Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Nasib Jomblo


__ADS_3

Faam melihat istrinya yang sedang tidur lelap ternyata hanya dia yang tidak tau tentang semua ini.


Dari tadi ponselnya terus saja bergetar pasti si Ardan dan Rendra yang masih sibuk menanyai dirinya kapan pulang kapan pulang hah mereka memang rese tidak bisa sabar ngapa.


Faam pun mematikan ponselnya tidak ingin ada siapa pun yang mencari nya.


Seharusnya ia menghilang saja bersama dengan Fiani jika dia pulang pasti Yuda akan membawanya pergi berobat tanpa sepengetahuan dirinya, bagaimana pun dia harus merawat istrinya apalagi mungkin tinggal sedikit waktu untuk membahagiakan istrinya.


"Bagaimana apakah kau sudah menghubungi Faam dari semalam ponselnya tidak aktif aku takut jika dia kenapa-kenapa." ucap Ardan panik sendiri karena ponsel Faam sulit untuk di hubungi tak seperti biasanya.


"Haduh, abang terlalu menghawatirkan dirinya lagi pula dia sudah besar buat apa kau terlalu cemas seperti itu lebih baik kita selesaikan tugas kita dulu ini banyak banget proposal nya." Ardan hanya bisa menghembuskan napas kasar tidak ada jalan lain selain dia tidak terlalu cemas tapi bagaimana mungkin dia tidak cemas Faam bukanlah orang yang tiba-tiba menghilang selain dia mempunyai rencana lain apa ada seseorang yang mencoba untuk mencelakai nya ah tidak mungkin Faam itu tidak mempunyai musuh.


"Ah kenapa dengan pikiranku," dengus Ardan marah-marah tidak jelas.


"Abang ini sudah lah kau terlalu mencemaskan dirinya lebih baik kau membantuku saja menyelesaikan pekerjaan, sudah lah bang nanti kita coba menghubungi nya lagi. " ucap Rendra yang masih bergelayut dengan proposal.


"Bang, aku mau tanya apa kau serius ingin menikah dengan Liana mengingat pernikahan kalian hanya tinggal lima hari lagi?" tanya Rendra ingin tahu sekali.


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak merestui hubunganku dengan orang yang aku cintai?" Rendra menelan ludahnya kan pikiran abangnya terlalu jahat ya mana mungkin dirinya tega melakukan itu, melihat abangnya bahagia saja sudah cukup kok ini kok menuduhnya yang tidak tidak dasar bocah.


"Abang nih asal nuduh aku terus, ya mana mungkin aku tidak merestui hubunganmu dengan Liana, aku hanya tanya jika pekerjaan kita belum selesai bagaimana kan abang nikahnya kan tinggal lima hari lagi iya kan."


"Terus apa kau mau mengatakan jika aku akan bingung mengurusnya gitu? Kau salah aku sudah mengaturnya jadi aku tinggal Terima beres saja dan yang aku pikirkan itu satu nih bos kita sudah kembali atau belum itu yang menjadi masalahnya."

__ADS_1


"Aku juga memikirkan itu..." ucap Rendra tak berselang lama Liana pun datang awalnya banyak diantara karyawan kantor yang mempertahankan Liana tapi mereka salah yang Liana cari bukanlah Faam melainkan Ardan.


Mereka kira akan ada sebuah drama lagi tapi tidak bahkan Liana tidak membuat kekacauan sama sekali.


"Sayang apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Liana yang menghampiri Ardan.


"Sayang kenapa kau datang bukanlah kau masih belum sembuh benar? Sebaiknya kau beristirahat saja." ucap Ardan mencemaskan keadaan Liana.


"Kamu sudah dua hari tidak menemui ku apakah kau sesibuk itu hingga melupakan aku yang merindukan mu di rumah?" tanya Liana dengan nada sedikit seperti anak-anak yang meminta mainan.


"Maaf sayang, bukannya aku tidak merindukan mu tapi pekerjaan diriku masih belum juga selesai kan aku harus melaksanakan tugas ku dulu." terang Ardan sambil membolak-balikkan beberapa lembar kertas.


