
"Maunya setelah menikah liburan mulu nih anak." ucap Faam dengan nada sedikit sinis tapi ya memang Ardan harus bulan madu kan bersama istrinya.
"Haduh bos, masa enggak di bolehin?" tanya Ardan sambil sedikit merayu bosnya agar memberikan dirinya liburan.
Faam tersenyum ya seharusnya memang Ardan liburan mengingat dia jarang juga mengambil cuti liburan.
Fiani hanya bisa diam, mendengarkan suaminya yang sedang sibuk ribut dengan anak buahnya.
"Seperti nya pria ini sangat dekat bahkan dengan mantannya, eh tapi kenapa juga dengan diriku? Aku marah? Tidak mungkin apakah aku juga cemburu? Tapi buat apa aku cemburu? Nih perasaan kenapa sih!" Batin Fiani merasa bingung dengan perasaan nya.
Memang benar dia tidak ingat apapun tapi rasanya aneh.
Setiap kali pria rese itu dekat dengan seseorang, hatinya menjadi sakit? Entahlah rasanya ini sangatlah aneh.
"Sayang ada apa dengan dirimu?" tanya Faam yang ingin tahu mengingat Fiani hanya diam dan tidak mengatakan apapun.
"Bos, ada apa dengan istri bos? Tampaknya sangat aneh hari ini?" Ardan tersenyum ingin tahu apa yang terjadi dengan Nona mudanya.
Nampaknya dia hanya diam bahkan terlihat tidak mengenali orang yang ada di sekitar nya.
__ADS_1
"Ceritanya panjang, ya ini juga karena kesalahan diriku," Faam melirik istrinya yang malah pergi meninggalkan suaminya.
Faam saat itu panik karena tidak menemukan istrinya namun saat dia melihat ada seseorang wanita yang sedang asik mengambil makanan dan duduk di satu sudut dia menjadi lega.
Dasar bumil sukanya makan.
"Nona besar makan ya bos? Kasihan sekali bos ku kena tinggal." enek Rendra sambil terkekeh.
Rendra segera menghampiri Fiani yang sedang asik mengambil kue.
"Nona... " ucap Rendra yang juga mengambil piring dan meletakkan beberapa makanan ke piring.
"Faam... Bos besar... " ucap seseorang pria setengah baya yang segera duduk sambil memegangi segelas minuman di tangan kirinya.
Faam tersenyum pria tua ini lagi dan lagi muncul, apa maunya?
"Apakah bos besar menerima tawaran saya untuk bersedia menjadi menantu saya?" tanya Pria setengah baya yang bernama Mario.
"Maaf sebelumnya, bukannya saya menolak. Tapi saya sudah mempunyai istri dan sebentar lagi saya juga akan mempunyai anak. Jadi saya tidak bisa menjadi calon menantu bapak Mario yang terhormat." ucap Faam pada Mario.
__ADS_1
Mario nampak kesal, dasar tidak tahu di untung dia sengaja berbicara manis tapi dia menolak mentah mentah memangnya putrinya kurang cantik? Apa bagaimana?
"Lalu dimana istri anda Bos besar?" tanya Mario dengan senyuman kepalsuan nya.
"Istri saya sedang di rumah, tidak mungkin kan saya mengajak istri saya untuk datang ke pesta lagi pula, istri saya sedang mengandung saya khawatir ada seseorang yang akan mencelakai nya. Bukan kah begitu bapak Mario?" Mario nyengir kuda. Sialan, awas saja kau akan aku pastikan kau akan menderita karena menolak putriku.
"Baiklah, jika seperti itu saya pergi dulu.. " ucap Mario yang segera pergi.
Faam segera merogoh sakunya mencari ponselnya untuk memberitahukan Rendra agar mengantar istrinya pulang.
"Bawa istriku pulang, bukannya aku tidak ingin mengantarkan ya pulang tapi aku harus mengurus cecunguk satu itu." Rendra mengangguk setelah melihat pesan dari bosnya.
Pasti ada musuh yang mengincar Nona muda.
"Nona bolehkan aku bergabung, Tuan Faam memintaku untuk menemani Nona dan mengantarkan Nona pulang nanti." Finai tidak menghiraukan Fiani malah tersenyum dan mengambil makanan nya lagi.
"Bukankah dia adik dari Ardan dan tangan kanan pria rese itu, ah kesempatan untuk makan banyak kan hehe"
"Dasar bumil banyak makan!" Rendra menepuk jidatnya karena ulah Nona mudanya.
__ADS_1