
Faam melihat seorang laki laki menatap manar mata Dilan apa mungkin dia ini keluarga dari wanita ini tapi dia kemana setelah sekian lama dan kemana dia saat istrinya ada di rumah sakit.
"Maaf... " Faam ingin bertanya namun Yusuf menggeleng dia berjalan mendekati makam tanpa nama itu membuat Faam. dan tentunya Fiani terkejut apa hubungan pria ini dengan makam itu? Apa mungkin dia kerabat nya?
Dan di satu sisi Faam tidak asing lagi dengan pria yang ada di belakang Yusuf bukan kah dia adalah Jery? Bukankah Wulan pernah bilang harus berhati hati dengan dirinya nak kenapa dia ada di sini?
Sampai di sini dia masih tidak mengerti.
"Bukan kah kamu adalah tuan Faam?" Faam hanya mengangguk saja.
"Apa yang tuan Faam lakukan di tempat ini?" Faam memandang Fiani ingin meminta bantuan berbicara dan mencari tahu apa hubungan antara Jery dan pria yang tengah duduk seraya menatap baru nisan ibu dari Dilan.
"Saya hanya mengunjungi ibu Dilan, saja dia meninggal saat Dilan di lahir kan."
Jery terkejut berarti anak yang ada di sebelah istri dari Faam adalah anak dari Yusuf, syukur lah jika seperti itu tandanya dia baik baik saja tapi kenapa pipi dari anak itu memar apa yang terjadi, apakah Faam memukul nya?
__ADS_1
"Lalu kenapa. dengan pipi anak. mu itu?" tanya Jery yang ingin tahu setidaknya anak dari Yusuf dan Cantika aman tidak ada gangguan dari seseorang lagi.
"Dia membela adik nya, dan dia yang kena pukul. " Dilan mengangguk menang itu yang terjadi.
"Iya, papa mama benar hehe... " Dengan senyuman polosnya Dilan tersenyum.
"Lain kali kita bertemu lagi ya tuan Faam, ada hal yang ingin saya tanyakan pada anda. " Faam hanya mengangguk pasti ini nada hubungan nya dengan Dilan.
Apa mungkin dia tahu siapa orang tua dari Dilan apa mungkin pria yang sedang menangis itu ayah dari Dilan, tapi dia tidak boleh menduga dulu jika iya bagaimana dia pun tidak ingin berpisah dengan anak nya.
Faam dan Fiani berlalu membawa anak kecil yaitu Dilan.
"Bro....Aku sudah tahu di mana anak mu berada. " Yusuf mengangguk saja dia masih tidak percayalah jika istrinya sudah meninggal.
"Kenapa dia meninggal kan diriku, kenapa dia membiarkan diriku sendiri di dunia yang kejam ini. " Yusuf berbicara seakan tidak ada penyemangat lagi.
__ADS_1
"Jangan bilang begitu bro... Nanti Cantika akan sedih, kamu tidak boleh bilang seperti itu karena ada harapan bagimu bro... "
"Harapan apa? Harapan ku sudah hilang, aku tidak bisa melihat istri ku lagi, apalagi anak ku."
"Anak mu masih hidup. " kata kata itu membuat Yusuf terkejut, apa maksud nya dengan masih hidup, jika anak nya masih hidup dimana dimana keberadaan nya dia sangat rindu.
Faam sangat cemas jika kedua pria tadi adalah keluarga dari Dilan bagaimana apakah dia akan berpisah dengan anaknya?
"Mas kamu kenapa?" tanya Fiani membuat Faam terkejut.
"Tidak, aku hanya memikirkan tentang siapa orang yang ada di sana tadi, apakah itu adalah keluarga dari Dilan?" Fiani juga tidak tahu jika itu memang keluarga dari Dilan artinya Dilan harus berpisah dari nya.
Tidak Faam tidak mau berpisah dengan anaknya.
"Menang nya jika iya kenapa mas, kan Dilan harus tahu keluarga nya. " Faam menggeleng.
__ADS_1
"Dia anak ku... " Fiani tersenyum menang suaminya sangat mencintai Dilan melebihi anak kandungnya sendiri kasihan suaminya jika Dilan di ambil Keluarga nya.
"Mas aku tahu kamu sangat mencintai Dilan, tapi kamu harus tahu Dilan juga harus tahu siapa keluarga nya berat mas memang tapi jika kamu tidak memberitahu dirinya sama halnya dengan kamu egois, jika kamu seperti ini aku takut suatu saat Dilan akan membencimu. " Faam terkejut, apakah begitu? Tapi dia tidak rela jika harus berpisah dengan anaknya.