
Dini memutuskan untuk pergi kekamar setelah Bastian juga masuk kedalam kamarnya, Dini cukup tau diri dan memilih untuk tidak meletakkan pakaian yang ia bawa dikamar yang berbeda dengan Bastian.
Dini tak keluar dari dalam kamar setelahnya bahkan ia melewatkan jam makan malamnya. Bastian yang sedari tadi menunggu Dini keluar untuk makan malam bersama namun karena Dini tak kunjung keluar Bastian pun memutuskan untuk makan malam sendiri.
Tengah makan Bastian menoleh kearah sumber suara dimana Dini ternyata keluar dari kamar.
Dini berjalan melewati Bastian menuju lemari pendingin dan mengambil sebotol minuman dari sana.
Meneguk minuman tersebut melepaskan dahaganya, setelah itu ia duduk tepat didepan Bastian.
"Kau tidak makan? " tanya Bastian tanpa menoleh kepada Dini.
"Aku belum lapar. " Jawab Dini kemudian meneguk kembali minumannya.
Dini memperhatikan Bastian yang sedang fokus dengan makanannya. "Sekilas tidak ada yang berubah dengan diri mu. Namun pada kenyataannya kau adalah orang yang berbeda dengan Bastian ku yang dulu. " Lirih Dini didalam hati.
"Ada apa? " Bastian menyadari jika Dini memperhatikan nya. "Tidak ada apa-apa, lanjutkan saja makan mu! " sahut Dini namun tidak melepaskan pandangannya dari Bastian.
Bastian melanjutkan kembali melahap makanannya dengan santai berusaha tidak terpengaruh dengan tatapan mata Dini kepadanya.
"Jika dipikir-pikir aku sudah lama sekali tidak berada sedekat ini dengan mu. Biasanya kan ada Lovia yang selalu menempel dengan mu sehingga aku harus lebih banyak mengalah. " Terang Dini sambil menopang dagunya dengan keduanya diatas meja makan.
Bastian mengangkat wajahnya menatap wajah Dini. "Kenapa kau berkata seperti itu? " tanya Bastian penuh selidik.
"Sudahlah tidak perlu dibahas! aku kekamar dulu. " Pamit Dini karna tidak ingin membahas tentang Lovia yang baginya hanya akan membuang waktunya saja.
__ADS_1
"Apa kau begitu tidak menyukai Lovia? " tanya Bastian menghentikan pergerakan Dini yang hendak berdiri dari duduknya.
"Aku tidak tau bagaimana perasaan ku terhadapnya, ketika wanita lain berada di dekat suami ku apa aku harus membencinya? atau malah mendukung wanita itu dengan bersikap biasanya? " Dini mulai memancing Bastian dan ingin tau bagaimana cara Bastian menjawab pertanyaan darinya.
"Aku rasa kau seharusnya tidak berkata seperti itu! " Bastian tidak menyukai ucapan Dini barusan.
"Bas... Pernah kau berpikir sedikit saja bagaimana perasaan ku melihat kau dan Lovia?" kali ini tatapan mata Dini sungguh sudah tak bisa lagi diartikan.
Bastian diam tidak tau harus berkata apa atas perkataan Dini barusan.
"Kenapa kau hanya diam saja? " Tanya Dini kembali duduk ditempat nya semula.
"Dengar! jika kau minta ku untuk pergi maka dengan senang hati aku akan pergi. Tapi selama ini kau tidak pernah memikirkan apa pun tentang diri ku. Tidak berusaha mengingat ku bahkan kau selalu saja menghabiskan waktu mu bersama dengan wanita itu. Dan itu sudah cukup jelas bagi ku jika kau tidak menginginkan ku. " Keluh Dini menatap mata Bastian dengan sendu.
"Aku tau mungkin kau tidak akan nyaman bersama ku disini. Tapi aku tidak punya pilihan lain karna ini adalah perintah mama. Tunggu lah beberapa hari aku akan pergi jika mama sudah meminta ku pulang. " Tambah Dini.
