
"Enak! tapi lebih enak masakan Dini! apa kau tidak merindukan masakan Dini? " Kevin terus masukkan makanannya kedalam mulutnya.
Uhuk uhuk...
"Minum dulu! " suruh Kevin namun tidak melihat kearah Bastian ia masih sibuk menyantap sarapannya.
Bastian mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga hampir setengah. "Cepatlah! " Ucap Bastian sambil melihat jam tangan yang melingkar ditangannya.
"Kau buru-buru ke kantor apa hanya karna menghindari percakapan kita tentang Dini? " Kevin berbicara dengan cueknya.
Bastian yang malas berdebat segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kevin sendiri dimeja makan.
"Kenapa dia? " Kevin bingung menoleh kebelakang melihat punggung Bastian yang sudah menjauh darinya.
"Apanya yang salah coba? " bertanya pada dirinya sendiri sambil mengangkat bahunya.
Dijam kerjanya Bastian berusaha memfokuskan pikirannya kerana sedari tadi ia terus memikirkan Dini, entah kenapa bayangan wajah Dini terus berkeliaran dikepalanya.
"Ada apa dengan ku? " Bastian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya, menarik nafas dalam dan mencoba mengeluarkannya secara perlahan. Kemudian Bastian memejamkan kedua matanya, dan pada saat itu juga tiba-tiba muncul bayangan ketika ia tertabrak oleh Lovia dulu.
"Aahh" Bastian membuka mata dan membetulkan posisi duduknya. "Apa tadi itu? " sambil berpikir Bastian mencoba mengulangi untuk mengingat kejadian yang baru saja melintas dikepalanya.
Bastian terus memaksakan untuk bisa mengingat lebih banyak lagi. Bayangan wajah Dini tersenyum kepadanya suasananya seperti Dini sedang mengantarkannya sampai kedepan pintu sambil melambaikan tangannya kepada Bastian.
Dan setelah itu bayangan itu pun hilang dari kepala Bastian. Keringat Bastian bercucuran di keningnya. Seketika ia menjadi gelisah dan gusar.
"Kenapa susah sekali untuk mengingat semuanya? " Bastian merasa frustasi tak kunjung mengingat semuanya. Pada hal ia sudah memaksakan untuk mengingat namun tak kunjung mendapatkan yang ia harapkan. Yang ada ia merasa sakit dibagian kepalanya jika terus berusaha lebih jauh lagi.
Tiba-tiba Kevin datang membuka pintu setelah mengetuk pintu tetapi masuk tanpa menunggu disuruh masuk oleh yang empunya ruangan.
"Bas... " Panggil Kevin namun ia tak jadi melanjutkan ucapannya ketika memperhatikan Bastian yang seperti menahan sakit sambil memegangi kepalanya.
"Kau kanapa? " Kevin mendekati Bastian kemeja kerjanya.
__ADS_1
"Kepala ku. " Ucap Bastian dengan suara kesakitan.
"Kevin pun bingung harus berbuat apa. Sebaiknya aku antar pulang saja! " Kevin hendak menuntun Bastian untuk bangkit berdiri.
"Tidak usah, nanti juga akan membaik dengan sendirinya." Tolak Bastian. "Yakin tidak apa-apa? " Selidik Kevin mamastikan.
"Umm" Bastian menyenderkan kembali punggungnya.
"Apa kau sering seperti ini? " Kevin duduk dikursi yang ada didepan meja kerja Bastian.
"Tidak, baru kali ini aku mengalami hal ini. " Jelas Bastian dan ia pun menceritakan apa yang barusan ia alami.
"Kenapa baru saat ini dia mengalami hal ini? apa karna ia tidak bersama dengan Lovia saat ini karna kan selama ini wanita itu selalu saja menempel dengan Bastian." Gumam Kevin dalam hati.
Setelah mendengar apa yang barusan diceritakan oleh Bastian, diam-diam Kevin membuat sebuah rencana.
"Tadi ada apa kau mencari ku? " tanya Bastian. "Aku hanya ingin memberikan laporan ini untuk kau tanda tangani. " Tutur Kevin sambil menyerahkan berkas yang ia bawa tadi.
"Nanti akan aku cek terlebih dahulu. " Sahut Bastian singkat.
