Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Permintaan


__ADS_3

Mila sangat berterima kasih atas bantuan Faam yang secara tidak langsung menyelamatkan nyawa putranya.


"Baiklah para penjahat sudah tertangkap." terang Faam pada Mila.


Mila hanya diam daja mungkin dia masih syok atas kejadian tadi. Tidak di sangka suster yang selama ini ia percayai untuk merawat Hikmal ternyata malah ingin mencelakai anaknya.


Entah apa yang dia berikan hingga nampaknya Mila baru menyadari jika Hikmal tidak mengalami perkembangan dan malah semakin hari semakin buruk saja.


"Dan saya juga sudah menepati janji saya untuk datang berkunjung ke rumah bu Mila jadi waktunya kami untuk pergi." terang Faam yang segera menggandeng tangan istrinya mengajak nya untuk pulang ke rumah.


Jika tidak pasti bumil satu ini akan berulah dengan pergi bersama supir pribadi nya mungkin mengukur jalan.


Masih tidak ada jawaban dari Mila dia hanya menatap wajah anaknya dengan sendu, mungkin dia masih belum bisa menerima kenyataan jika suster kepercayaan nya ternyata adalah seseorang yang dia kenal.


Ana dan Wulan saling pandang, seharusnya Tuan Faam tidak terburu-buru meninggalkan tempat yang sangat kacau balau ini.


"Tunggu Tuan, apa tidak sebaiknya kita menunggu setidaknya satu jam lagi, mungkin Sonia ingin mengatakan sesuatu hal." tanya Ana yang me. buat bola mata Faam membulat sempurna.


"Mengatakan apa? Apa yang ingin di katakan oleh seorang penjahat, aku tidak mempunyai banyak waktu karena apa aku harus pergi sekarang." pekik Faam yang menggandeng istrinya agar cepat meninggalkan tempat ini.


Faam sebenarnya sangat takut jika ingatan tentang pria yang masih belum sadar kan diri itu sampai muncul, entah berapa cemburunya dia nanti jika itu sampai terjadi.


"Tunggu Tuan, saya mempunyai satu penawaran." Faam membalikkan badan dia mendengar seseorang tengah menawarkan sesuatu padanya roman-roman nya suaranya sangatlah tidak asing.


"Penawaran apa yang ingin kamu tawarkan?" tanya Faam segera duduk dan masih memegang tangan istri nya.

__ADS_1


Faam takut istrinya kabur.


"Tolong anak saya," ucap Mila yang memohon dengan sangat agar Faam kali ini saja mengabulkan permintaan nya.


"Tolong, apa yang saya bisa tolong, tapi saya juga akan mempunyai syarat dua syarat." Ana memandang Tuannya dengan tatapan mata membunuh.


"Ana tolong mata kamu di kondisikan, saya sedang serius kali ini. " ucap Faam memberikan kode agar mata Ana tidak seperti itu, karena apa seakan dia malah kalah galak dari pada asisten istrinya.


Ampun dah.


"Baik tuan." jawab Ana yang memperlihatkan senyuman termanis.


Kan tuannya selalu peka akan apa yang para anak buahnya ekspresi kan. Haduh!


"Coba anda katakan apa yang harus saya lakukan?" tanya Faam yang mulai bicara dengan nada yang serius.


"Jadi?"


"Tolong tampung anak saya di rumah sakit Tuan, soal biaya saya akan membayarnya." Faam malah tertawa akan hal konyol itu.


Sebenarnya dia itu hanya cemburu jika nantinya Hikmal siuman terus istrinya malah mengingat Hikmal di bandingkan mengingat suaminya sendiri, nasib memang nasib cemburu berat pada istri sendiri apa begini ya hidup itu? Kapan dia bisa bahagia dengan istrinya?


Semua orang yang ada di sana termasuk istri Faam menggaruk pelan kepalanya, hah rumah sakit? Sejak kapan Faam mempunyai rumah sakit?


"Sayang sejak kapan kamu mempunyai rumah sakit?" tanya Fiani yang ingin tahu.

__ADS_1


"Rumah sakit punya nya Nadia, adik ku, dasar sudah pikun." pekik Faam membuat Fiani kesal karena di ejek suaminya.


Yang benar itu bukan pikun tapi amnesia.


"Aku bukan pikun hanya saja... "


"Hanya saja apa? Amnesia? Gitu?" Fiani terkekeh.


"Lalu pikun sama amnesia apa bedanya?" Fiani mengeratkan giginya nih jika bicara sama suaminya bisa-bisa memang darah tinggi naik.


Nyebelin


Nyebelin.


"Baiklah saya akan dengan senang hati menampung anakmu di rumah sakit milik adikku, tapi dengan dua syarat."


Mila mendengarkan.


"Pertama anda tidak boleh datang ke rumah saya lagi, dan yang kedua setelah anak anda siuman anak anda tidak boleh bertemu dengan istri saya." Mila membulatkan mata mendengar syarat kedua.


Karena apa karena selama ini semangat hidup Hikmal hanya Fiani saja.


"Apakah anda keberatan?" Mila mengangguk dia keberatan dengan syarat yang kedua.


"Syarat yang mana yang ingin anda bandingkan?" tanya Faam serius.

__ADS_1


"Bisakah istri Tuan Faam menemui anak saya setidaknya satu kali saat dia sudah sadar nantinya?" Faam memegang pelipisnya kan baru juga ingin di halangi malah minta banding.


"Apa alasan Anda meminta hal demikian?" tanya Faam pada Mila yang nampaknya sangat ragu untuk mengatakan yang sesungguhnya.


__ADS_2