Dini menggigit bibir bawahnya karena menyadari sikapnya itu sedikit berlebihan. Namun itu murni keluar dengan sendirinya. Mungkin terlalu lama ia memendam isi hatinya yang terluka. Sihinga tidak dapat menahan diri untuk mencurahkan segala yang mengganggu pikirannya selama ini.
"Aku tau aku salah! tapi apa kau tau jika aku juga tidak ingin berada dalam situasi seperti ini." Ucap Bastian menghela nafasnya sejenak.
"Aku tidak tau harus berbuat apa. Tidak bisa bersikap tegas dengan Lovia namun satu hal yang tidak bisa aku pungukiri yaitu Lovia sudah merawat ku selama ini dan pada saat itu ia tidak tau jika aku sudah menikah. Aku tidak bisa mencegah perasaannya kepada ku." Terang Bastian membuat pembelaan.
"Apa kau juga mempunyai perasaan yang sama kepadanya? " Selidik Dini harap cemas menunggu jawaban dari suami nya itu.
Deg
__ADS_1
Bastian tidak bisa menjawab pertanyaan Dini kali ini.
"Sudah aku duga! " pekik Dini melihat Bastian diam tidak tau harus berkata apa.
Dini tersenyum kecut, bagaimana tidak ia harus menerima kenyataan jika Bastian tidak dapat menjawab pertanyaan dan tanpa bertanya lagi Dini sudah mengerti dan mendapat jawaban dari sikap diam Bastian.
"Ternyata pilihan ku untuk berpisah dengan mu adalah pilihan yang tepat. Dengan begitu aku tidak akan menyesali keputusan ku nanti. " Lirih Dini dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak terjun bebas dengan begitu saja.
"Aku harap secepatnya kau urus masalah perceraian kita dan pada saat itu aku akan keluar dari kehidupan mu karena dengan begitu tidak ada yang akan bisa menghentikan ku untuk pergi termasuk mama Mita sekali pun. " Pinta Dini.
Bastian yang sedari tadi diam hanya bisa menatap wajah wanita yang ada di depannya itu dengan perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan.
Disatu sisi ia tidak tega melihat Dini seperti itu namun ia juga bingung harus berbuat apa. Ada rasa bersalah pada dirinya membuat wanita itu menunggunya selama ini dan pada akhirnya ia mematahkan semangat wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.
Dini yang merasa kecewa dengan Bastian kembali kedalam kamarnya tanpa menghiraukan Bastian yang memanggil namanya.
Baginya sudah cukup untuk merasakan sakit hati yang mendalam dan mencoba menerima semua yang sudah terjadi dengan iklas.
"Aku tidak boleh lemah seperti ini! " Ucap Dini sambil menghapus air matanya. "Aku harap ini adalah jalan terbaik bagi ku yaitu keluar dari kehidupan mu secepatnya dan mencari kehidupan ku diluar sana. " Dini meyakinkan dirinya atas keputusannya.
Sementara Bastian masih diam dimeja makan. Ia sangat kesal kepada dirinya sendiri, mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya.
"Apa yang sudah aku lakukan? aku sudah melukai hatinya." Ucap Bastian dengan gusar. Kemudian ia berjalan kearah pintu kamar Dini dan diam sejenak didepan pintu Dini sambil berpikir apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Bastian mencoba mengetuk pintu kamar Dini namun tidak ada jawaban dari dalam. Dini memilih untuk tidak membuka pintu kamarnya dan mengabaikan Bastian yang berulang kali mengetuk pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Cukup lama Bastian menunggu Dini untuk keluar namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung keluar dan akhirnya Bastian pun pergi ke kamarnya dan menunggu besok pagi untuk berbicara kembali dengan Dini setelah Dini merasa tenang.
Bersambung!