
Setelah Bastian melepas ciumannya Dini menatapnya, sejenak pikirannya terbang mengudara sejenak namun segera ia tersadar dan menggelengkan kepalanya.
"Aku kemar dulu kamu lanjutin makannya." Ucap Dini dan segera berjalan meninggalkan Bastian di sana.
Ia menatap kearah punggung Dini yang sudah berlalu memasuki kamar. " Dia marah gak ya?
ahh.. bodoh, bodoh." Umpatnya mengutuki sikapnya itu.
Tak lama ia pun masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya tersebut namun sepertinya Dini sedang tertidur diatas tempat tidurnya maka ia pun keluar dari kamar itu.
Padahal Dini hanya berpura-pura tidur saja, ia melakukan itu karena malu melihat sosok yang sudah menciumnya tadi.
Pikirannya teringat kembali dengan apa yang dilakukan Bastian terhadapnya, sejenak ia merasa terbang tinggi. Ada rasa ingin mengulangi itu tapi rasa malu nya kini lebih besar sehingga ia malu untuk berhadapan dengan orang yang memberikan sensasi ciuman kepadanya.
"Mungkin dia gak tau kali ya, kalau ia minta hal seperti itu pasti juga akan diulangi hehe..."
Mendengar suara mobil Bastian yang meninggalkan rumah, baru ia keluar dari kamar dan segera ia membuatkan mie instan untuknya.
Berhubung ia sudah sangat lapar jika harus memasak lagi terlalu lama pikirnya. Alhasil jadi lah jalan pintas itu.
Sore harinya Bastian pulang dari tempat ia bekerja yang tak jauh dari tempat ia tinggal bahkan asap dari pabrik tersebut masih bisa terlihat jelas dan suara boiler pabrik itu juga terkadang terdengar dari rumahnya itu.
Ia mencari sosok istrinya tersebut dan tujuan pertamanya yaitu kamar namun ia tidak menemukannya disana kemudian ia mencari kedapur tetapi ia juga tak menenukannya disana.
"Kemana dia? Din.Dini.Panggilnya sambil terus mencari istrinya itu.
Mendengar namanya dipanggil Dini pun segera menjawabnya.
"Ia. Aku di belakang rumah. " Teriaknya.
'Kamu ngapain disini?"
"Ah.. Cuman duduk aja! coba deh duduk sini." Ajaknya sambil menjuk bangku disebelahnya.
"Ternyata disini suasananya enak ya. "
"Hum... Rasanya nyaman. "
Dibawah pohon itu mereka berdua duduk bersama sembari menikmati indahnya suasana sore hari.
"Masuk yuk!" ajak Dini.
"Kok masuk sih? baru aja juga duduk. "
"Ya udah kalau kamu masih mau disini, aku masuk duluan." Terang Dini.
"Bentar dulu aja. " Pekik Bastian menarik tangan Dini yang hendak pergi meninggalkannya.
"Apa? "
"Sini dulu!"
"Apa sih? aku mau mandi nih. "
"Bentar aja Din. "
"Ya udah apaan?"
"Maaf ya soal yang tadi siang. "
"Udah lah Bas, gak papa ko."
"Tapi kan tetap aja Din seharusnya aku.." Kalimatnya menggantung diudara.
__ADS_1
"Udah ya Bas, ga usah dibahas lagi oke. "
"Ya udah deh kalau gitu, sana sudah katanya mau mandi."
"Umm kamu belum mau masuk?"
" Bentar lagi kamu duluan aja."
"Ya udah kalau gitu aku masuk. "
kemudian dibalas dengan anggukan oleh Bastian.
-
-
"Kamu ngapain?" tanya nya kepada Dini yang sedang memasak didapur untuk makan malam mereka.
"Aku mau masak soalnya makanan yang dimasak sama bude gak bisa aku makan terlalu pedas."
"Oh,, kamu masak apa?"
"Ayam kecap. " Terang Dini.
"Kamu sukanya yang manis-manis?" tanya Bastian.
"Gak juga sih, makanan apa aja asalkan jangan terlalu pedas. Kamu gak papa makan masakan bude tiap hari yang pedas gitu?"
"Emang kenapa?" sahutnya balik bertanya.
