
Keesokan harinya Dini keluar dari dalam kamarnya dan ternyata Bastian juga baru keluar dari dalam kamarnya. Sejenak Dini melirik kearah Bastian kemudian ia berjalan menuju dapur tanpa memperdulikan Bastian yang sedang memperhatikan dirinya.
"Kita harus bicara!" ucap Bastian begitu ia tepat dibelakang Dini yang sedang mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin.
"Apa?" balik tanya Dini tanpa menghentikan aktivitasnya tersebut.
Bastian menarik tangan Dini menjauh dari dapur. "Kenapa kau menarik ku?" protes Dini sambil menarik tangannya dari genggaman Bastian.
"Kan aku sudah bilang tadi, kita harus bicara!" terang Bastian sambil menatap wajah Dini. wajah polos Dini dipagi hari yang tidak pernah Bastian perhatikan secara dekat.
"Bicaralah!" ucap Dini membuyarkan lamunan Bastian yang sempat terhipnotis akan wajah polos wanita yang sudah berstatuskan istrinya itu.
"Masalah semalam, aku pikir bukan cara yang tepat jika sebuah perceraian menjadi solusi untuk saat ini." Bastian menjeda ucapannya sejenak. "Maksudku keluarga kita tidak akan menyetujui begitu saja bukan?" jelas Bastian dengan kikuk karena Dini terus saja menatapnya.
"Itu bukan masalah besar, yang terpenting adalah kita yang menjalani bukan kah begitu?" ucap Dini santai sehingga membuat Bastian gusar.
"Tapi kan..." Belum sempat Bastian meneruskan ucapannya Dini sudah berlalu meninggalkannya.
"Tunggu, aku belum selesai!" panggil Bastian sedikit berteriak.
"Sudahlah, lain kali saja kita bicarakan aku sudah lapar." ucap Dini.
"Kau kan bisa menunggu bude Asih yang membuatkan sarapan untuk mu!"
"Tidak apa aku bisa sendiri." ucap Dini.
__ADS_1
Sementara Bastian hanya bisa pasrah atas penolakan dari Dini, padahal ia masih ingin membicarakan sesuatu tadi. "Bagaimana cara ku membicarakan apa yang terjadi tadi malam jika situasinya seperti ini." Ucap Bastian bergumam dan ternyata Dini mendengar walaupun tidak begitu jelas apa yang Bastian bicarakan.
"Ada apa dengan nya tidak seperti biasanya?" Dini merasa sedikit aneh dengan sikap Bastian barusan pasalnya pria itu tidak biasanya banyak bicara dengannya.
"Sudahlah!" Dini melanjutkan kembali kegiatan membuat sarannya sementara Bastian memilih untuk duduk di meja makan.
"Ini!" Dini meletakkan dua buah piring yang sudah berisikan nasi goreng buatannya. Tanpa memperhatikan Bastian iapun langsung melahap makanan nya. Sementara Bastian masih sibuk memperhatikan Dini yang dengan cueknya sedang melap sarapannya.
"Ada apa?" ternyata Dini menyadari jika orang yang tengah duduk didepannya itu sedang memperhatikan dirinya.
"Tidak ada!" Kilah Bastian padahal ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sepengetahuan dari Dini jika tadi malam ia merasakan kembali sakit yang luar biasa dibagian kepalanya dan sekilas bayangan dirinya dan seorang wanita di masa lalu dan entah kenapa Bastian yakin betul jika wanita itu adalah Dini.
"Kenapa? tidak enak ya?" ucap Dini karena melihat Bastian tidak kunjung menyentuh sarapan yang sudah dibuatkan olehnya.
"Apa?" Bastian menatap kearah Dini yang ternyata juga sedang melihat kearahnya. "Bukan begitu, hanya saja aku.."
Sementara Bastian tidak dapat berbuat apa-apa pada hal sebenarnya ia juga ingin menikmati sarapannya, ia hanya bisa melihat bagaimana Dini dengan lahapnya tanpa memikirkan dirinya yang juga sedang merasa lapar.
Dini selesai dengan sarapannya dan hanya melihat sekilas kearah Bastian sebelum meneguk segelas air putih dan kemudian berlalu dari tempat itu seperti tidak ada beban.
"Astaga...Wanita itu! dengan santainya dia meninggalkan ku setelah menghabiskan jatah sarapan ku." gumam Bastian dalam hati.
"Kemana dia?" selidik Bastian mencari kesana kemari namun yang dicari tidak memperlihatkan batang hidungnya karena kini Dini sedang berada didalam kamarnya.
Akhirnya Bastian memilih untuk pergi setelah beberapa menit menunggu Dini namun tak kunjung keluar kamar. Ia terpaksa berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ada apa dengan ku? kenapa aku begitu menginginkan sarapan yang dibuat olehnya tadi. Padahal dari tampilan saja terlihat biasa saja." Oceh Bastian pada dirinya sendiri dan tanpa sadar seseorang sedang melihat bingung akan dirinya yang berbicara sendiri.
"Ada apa?" suara yang begitu ia kenali membuyarkan lamunannya.
"Kau ini, mengagetkan ku saja!" kesal Bastian tanpa menjawab pertanyaan dari Kevin tadi.
"Lagian kau berbicara dengan siapa ha?" tanya Kevin.
"Lupakan saja! ada apa?" Bastian mengalihkan pembicaraan diantara keduanya. Karena tidak mungkin ia menceritakan apa yang sudah terjadi tadi pagi kepada Kevin, yang ada ia akan ditertawakan nantinya. Merengek seperti anak kecil hanya karena sepiring nasi goreng.
"Tidak ada, hanya saja aku ingin memastikan keadaan mu saja." Terang Kevin dengan sungguh -sungguh.
"Sekarang kau sudah lihat kan? jika aku baik-baik saja."
"Apa belum ada kemajuan tentang ingatan mu?" Selidik Kevin membuat Bastian mengangkat wajahnya kearah Kevin.
Bastian hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda sebuah jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Aku harap secepatnya ada kabar baik."
Bastian hanya menghela nafas panjang tanpa berniat menjawab ucapan serta harapan dari Kevin tadi.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan belum sempat Bastian menyuruh masuk, pintu itu sudah lebih dulu terbuka dan menampilkan seseorang dengan menenteng kantong plastik dibalik pintu.
Sontak kedua orang yang berada didalam ruangan tersebut menatap kearah pintu. Jika Kevin melihat dengan tatapan terkejut lain lagi dengan Bastian.
__ADS_1
Ia mengembangkan senyumannya begitu tau siapa yang datang terlebih lagi membawakan sesuatu yang sudah bisa dipastikan olehnya jika yang berada didalam kantong tersebut adalah untuk dirinya.