Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Episode 24. Menyesal


__ADS_3

Semenjak Menghilangnya Bastian, Dini terlihat murung tak ada lagi semangat dalam Dirinya sepertinya hari-hari sebelumnya.


Orang tua Bastian membawa pulang Dini ke kediaaman mereka, Dini pun hanya mengikuti keinginana dari mertuanya tersebut.


Namun disaat Dini memutuskan akan kembali bekerja tetapi orang tua Bastian tidak mengijinkan nya untuk kembali bekerja.


Dini pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya kerena keinginan dari mertuanya itu, setelah berhenti dari pekerjaannya keseharian Dini yang sepanjang hari berada dirumah sering membuatnya bosan.


Ditambah lagi dengan menghilangnya sang suami begitu membuatnya merasa tertekan berada disituasi seperti sekarang ini. Mau bagaimana lagi membantah keinginan mertuanya ia tidak bisa dengan terpaksa menjalani hidup seperti ini.


Berharap suatu hari nanti Bastian akan kembali kepadanya memulai kembali hidup bersama didalam keadaan sudah dan senang.


❇Satu tahun kemudian ❇


Satu tahun berlalu setelah menghilangnya Bastian, Dini masih tetap setia menunggu suaminya itu kembali. Bayi kecil yang berumur lima bulan, bayi imut yang menggemaskan dengan binar matanya, hidung mancung nya, bibir mungil dan berwarna merah.


Tak henti-hentinya Dini menciumi pipi bayi laki-laki itu, ya bayi munggil itu adalah bayi dari pasangan Karin dan Selo. Karin memang tak mempermasalahkan jika Dini lebih bayak mengurus bayinya itu.


Karena Kebaikan hati Karin memberikan kebebasan kepada Dini yang mengurus bayinya, tentu itu semua ia lakukan untuk mengalihkan pikiran Dini dari Bastian. Dengan begitu Dini akan lupa dengan Bastian.


Dan ide Karin tersebut pun disetujui semua anggota keluarga, tentunya tanpa sepengetahuan oleh Dini.


Semenjak kelahiran putranya Karin memang tinggal bersama mertuanya termasuk dengan Dini sementara Selo yang bekerja diluar kota setiap akhir pekan ia akan pulang atau jika sudah terlalu rindu dengan istri dan putranya itu maka maka ia akan datang kapan pun itu.


Tetapi setelah menyelesaikan pekerjaan nya tentunya.

__ADS_1


-


Di dalam kamarnya, Dini sedang duduk sembari memeluk kedua lututnya, dan dagunya ia senderkan diatas kedua lututnya. Pikirannya menerawang jauh sampai ke angkasa. Sekuat tenaga ia menyibukkan diri, selalu tersenyum didepan orang namun tetap saja hatinya terasa kosong.


Bahkan kehadiran Galaksio bayi mungil itu pun tak mampu membuat hatinya bangkit dari rasa keterpurukan atas kepergian suami tercintanya itu.


Jika sedang bersama dengan beby Sio memang hatinya sangat bahagia dan dapat melupakan kesedihan hatinya atas kelihangan Bastian. Namun tetap saja diwaktu seperti sekarang ini ia tetap akan merasa kesepian yang teramat di dalam hatinya.


Jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam ia masih berharap suatu saat nanti Bastian akan kembali lagi kepadanya. Walaupun itu tak tau kapan akan terjadi yang jelas itu yang ia tanamkan di lubuk hatinya agar dapat melewati masa-masa ini sekarang diri.


"Bas. Kamu dimana sebenarnya? tidak kamu tau rasa sakit dan penyesalan yang aku tanggung sejak kepergian mu?" gumam Dini yang sudah terisak. Buliran bening itu lolos dari kelopak mata indah itu.


Mengusap air mata yang melewati pipinya dengan tangan lentiknya, menarik nafasnya dalam menenangkan dirinya sendiri. Semenjak menghilangnya keberadaan Bastian ia memang sering menangis seorang diri dikamarnya.