"Nah bukanlah Kakak ipar ku ini bisa menolong pekerjaan kita berdua lagian dia juga ahli dalam hal ini kan," ucap Rendra seakan ingat jika masalah ini pasti akan dapat di selesaikan jika Liana ikut membantu pekerjaan mereka yang sudah menumpuk layaknya gunung.


"Harus gitu ya kakak ipar?" tanya Rendra serius tapi sebenarnya dia hanya bercanda sih.


"Sebaiknya kau istirahat saja, kau ini Liana masih sakit kau malah memintanya untuk menolong kita dasar." dengus Ardan memaki adiknya.


" Ce elah, aku cuma ingin pekerjaan kita selesai itu aja lagian kakak ipar ku seperti nya tidak keberatan kok lah kenapa abang yang sewot sih."


"Kau!!" ucap Ardan geram dan ingin menampol adiknya yang main perintah calon istrinya layaknya temannya saja.


"Sudah lah sayang, kau tidak perlu marah pada adikmu lagian jika aku membantu kalian kan pekerjaan mu akan lebih cepat selesai kan, sudah aku tidak apa-apa kok, ya sudah mana proposal nya tidak akan selesai jika kalian berdua terus bertengkar terus."

__ADS_1


"Tuh kan kak kakak ipar saja tidak masalah," ucap Rendra merasa kemenangan sekarang ada di pihaknya jadi saat dia melihat wajah masam kakaknya rasanya dia sangat luas terlebih Liana juga mengiyakan saja.


"Sudah lah sayang jangan seperti itu pada adikmu, aku pasti akan membantu kalian sebisaku, lagi pula apa kau lupa kan pekerjaan ku dulu sama seperti dirimu. Tapi sekarang aku pengangguran hehe." ucap Liana tertawa kecil.


"Kali ini kau bisa menang tapi lain kali pasti kekasih ku akan membela diriku." Liana tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang nampak cemburu ketika dia lebih memilih membela Rendra dari. pada mendengarkan ucapan darinya.


"Sayang sudahlah begini saja aku akan menyelesaikan tugasmu saja biar adikmu menyelesaikan yang lain dan kau istirahat saja dan kau harus makan masakan dariku." ucap Liana yang mengeluarkan dua buah bekal untuk kekasihnya dan adiknya pasti keduanya kelelahan dan melupakan makan.


"Buat aku mana kakak ipar aku juga kelaparan di suruh kerja rodi dari tadi pagi. " ucap Rendra apalagi bau masakan dari Liana membuat dirinya menjadi kelaparan.


"Tenang ini aku sudah membawakannya juga untukmu makanlah," Rendra segera meloncat dari kursinya dan langsung menyambar makanan yang di bungkus plastik berwarna putih buram itu.


Rendra membuka bekal dari Liana wah baunya sangat enak, wah jika dia sudah punya istri pasti istrinya akan memasakkan makanan untuknya setiap hari wah menyenangkan jika membayangkannya tapi jika sedang marahan bagaimana ya apakah dia akan meladeni nya atau kan dia akan kabur duluan kan wanita itu identik dengan jurus mautnya yaitu apa marah dan ngambek itu membayangkannya saja tidak bisa.


"Wah jika punya istri pasti aku akan dimasakkan makanan seperti ini tapi bagaimana mungkin punya pacar belum jomblo iya nasib jomblo."


"Heh kenapa jadi kau cerita sedih seperti itu makannya sono cari pacar biar pacarmu kau suruh masak untuk mu." jelas Ardan sambil mengejek adiknya yang iri dengannya.


"Iya deh iya. Tapi cari cewek itu susah apalagi banyak dari cewek zaman sekarang itu ya gitu lah susah untuk di atur jadi bagaimana nasib jomblo, dan ingat kalian berdua jangan bermesraan di depan jomblo jika tidak ingin di tampol jomblo."


"Sayang seperti nya kita di kode keras jomblo hahaha..." ucap Ardan memandangi Liana.


Namun Rendra tidak perduli yang ia fokuskan adalah melahap makanan yang dibawakan Liana.

__ADS_1


__ADS_2