Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Episode 17. Khawatir mu berlebihan


__ADS_3

Arya membulatkan matanya setelah mendapat tamparan dari Dini, ia pun melepaskan genggangamannya dari tangan Dini.


"Maaf Arya aku tak bermaksud melakukannya tapi kau yang memaksa ku berbuat demikian, aku harap kau menjaga sikap mu jangan sampai orang lain beranggapan buruk terhadap ku nantinya." Peringat Dini.


"Tapi din."


"Tolong lah mengerti posisi ku sekarang ini, kau dan aku hanya lah masa lalu. Kini kau sudah menikah pikirkan lah istrimu yang mungkin saat ini dia sedang menunggu mu dirumah." Ucap Dini menatap wajah Arya.


"Dini.Selama 5 tahun kita menjalin hubungan bagaimana bisa kau melupakannya begitu saja?" Arya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dini barusan.


" Ya, kita memang mempunyai banyak kenangan selama bertahun-tahun tapi dalam satu hari kau memberi ku luka yang sangat dalam sehingga pada saat itu juga kenangan kita aku kubur bersama luka yang kau berikan pada ku." Tegas Dini.


Aku mohon biarkan aku menjalani kehidupan ku dan saat ini aku sudah bahagia tanpa mu jadi mari kita menjalani hidup kita masing-masing. Terang Dini kemudian pergi meninggalkannya.


Arya pun hanya bisa terdiam mendengar ucapannya dan memandangi kepergian Dini.


Tok tok tok


"Masuk!" suruh Nurita dari dalam.


"Sore bu. " Sapa Dini.


"Ada apa din?" Tanya Nurita.


"Begini bu, ada bahan yang belum di cek jadi saya perintahkan anggota saya untuk lembur sembari menunggu hasil cek dari QA." Jelas Dini kepada Nurita.


"Kenapa harus lembur?" tanya Nurita.


"Bahan tersebut mau loding nanti jam 5 bu, yang saya takutkan jika hasilnya tidak 1.0 berarti packing masih kekurangan bahan jadi saya putuskan untuk menunggu hasilnya jika memang tidak 1.0 anggota saya bisa segera mengerjakannya kembali begitu hasilnya keluar." Jelas Dini.


"Oh, begitu ya udah aku percayakan semua nya ke kamu."


"Baik bu. "


"Gak usah panggil bu kenapa sih Din?"


" Tapikan ini masih jam kerja."


"Ia kalau ada bos besarnya panggil ibu, kalau lagi berdua gini santai aja din." Pinta Nurita.


"Ya udah ia deh mba, aku permisi dulu."


"Uumm." Sahut Nurita.


Jam hampir menunjukkan pukul 7 malam, Bastian yang sedari tadi sudah menunggu Dini namun tak kunjung pulang hingga akhirnya ia memutuskan untuk menelponnya.


"Halo Bas." Terdengar suara Dini dari sebrang sana.


"Kamu kok belum pulang?" tanya Bastian.


"Ia ini udah mau pulang kok."


"Ya udah aku jemput ya?"


"Umm. Gini aja deh jemput disimpang aja soalnya aku udah mau keluar juga ntar kalau kamu jemputnya kesini kelamaan jadi jemput disimpang aja ya."

__ADS_1


"Trus kamu dari sana naik apa? "selidik Bastian.


"Kami ada bus dari perusahaan kok bas, udah tunggu disimpang aja!"


"Ya udah deh kalau gitu." Kata bastian mengiakan ucapan Dini.


Tut tut tut


pertanda panggila sudah diakhiri.


Kini Dini sudah berada di perjalan pulang bersama dengan karyawan yang lainnya didalam bus.


"Pak. Saya turun disimpang yang didepan ya."


"Loh kok turun disini?" tanya pak Sarno supir bis tersebut sambil menepikan mobil tersebut.


"Ia pak, sekarang saya tinggalnya didaerah perkebunan yang ada didalam. " Terang Dini.


"Oh begitu. "


"Sani aku duluan ya!"


" Ia din, kamu kedalam sama siapa?" tanya Sani.


"Aku dijemput kok san."


"Cie... yang dijemput sama suami!" goda Sani.


"Udah, udah aku turun ya dah."


Dini pun turun dari bis tersebut dan menghampiri Bastian yang sudah menunggunya disana.