~
~
Sore harinya Bastian dikejutkan dengan keberadaan Dini di mes tempat ia tinggal. Bastian yang baru saja masuk kedalam rumah terdiam mematung didepan pintu melihat Dini yang sedang duduk diruang tamu sambil menonton televisi.
"Kau! " Bastian bingung kenapa Dini tiba-tiba berada disana.
"Kau sudah pulang? " Dini balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaan dari Bastian, berdiri dari duduknya kemudian mendekati Bastian yang masih tidak bergerak ditempatnya.
Bastian menatap bingung kepada Dini, namun yang ditatap seperti sedang berpikir dan di detik selanjutnya Dini baru tersadar. Jika Bastian mungkin bertanya-tanya tentang keberadaannya disana tanpa memberitahu nya terlebih dulu.
"Mama menyuruh ku untuk kesini, katanya kau sedang sakit." Jelas Dini
__ADS_1
"Mama? tapi aku tidak sedang sakit! " sahut Bastian mengatakan kebenarannya.
"Lantas kenapa mama menyuruh ku datang kesini untuk memastikan keadaan mu? " Dini pun mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja ruang tamu dan segera menghubungi mama Mita.
Tak berapa lama kemudian panggilan telpon dari Dini pun tersambung. "Halo mah.. " Dan selanjutnya hanya Dini yang mendengar apa yang dikatakan oleh mertuanya itu dan sesekali melirik kearah Bastian.
"Mama bilang untuk sementara aku tinggal disini, karna mama takut jika kau tiba-tiba sakit seperti tadi pagi. " Jelas Dini begitu sambungan telponnya terputus.
Bastian tampak berpikir sejenak dan kemudian Bastian menangkap semua ucapan dari Dini. "Kevin! " Gumamnya.
Bastian sudah bisa menebak jika ini semua ulah dari Kevin yang mengadukan kejadian tadi pagi kepada mama Mita dan terjadilah seperti saat ini. Dini ditugaskan oleh mama Mita untuk tinggal bersamanya dengan alasan jika ia mengalami sakit kembali dibagian kepalanya.
Tentu saja mama Mita memanfaatkan situasi tersebut setelah Kevin memberitahu dirinya tentang keadaan anaknya itu. Dengan cepat mama Mita menyuruh Dini untuk menyusul Bastian tentunya tanpa sepengetahuan dari Lovia.
Mama Mita berharap jika dengan mendekatkan keduanya tanpa adanya kehadiran Lovia diantara mereka akan mempercepat kembalinya ingatan Bastian.
Dengan begitu tidak akan ada perceraian diantara mereka berdua. Karna Mita yakin jika Bastian sudah mendapatkan kembali ingatannya Bastian tidak akan melepaskan Dini dengan begitu saja.
Bastian meninggalkan Dini sendiri diruang tamu, Bastian tidak sabar untuk menghubungi Kevin dan meminta penjelasan atas apa yang dilakukan temannya itu.
Dini hanya diam saja melihat Bastian pergi meninggalkan dirinya tanpa berkata apa pun. Baginya sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Astaga aku lupa bertanya kepada mama sampai kapan aku akan disini pada hal yang aku lihat dia baik-baik saja! " Oceh Dini merutuki dirinya sendiri.
Sementara didalam kamar Bastian tengah berbicara dengan akevin melalui sambung telpon.
"Kau, kenapa memberitahu mama? " kesal Bastian bisa dipastikan jika lawan bicara berada di depannya sudah akan ia habisi dengan makian.
"Aku hanya menghawatirkan mu bro! dan aku tidak menyangka jika tante Mita akan menyuruh Dini datang. Karna tujuan ku hanyalah ingin memberitahu jika ada kemajuan dengan ingatan mu. " Kilah Kevin berbohong pada hal ini semua adalah rencananya yang ingin menyatukan kembali pasangan itu seperti dulu. Dan kebetulan mama Mita sangat setuju dengan rencana Kevin.
Bastian yang kesal mematikan ponselnya tanpa mendengarkan lagi perkataan Kevin dari sebrang sana.
"Dasar kau teman laknat! " caci maki Bastian padahal yang di maki tidak mendengar ucapannya.
__ADS_1
Bersambung!
Jangan lupa dukung karya author ini dengan like, vote juga comentnya.