Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Tuh Kan


__ADS_3

Fiani dan Faam sudah berada di ruangan Lisa.


Ada yang tampak berubah dari Faam melihat nya seperti ini seperti nya Fiani memang sangat bahagia apalagi mereka kan akan segera mendapatkan momongan.


"Ternyata ada suami siaga nih?" Faam tersenyum saja seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


"Ada banyak perubahan besar di ruangan mu ini ternyata dokter. " Mendengar ucapan dari Faam ternyata laki-laki ini sangatlah menyadari akan hal itu memang sangat peka sekali dirinya.


"Ternyata kamu sangatlah memperhatikan ruangan ini. " Lisa segera mendorong kursi roda Fiani nih bumil memang sudah waktunya persalinan mungkin menghitung hari lagi.


"Ini sih, tinggal beberapa hari menjelang lahiran, kepalanya sudah berada tepat di tempatnya kamu harus lebih perhatian loh apalagi istrimu ini mengandung nya bukan hanya satu anak melainkan dus sekaligus. " ucap Lisa yang memperingatkan.


"Tapi kenapa dengan kaki istri ku kenapa jadi bengkak gitu?" tanya Faam yang ingin tahu karena semakin hari bengkak di kaki istrinya itu tambah besar.

__ADS_1


"Tidak apa nanti jika anak mu sudah keluar pasti bengkak itu akan kurang, kenapa bisa bengkak karena pasti istrimu jarang berjalan waktu pagi kan."


"Bagaimana ingin jalan pagi, jika Faam saja kelewat khawatir. " batin Fiani.


"Aku bisa menebak pasti kau kan yang kelewatan khawatir?" Lisa menebak ya memang Faam lah yang terlewat khawatir kan khawatir itu hal yang wajar dia kan istrinya.


"Iya iya aku sangat khawatir," Lisa tersenyum mendengar pengakuisn dari suami Fiani.


"Pokoknya beberapa hari ke depan kamu tidak boleh kemana mana karena mungkin lusa jika tidak tiga hari istrimu akan melahirkan. " Faam mengangguk saja.


"Kenapa kamu tidak mengatakan nya dari tadi. Berbaring lagi biar aku periksa." Pekik Lisa yang menyuruh Fiani untuk berbaring lagi.


"Kenapa Lis ada yang aneh pada istriku?" tanya Faam yang memang tidak tahu jika istrinya akan melahirkan.

__ADS_1


"Apa perlengkapan bayi mu sudah kami siapkan?" Faam terkejut apa yang dia katakan perlengkapan bayi? Apa mungkin istrinya sudah mau lahiran tapi kok dia diam saja. Tapi kan memang istrinya pandai menyimpan rasa, biarpun sakitnya sangat sakit ya dia tetap menahan nya.


"Apa memang dari tadi kamu sudah merasakan mulas-mulas?" Fiani mengangguk saja mendengar ucapan dari suaminya.


"Iya, dari semalam, maka dari itu suamiku aku menyuruh menemanimu begadang, tapi Lis seperti nya aku ingin buang air besar deh mules sekali." Sebelum itu Lisa memeriksa dulu memang baru buka berapa.


"Baru pembukaan tiga lebih, ya sudah lah, Faam bantu istrimu turun." Faam dengan sigap membantu Fiani untuk turun dan mengantarkannya ke toilet katanya dia ingin buang air besar kan.


Faam tidak tega melihat istrinya yang semakin lama makin kesakitan.


"Lisa kenapa kamu tidak menolong istriku. " Dari tadi memang Fiani mengeluh kan akan rasa ingin buang air besar tapi ini berbeda rasanya itu tidak tertahankan lagi.


"Masih ada dua pembukaan lagi, dan air ketuban nya juga belum pecah kau ini kenapa sih?" Faam membulat kan senyuman apa jadi masih menunggu air ketuban pecah bahkan dia tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu.

__ADS_1


"Memang pembukaan ada berapa?" Faam dengan gamblang nya malah bertanya.


"Sepuluh."


__ADS_2