"Udah lama nunggunya?"


"Belum kok, udah yok." Ajak Bastian sembari membukakan pintu mobilnya untuk sang istri.


"Makasih" ucap Dini dan segera masuk kedalam mobil kemudian Bastian menutup kembali pintu mobil tersebut dan berjalan mengitari mobil dan masuk kemobil kemudian ia segera melajukan mobilnya menuju tempat mereka tinggal.


"Kamu kok pulangnya lama sih din?"


"Ia tadi ada bahan yang harus di kerjakan." Jelas Dini.


"Kalau tiap hari begini bisa-bisa kita makin jauh bukannya makin dekat." Lirih Bastian.


"Ayolah bas, aku juga gak akan tiap hari pulang malam kok."


"Tapikan tetap aja, kamu apa gak cape kalau pulang kerja malam gini? trus jugakan bahaya pulang malam-malam. "


"Bahaya gimana? pulangnyakan disiapin bis dari perusahaan."


"Tetap aja aku khawatir kalau kamu pulang malam begini, besok-besok kamu gak usah ikut lembur lagi!"


"Khawatir mu itu berlebihan bas, ngak akan ada apa-apa lagian aku udah biasa kok pulang malam begini dari dulu."


"Ia deh terserah kamu aja asal jangan lupa aja kalau kamu udah punya suami yang harus kamu urus

__ADS_1


dan perhatiin."


"Ia, ia." Sungut Dini.


Tak berapa lama mereka kini sudah tiba di rumah. "Bas, aku mandi dulu ya setelah itu kita makan sama."


"Ia cepetan mandinya udah laper bangat nih. " Gerutu Bastian.


"Ia bentar." Sahut Dini sambil berjalan menuju kamar mereka kemudian ia segera masuk ke kamar mandi yang berada didalam kamar tersebut.


Setelah 20 menit berlalu Dini pun keluar dari kamar hendak makan malam bersama suaminya yang sudah menunggunya sedari tadi di ruang tamu sambil menikmati acara televisi.


"Udah yok bas, kita makan malam dulu. "Ajak Dini sambil berjalan menuju meja makan.


Dini melihat masakan yang sudah disiapkan bude Asih diatas meja makan, "tunggu bentar ya aku panasin dulu lauknya".


"Ia, tapi makanannya pedas, trus kamu makan pake lauk apa dong? " tanya bastian.


"Gampang, tinggal ceplok telor aja ntar."


"Gak papa?" selidik bastian sedikit khawatir.


"Ya gak papa dong bas. "


"Kalau gak kita beli lauk di kantin pabrik aja gimana?"


"Udah gak usak ini aja udah cukup kok."


"Ya udah kalau gitu."


Kini mereka berdua makan bersama dan begitu selasai Dini lebih dulu masuk kekamar dan karna merasa lelah ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya dan tak lama ia pun sudah terlelap dengan mimpi indahnya.


Sementara Bastian baru saja memasuki kamar, ia melihat sosok istrinya yang sedang terbaring itu dan perlahan mendekatinya.


"Din, din." Panggil bastian namun orang yang dipanggil tersebut tak kunjung menjawab panggilannya.


"Yah! udah tidur, gimana mau bisa kita lebih saling mengenal jika nantinya akan seperti ini terus."


Ada rasa menyesal dihati bastian yang telah memberikan izin untuk bekerja kepada Dini, namun kini sudah tidak ada yang bisa ia lakukan untuk tidak mengizinkannya bekerja kembali.


Bagaimana pun juga ia hanya ingin yang terbaik untuk istrinya tersebut, ia takut jika tidak memberi izin maka Dini akan berpikir ia membatasi kebebasan dari istrinya itu.


Bastian menyelimuti Dini yang sudah berada di alam mimpi itu, kemudian ia mencium kening Dini dengan lembut setelah itu pandangannya tertuju pada bibir merah itu. Ingin rasanya ia menikmatinya namun ia mengurungkan niatnya itu dan hanya mengusapnya dengan ibu jarinya.


"Semoga secepatnya kamu bisa mencintai ku seperti aku yang sudah lama mencintai mu".


-


-


-


-


Bersambung.

__ADS_1


Mohon dukungannya buat aku biar tambah semangat up nya lagi.


__ADS_2