liana menggeleng pelan.


"Ya iyalah, tapi sekarang kita harus cepat , karena apa orang tuaku pasti akan menunggu." ucap Liana yang segera menarik lengannya untuk menuju bandara menemui orang tuanya.


Dalam perjalanan Liana nampak senang sekali apa dia memang sudah lama tidak bertemu dengan orang tuanya sampai-sampai dia sangat bahagia?


"Lihatlah dia nampaknya dia sangat bahagia saat kedua orang tuanya pulang apa memang dia sudah lama tidak bertemu dengan orang tuanya? Liana Liana."


Liana segera memeluk kedua orang tuanya,


"Ternyata kau datang dengan calon suamimu?" tanya ibunya Liana hanya tersenyum dia malu sekali apalagi ibunya mengatakan langsung di depan Ardan haduh ibunya buat malu saja.


"Hehe anu bu, sebenarnya Liana..."


Ibunya juga sudah tau jika Liana pasti akan mengelak lagi nih anak memang tidak pernah sedikit pun berubah masih saja sama.

__ADS_1


"Om tante." ucap Ardan yang segera mencium tangan kedua orang tuanya Liana.


"A.. Bukankah seharusnya kalian ini mempersiapkan acara pernikahan kalian kan masih seminggu lagi kan? Lah ini malah menjemput kami kan kami bisa pulang sendiri."


"Ibu ayah apa kalian merestui hubungan ku dengan Ardan?" Kedua orang tua Liana tersenyum bagaimana mungkin keduanya tidak merestui hubungan mereka berdua karena apa bahkan Ardan sampai berjanji pada mereka orang tua mana pun juga akan merestui jika ada orang yang serius ingin membahagiakan putrinya.


"Tentunya, jika tidak buat apa ayah dan ibu atau repot-repot datang ke tanah air, ibu tau kok kak, ibu terlalu mengekang dirimu. Maafkan ibu karena ibu selalu saja memaksamu." terang ibunya yang membuat Liana tau sebenarnya ibunya hanya takut jauh dari dirinya itu saja kok.


"Ibu tidak bersalah dalam hal ini, sebenarnya yang salah dan keterlaluan itu aku sendiri, seharusnya aku lebih mendengarkan ucapan ibu." Liana menyesal karena selama ini dia sering melawan dan tidak pernah menuruti perintah ibunya apalagi mendengarkan ucapan ayahnya saja tidak.


"Hahaha sayang sekarang kau sudah dewasa, apa tuh anak nakal padamu ah pasti tidak mungkin kau yang nakal padanya akan sudah ibumu sudah menduganya." Liana tersenyum begitupun dengan Ardan


"Ibu tau saja jika anakmu ini selalu saja membuat ulah hehe." pekik Liana membenarkan jika dia memang orang yang selalu saja membuat ulah tapi sekarang dia tidak ingin membuat ulah lagi dia ingin lebih fokus pada Ardan saja orang yang jelas-jelas mencintainya tanpa syarat bisa membuatnya tersenyum saat dirinya sedang dalam masalah besar, selalu ada untuknya dan mencintainya.


"Bagaimana apa kalian sudah mempersiapkan untuk acara pernikahan kalian?"


"Ibu atur saja lah," pinta Liana.


"Ibu? Kenapa harus ibu bukankah kau yang ingin menikah kenapa ibu yang harus melakukannya? Ah baiklah baiklah." ucap Ibunya yang segera berjalan ke pintu keluar bersama dengan keluarga kecil mereka.

__ADS_1


Sekarang putrinya sudah tumbuh dewasa, tidak lagi marah bahkan meminta yang aneh-aneh lagi mungkin karena Ardan yang sudah mendidiknya menjadi wanita yang lebih baik lagi, syukurlah.


__ADS_2