Jalan satu-satunya yang ia ketahui untuk meringankan penderitaan dan penyesalannya. Namun tentu saja tidak berhasil karna sebanyak apa pun air mata itu tetap saja tidak dapat merubah keadaan dan dapat mengembalikan waktu yang sudah berlalu.


Ketukan pintu kamar menyadarkannya akan lamunannya, segera merapikan pakain dan rambutnya juga membersihkan wajahnya dari bekas air matanya barusan.


Merasa sudah lebih baik segera ia melangkah menuju pintu kemudian membuka pintu kamar, dan ternyata sudah ada Karin didepan pintu sambil menggendong Sio.


"Ada apa mba? Sionya rewel ya? mungkin haus kali mau mimi susu ya anak bunda? ia?" rentetan pertanyaan Dini kemudian mengambil alih Sio ke pelukannya sambil mengelus-elus punggung Sio dengan lembut.


Dini memang selalu menyebut dirinya dengan sebutan bunda ke Sio sementara Karin dengan sebutan mama.


Awalnya Dini sempat merasa tidak enak dengan Karin karena dirinya yang sedikit berlebihan itu, tapi justru Karin tidak mempermasalahkan hal tersebut.

__ADS_1


Bagi Karin yang terpenting adalah bagaimana cara untuk membantu menyembuhkan luka yang ada dihati Dini walaupun itu berbagi putranya itu, toh juga ia tetap ibu yang sudah mengandung dan melahirkan putranya itu.


'Kamu di panggil mama tuh, dibawah ada tamu." Terang Karin menyampaikan maksud kedatangannya kekamar Dini.


"Oh, gitu? kirain tadi Sionya rewel."


"Gak kok dia baru minum susu jadi anteng gak rewel."


"Ya udah kita kebawah yok mba, oya memangnya siapa yang datang sih mba?" selidik Dini.


"Udah jalan aja dulu ntar juga kamu tau." Sungut Karin menyembunyikan siapa tamu yang datang sampai ia harus dipanggil turun untuk menyambut tamu yang datang ke kediaman Nugroho.


Keduanya berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu, sambil sesekali menciumi pipi tembam Sio yang menggemaskan itu. Karin yang melihat kedekatan Dini dan putranya itu hanya tersenyum bahagia.


Ini bentuk rasa Terima kasih Karin terhadap Dini yang sudah mau mengalah untuk tidak melanjutkan acara perjodohannya dulu dengan Selo karena keberadaannya yang tengah mengandung anak dari Selo yaitu Sio. Dan berujung Dini menikah dengan Bastian yang mau menggantikan posisi Selo waktu itu.


Setelah sampai diruang tamu, Dini belum menyadari siapa saja yang berada di ruangan itu karena asik dengan Sio.


Sementara disana ada sosok yang terus memandanginya, perasaannya seperti tidak asing dengan sosok Dini tapi ia tak tau dimana, kapan ia pernah melihat wajah itu. Terus berusaha mengingat namun tak kunjung mengingat jawaban yang ia inginkan saat ini.


"Sini duduk dulu" Mita mengajak menantunya itu duduk disampingnya dengan menepuk sofa tersebut. Namun pandangannya pokus memperhatikan orang yang berada didepannya.


Tanpa mengalihkan pandangannya dari Sio, ia segera menuruti perkataan Mita mertuanya itu dan setelah duduk baru ia mengangkat wajahnya dan betapa terkejutnya ia melihat sosok yang ada didepannya saat ini. Pandangan matanya terus melihat sosok itu seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Memiringkan sedikit kepalanya sembari mengumpulkan kesadarannya, jika apa yang sedang ia lihat ini adalah kenyataan atau hanya hayalan nya karena sebelum ikut bergabung ia memang merindukan sosok yang kini sudah berada tepat didepannya.

__ADS_1


Bersambung!


Ayo! jangan lupa like, vote dan comentnya ya!


__ADS_2