Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Jangan Usil


__ADS_3

Sebuah pistol kini sudah tepat berada di depan matanya.


Sonia terkekeh melihat benda hitam mungkin pistol ini tidak ada isinya pikirnya.


"Kamu lepaskan dia atau peluru ini akan menembus kepalamu." Sonia terkekeh dia tidak akan tertipu akan gertakan Faam mungkin dia bisa mengancam.


Tapi dia tidak bodoh siapa sih yang takut dengan replika pistol yang terlihat asli ini, ah dia mana takut.


"Jangan bercanda, aku tahu kok ini hanya pistol mainan, buat apa aku takut ayo tembak aku." tantang Sonia merasa jika pria yang ada di depannya hanya menggertak saja mana mungkin dia tega sampai menembak nya.


"Kau masih tidak mengerti juga dengan apa yang aku katakan, kau lepaskan atau... "


"Atau apa? Kau ingin menembak ku dengan pistol mainan mu itu? Sampai kapan pun kau tidak akan pernah melepaskan Hikmal tidak ada yang boleh memiliki nya selain aku." teriak Sonia yang tidak takut apapun yang ada di dalam otaknya hanyalah Hikmal tidak akan ada yang bisa memisahkan dirinya.


"Tuan jangan gegabah, jangan lakukan itu tuan dia hanya memancing tuan saja." teriak Ana yang mengetahui jika pistol yang ada di genggaman tangan Tuan Faam adalah pistol asli.


Tuan Faam selalu tidak main-main dengan ucapannya.


Haduh Sonia malah memancing Tuan bisa mati tuh anak.


"Saya, tidak pernah ber main-main dengan ucapan saya." ucap. Faam seraya mendekatkan mulutnya ke telinga Sonia.


"Waduh bisa mati beneran tuh anak, haduh tuan Faam bagaimana caranya mengatakan pada Sonia jika Tuan nya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


Tapi bagaimana caranya kan Sonia orangnya keras kepala.


"Lebih baik kamu lepaskan Hikmal sebelum Tuan Faam marah Sonia." pekik Ana yang memperingatkan Sonia.


"Melepaskan Hikmal? Tidak akan pernah." jawab Sonia yang segera mendorong tubuh Faam namun tidak sampai terjatuh.

__ADS_1


"Kau." teriak Faam yang segera menembakkan peluru ke atas membuat Sonia hanya bisa diam dan langsung terjatuh.


Ana dan beberapa orang yang ada di sana hanya bisa diam kala kemarahan Faam sudah sampai di puncaknya.


Fiani terlihat memejamkan matanya karena terkejut dan ketakutan apakah suaminya benar-benar menembak Sonia.


"SUDAH KU BERIKAN SATU PERINGATAN NAMUN KAU TIDAK MENGINDAHKANNYA. SEKARANG KAMU MASIH TIDAK MAU MELEPASKAN HIKMAL? " Ucap Faam dengan penuh penekanan.


Dia sudah tidak bisa lagi berbicara baik pada perempuan sinting ini.


Sonia membeku ternyata pistol yang dia sangka hanyalah mainan rupanya adalah pistol nyata.


Untunglah kepala nya tidak jadi dia korbankan.


"Ayo bicara, kenapa? Kau masih menganggap pistol yang ada di tanganku adalah sebuah mainan anak kecil? Ayo jika kamu tidak menyerahkan Hikmal padaku maka aku akan menembak mu sekarang juga." ancam Faam kali ini tidak bermain-main dengan ucapannya.


Eh dari tadi kan Faam serius hanya saja Sonia saja yang menganggapnya sebagai sebuah bualan belaka.


Faam menurunkan senjata nya dan menyimpannya lagi ke tempat nya semula.


Kan anak orang di buat nangis, dasar Faam!


"Kenapa kalian selalu saja menggagalkan semua rencana ku hiks, aku hanya ingin bahagia." pekik Sonia yang menenggelamkan wajahnya ke kedua lututnya.


"Aku hanya ingin ada orang yang mencintaiku."


Wulan tahu jika Sonia sangat mencintai Hikmal tapi tidak seperti ini caranya, kasihan Hikmal dibuat seperti ini. Bukan begini caranya.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini, lihatlah orang yang kamu cintai " ucap Ana yang menunjuk Hikmal yang masih belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Itu yang kamu biang cinta? Kamu buat orang yang kamu sayangi hanya bisa tidur, kamu tahu yang kamu lakukan itu sangat keterlaluan." Kini Wulan yang berbicara dia sangat tahu apa yang Sonia lakukan itu sangat tidak manusiawi.


Wulan segera melangkah menghampiri Sonia dengan wajah yang merah karena menahan marah.


Wulan segera memeluk tubuh Sonia yang kaku tidak bisa berdiri.


"Aku tahu kamu melakukan semua ini hanya karena mencintai Hikmal, tapi apa kamu tidak kasihan melihat orang yang kamu sayangi menderita karena ambisi mu?" tanya Wulan yang membuat Sonia hanya bisa memeluk tubuh Wulan tanpa bisa mengatakan apapun.


Ya ini memang kesalahannya.


Karena dia begitu berambisi untuk memiliki Hikmal begitu mencintai Hikmal sampai dia sendiri lupa bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal ini pada orang yang tidak sama sekali mencintainya.


Faam segera menggandeng Fiani dan sedikit menjauh agar Wulan dapat menenangkan Sonia yang masih syok.


"Bagaimana?" tanya Faam dengan tingkah nya yang sedikit konyol.


"Bagaimana apanya?" tanya Fiani.


"Tadi, suami mu keren kan?" tanya Faam dengan sikapnya yang seperti anak kecil.


"Keren kamu bilang, jika anak mu kenapa-kenapa bagaimana? Kau ini... " teriak Fiani yang segera menjewer suaminya yang sudah membuat dia hampir terkena serangan jantung.


Fiani tidak tahu sejak kapan suaminya bisa menggunakan senjata?


Dasar!


"Haduh sayang ampun!" teriak Faam yang memegangi telinganya.


"Ampun kamu bilang, nih rasain. " teriak Fiani yang terus menjewer telinga suaminya.

__ADS_1


"Aw! Ampun sayang!!"


"Enggak ada ampun!" pekik Fiani seraya berjalan menjauh dari ruangan.


__ADS_2