"Gak baik tau kalau tiap hari makan pedas. "
"Tapi kalau gak pedas mana enak. "
"Ya kan bisa level pedasnya itu dikurangi." Peringatan Dini.
"Bas, aku serius!"
"Sama aku juga serius kok Din. "
"Ih kamu tuh yah. "
"Canda Din, gitu aja ngambek."
"Siapa juga yang ngambek?"
" Ya kamu lah, emang ada orang lain disini selain kita berdua ha?"
"Tau ah! mulai besok aku aja yang masak, sayang makanan nya jadi kebuang."
"Ya udah terserah kamu aja."
"Kamu makannya pake apa? pake ini apa yang ini?" terang dini menunjuk makanan itu satu persatu.
"Coba yang ini deh. " Tunjuk Bastian kearah ayam kecap yang baru dimasak olehnya.
"Ya udah nih!" seru Dini meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan ayam kecap tersebut tepat di depannya.
"Um.. Enak!" ucap Bastian sembari mengunyah makanannya.
"Kamu bisa masak rupanya. " Ucap Bastian sambil mengunyah makanannya.
"Maksudnya apa coba? ya bisa lah kamu pikir aku gak bisa masak gitu?"
__ADS_1
" Ya bukan gitu juga."
"Trus apa?"
"Udah lah Din ntar jadi panjang urusannya, ya maaf. Sebenarnya aku gak nyangka aja masakan kamu ternyata seenak ini. " Terang Bastian.
"Ya aku ngerti kok maksud kamu. "
"Din.. Kamu kok mau sih dijodohin?" tanya Bastian di sela-sela makannya.
"Gak usah dibahas toh juga udah terjadi." Jawab Dini enggan untuk menjelaskan.
"Ya bukan gitu tapi kan aku pengen tau alasan kamu?"
"Udah ya Bas, aku gak mau bahas itu lagi."
"Kan salah lagi aku. " Batin Bastian".
"Okey ia aku gak bahas itu lagi. " Ucap Bastian.
"Ini anak susah banget dekatinnya".
Kini hanya suara dentingan sendok yang terdengar, canggung tentunya. Sampai selesai makan tidak ada lagi terdengar suara mereka berdua.
Dini segera membersihkan meja makan dan piring kotor sementara Bastian kini berada didepan televisi sambil menonton berita disalah satu stasiun televisi.
Bosan dengan acara televisi tersebut ia pun segera menyusul Dini yang sudah berada di dalam kamar.
"Kamu sedang apa?" tanya Bastian yang melihat Dini asik dengan ponselnya.
"Ini lagi balas cat dari teman aku. " Ungkapnya tanpa melihat ke arah Bastian dan tetap fokus dengan ponselnya.
"Din." Panggil Bastian.
"Umm."
"Ih dari tadi sibuk sendiri aku dicuekin!" gerutu Bastian.
"Apa?" menatap Bastian.
Sebenarnya kamu itu anggap aku ini suami mu apa gak sih?" Bastian yang sudah merasa frustrasi untuk mendekatkan diri dengan Dini.
"Maksudnya?" tanya Dini bingung.
"Bas, aku mohon jangan menyudutkanku seperti itu, aku butuh waktu untuk semuanya." Jelas Dini yang mulai paham maksud dari ucapan Bastian.
"Sampai kapan Din ha? jika kamu terus menghindar dari ku, apa bisa hubungan ini layaknya suami istri?"
"Aku bukan menghindar tapi aku harap kamu bersabar aku pasti akan membuka hati ku untuk hubungan ini sama halnya seperti dirimu tapi aku mohon pengertian mu."
"Baiklah jika itu mau mu, aku tidak akan memaksa mu dan aku harap kita bisa memulai semuanya dengan pelan-pelan."
Dini pun menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju dengan ucapan Bastian.
"Din." Panggil Bastian lembut sambil menatap wajah cantik itu.
"Ia, ada apa?"
"Nih, masukin nomor kamu." Sambil menyodorkan ponsel miliknya.
Astaga hubungan macam apa ini? mereka sudah menikah, tidur di kamar yang sama tapi nomor ponsel nya saja ia tak punya.
Parah banget ini namanya aduh!
__ADS_1
"ya harap maklum aja yah!
Jangan lupa vote like dan coment nya?!