
"Sayang..... kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Liana yang memandang ke arah Ardan dengan tatapan tidak mengerti.
Ardan menghela napas panjang sampai sekarang bahkan Faam susah untuk dihubungi lalu bagaimana caranya dia tidak kepikiran coba sejauh jauhnya Faam pergi pasti dia tidak akan pernah mematikan ponselnya tapi kali ini beda dia mematikan ponselnya dan tidak memberikan kabar semoga saja Faam baik-baik saja.
"Bagaimana mungkin aku tidak cemberut, bos ku tidak bisa di hubungi." Liana tersenyum ternyata yang di pikirkan oleh calon suaminya hanyalah Faam bukanlah Faam itu sudah dewasa lalu kenapa dia menghawatirkan dirinya seperti ini.
"Owh kau lebih memperhatikan bos mu itu dibandingkan dengan diriku baiklah." Liana berpura-pura marah padahal dia juga tau jika Ardan memanglah sangat khawatir mengingat Faam adalah orang yang sangat baik apalagi saya dia sedang kesusahan dan tidak mempunyai orang yang dapat menolongnya Faam lah yang menolong nya jadi wajar saja dia lebih tau tentang Faam bukan.
"Hey bukan begitu maksudku sayang, aku hanya khawatir tentang keadaan Faam, itu saja kok. " terang Ardan menjadi salah tingkah sendiri dia tidak ingin jika sampai Liana marah dan cemburu mengingat beberapa hari ini dia masih membicarakan tentang Faam dan melupakan Liana.
"Lalu apa kau tidak menghawatirkan diriku? Sudahlah lebih baik aku pulang." terang Liana berpura-pura marah.
"Hey baiklah, aku salah. Jangan marah seperti itu dong. Kemarilah.. " Liana tersenyum Ardan memang selalu seperti ini tidak pernah tega dengan dirinya.
Hanya saja kadang dia usil marah marah tidak jelas ya bagaimana lagi dia kan juga ingin perhatian dari Ardan biasa lah jika sudah fokus sama satu pria wanita akan lebih manja kepada pria itu sama halnya dengan Liana yang selalu ingin di perhatikan oleh Ardan sedangkan Ardan sibuk dengan tugas-tugas nya yang sangat banyak dan menumpuk seperti sebuah gunung saja.
Liana tersenyum dan duduk di dekat Ardan.
"Hey kenapa kau duduk di situ? Bukankah biasanya kau duduk di papaku sayang?" Liana tersenyum Liana sebenarnya menjaga jarak sih takut jika Ardan marah eh bukannya marah tapi dia malah menyuruh nya untuk duduk seperti biasanya.
"Lah aku kira kau marah padaku ya aku duduk di sini." Liana memandang Ardan dengan tatapan sendu.
"Kan aku sudah mengatakan padamu jika aku tidak marah, kenari lah." ucap Ardan sambil melambaikan tangan dan menepuk pahanya supaya Liana duduk manja seperti biasanya. Liana tersenyum dan segera duduk di pangkuan Ardan.
"Jangan bilang jika aku ini marah, aku tidak akan pernah bisa marah padamu kecuali saat aku hilaf." Liana teesenyum simpul dan melingkarkan tangannya ke leher Ardan.
Sebelum masuk Rendra sudah tidak enak, pasti ada abangnya dan calon istrinya pasti mereka sedang bermesraan di dalam hah sudah ini juga demi pekerjaan.
__ADS_1
Rendra malah diam saja tidak jadi masuk jika dia nyelonong saja pasti ada sesuatu jadi bagaiman jika sebaiknya dia mengetuk pintu untuk meminimalisir adanya kejutan yang membuat nasib jomblo hanya bisa mengelus dada melihat kemesraan antara Ardan dan Liana.
"Tunggu jika aku masuk nanti ada adegan yang tidak terduga ketuk pintu saja lah."
Tok
Tok
Tok
"Sayang siapa yang mengetuk pintu?" tanya Liana yang memandangi Ardan dengan tatapan tajam.
"Yang aku tau tidak mungkin jika Rendra kan? Jika dia pasti sudah masuk menyelonong tapi bisa aja memang dia." tegas Ardan memastikan.
"Bang aku masuk ok." teriak Rendra dari balik pintu.
"Ya gimana lagi kan kita selalu bermesraan terus apa kau tidak tau adikmu juga pria masa kau tidak tau, bagaimana jika aku duduk di sana saja aku tidak ingin membuat adikmu tidak fokus kerja." Ardan tidak bisa berbuat apa pun yang jelas memang benar adiknya itu laki-laki apa dia juga ingin lah jika ingin kenapa dia tidak mencari pasangan saja, idih menganggu orang pacaran.
"Lah gimana dong kan aku pengennya selalu sama kamu..." tegas Ardan pada Liana.
"Iya aku juga tau tapi kasihan adikmu itu selalu menjadi obat nyamuk terus." Ardan tersenyum ternyata Liana malu jika dilihat adik nya pantas saja dia langsung malu saat Rendra tiba-tiba masuk.
"Baiklah..."
"Bang apa aku boleh masuk, aku mau kerja nih."
"Sayang aku turun deh."
__ADS_1
"Nih tuh bocah satu gangguin orang pacaran!" dengus Ardan.
"Bang... " teriak Rendra di balik pintu.
"Masuklah... " setelah mendapatkan izin dari Ardan Rendra pun masuk dan melihat Liana yang sibuk sendiri dengan berkas-berkas yang harus ia selesaikan hari ini juga. Rendra nampak bingung nih kenapa abang dan Liana menjauh apa mereka sedang bertengkar tapi bukanlah kemarin mereka masih akur-akur saja.
"Bang kenapa kalian berjauhan biasa nya juga menempel seperti prangko." tanya Rendra ingin tahu.
"Kau itu apaan coba, sono kerja." ucap Ardan dengan nada ketusnya.
"Wah seperti nya mereka sedang marahan tapi kenapa? Apa gara-gara abang ku satu ini sibuk kerja dan tidak memperdulikan Liana lagi haduh bingung.
"Apa kau sedang marahan dengan calon ipar ku?" tanya Rendra ingin tahu.
"Marahan pala lu,"
"Waduh beneran marahan nih sama calon ipar nih." Ardan menghembuskan napas kasar karena bukannya berterima kasih nih bocah malah menganggap mereka tengah bertengkar wah serba salah mulu deh.
"Marah kami berdua baik-baik saja kok." lanjut Liana yang menjelaskan jika keduanya tidak apa-apa.
"Lalu kenapa kalian berdua berjauhan seperti ini?" tanya Rendra masih belum tau jika mereka sengaja berjauhan karena tidak ingin Rendra tidak fokus dalam pekerjaan.
"Dari pada kau itu banyak bertanya, lebih baik kau selesaikan pekerjaan mu saja." tegas Ardan dengan nada ketusnya.
"Baik lah jika seperti itu." ucap Rendra yang segera duduk di kursinya memandang sepasang calon pengantin itu dengan tatapan tidak mengerti apa yang terjadi dengan keduanya?
"Pasti mereka berdua tengah bertengkar, tapi masalahnya apa bukankah mereka berdua selalu romantis hingga membuatku iri karena nasib jomblo ku hah sebaiknya nanti aku tanyakan saja pada mereka deh." terang Rendra yang memandangi keduanya dengan teliti seakan ingin tahu apa yang mereka ributkan.
__ADS_1