
"Baiklah aku tidak akan bantuin mereka, tapi kasih lah aku kegiatan masa harus kerja sama Yuda saja." Faam terkekeh bukan kah yang memaksa bekerja dianya sendiri? Lah dianya yang aneh sendiri.
"Kau itu aneh sekali ya sayang, bukannya kau sudah sibuk bekerja kau malah ingin menambah kegiatan lagi? Apa kau tidak kecapean?" Tanya Faam dia juga tau seorang wanita tugasnya sudah sangat banyak lah istrinya seakan ingin mencari kegiatan lain lagi dia tidak ingin jika istrinya sampai kelelahan.
Faam ingin hanya dia yang bekerja, tapi sudahlah dia juga tidak ingin jika Fiani sedih karena dia melarangnya.
"Tidak, bukanlah lusa aku juga harus bekerja dengan Yuda lagi hah pasti numpuk nih kerjaan." ucap Fiani seakan mempunyai pekerjaan yang banyak padahal sebenarnya dia harus ke rumah sakit untuk terapi. Akankah kebohongan ini nantinya terungkap semoga saja Faam tidak akan kecewa padanya.
"Istriku ternyata susah gila kerja rupanya?" tanya Faam sambil menenteng tas milik istrinya.
"Bukan gila kerja kok sayang, aku cuma tidak ingin kau bekerja sendirian sedangkan aku hanya berpangku tangan saja." Jelas Fiani membuat Faam diam ternyata istrinya memikirkan dirinya padahal dirinya juga memikirkan Fiani.
"Bukankah tugas seorang istri untuk bergantung pada suaminya?" tanya Faam sambil tersenyum.
"Memang kau tidak marah jika hartamu aku habiskan?" tanya Fiani sambil mengambil tasnya dari tangan suaminya.
"Ya jika kau ingin menghabiskannya silahkan jika kau mampu melakukannya haha. " Jawab Faam sambil tertawa renyah.
"Baiklah ini ada kartu pakailah sesuka kamu dalam dua minggu harus habis dan jika kurang kau minta lagi padaku, isinya lebih dari satu milyar." Fiani menggeleng pelan nih dalam dua minggu harus habis? Mau di pakai apa coba? Buat terapi saha tidak akan habis dalam dua minggu haduh suami nya memang pengertian tapi dia harus membohonginya untuk saat ini.
"Hah, satu Milyar? Sayang itu kebanyakan." ucap Fiani memandangi wajah suaminya.
"Tidak sayang, uang segitu tidak akan ada artinya bagiku, kau tau aku lebih memilih kehilangan uangku dari pada harus kehilanganmu." Fiani menelan air liurnya entah kenapa ucapan Faam membuat hatinya menjadi sakit, seharusnya dia jujur tentang semua ini tapi jika dia jujur bagaimana apa yang akan Faam lakukan pasti dia heboh sendiri.
"Memangnya harus aku apakan uang segini banyak?" tanya Fiani ingin tahu.
''Terserah kamu lah. Mau kamu buta teraktir temen kamu, beli baju, sepatu terserah lah tapi itu jatah kamu satu bulan ok. Ya udah dari pada ribut dengan uang yang enggak seberapa itu lebih baik kita jalan-jalan bagaimana? Kita pergi ke pantai bagaimana?" tanya Faam Fiani tersenyum saja.
"Bukankah tadi kau ingin pergi belanja nah kok jadi ngajakin aku ke pantai?" tanya Fiani yang bingung sendiri dengan suaminya lah yang bener yang mana?
"Ya memang benar kita belanja hari ini setelah itu kita pergi ke pantai menikmati pemandangan saat matahari akan tenggelam bukankah tadi kau bilang jika kau menyukainya? " Fiani tersenyum bagaimana mungkin dia bisa menyakiti hati suaminya? Faam sangat amat menyayanginya tapi apakah nantinya saat Faam tau jika Fiani mempunyai penyakit dia akan meninggal kan dirinya?
"Nah kan diam lagi?" ucapan Faam membuat Fiani yang tadinya sibuk dengan pikirannya sendiri pun tersentak kaget.
__ADS_1
"Hah." ucap Fiani.
"Kan semakin banyak bengong itu tidak baik." ucap Faam segera menarik lengan istrinya untuk keluar karena dari tadi masih saja tertahan.
Fiani pun mengikuti Faam yang menarik lengannya menuju mobil miliknya.
"*Kenapa dengan dia? Dia sibuk bengong mulu apakah pekerjaan yang diberikan Yuda terlalu banyak kasihan istriku sampai berpikir keras nanti jika aku menemui Yuda aku kasih dia pelajaran." batin Faam melihat ke arah Fiani sedangkan Fiani hanya diam saja.
"Bagaimana? Bagaimana caranya aku mengatakan pada suamiku? Jika aku sakit, dia sangat mencintai ku dan tidak ingin kehilanganku sedangkan diriku ini apa aku saja tidak bisa mengatakannya."
"Nah kan, dia melamun lagi? Apa sih yang istriku pikirkan semoga saja Yuda tidak terlalu memberikan pekerjaan yang teramat berat*.
"Ya sudah kita pergi, jangan kau pergi melamun terus." ucap Faam yang menjalankan mobilnya menuju pusat perbelanjaan.
Fiani dari tadi hanya diam menatap ke luar jendela, ia masih bimbang dengan hatinya.
"Dari tadi dia hanya melamun, sebenarnya apa yang dia pikirkan sampai segitunya? Apa dia tengah menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Faam dalam hatinya.
"Sayang... Kau ingin beli baju saja nanti?" tanya Faam mencoba untuk merubah suasana yang hening.
Fiani hanya diam diam masih memperhatikan jalanan.
"Nah kan dia diam lagi? Kenapa dengan istriku pasti memang benar ada hal yang di sembunyikan dirinya tapi apa?" tanya Faam alam hatinya dia sangat bingung dengan tingkah istrinya terlebih bagi saat dia bertanya beberapa hal tapi dianya malah seakan memikirkan sesuatu.
Keduanya sekarang sudah sampai di pusat perbelanjaan.
Faam memperhatikan istrinya yang hanya berlaku pada jalan.
Sebenarnya Faam ingin bertanya tapi Faam ragu.
Faam dan Fiani melangkah menuju toko pakaian. Fia hanya diam ya memang istrinya bukan tipe wanita yang gila belanja Fiani setiap pergi ke pusat perbelanjaan pasti hanya diam yang heboh malah dirinya.
Fiani duduk memperhatikan suaminya yang heboh mencari pakaian.
__ADS_1
"Kenapa kau hanya duduk?" tanya seorang pria pada Fiani.
Fiani hanya diam memandang saja tidak. pria itu semakin kepo dengan wanita yang ada di hadapannya.
"Bolehkah saya duduk?" tanya seseorang itu.
Fiani melirik dan kembali fokus pada ponselnya.
"Rehan?" ucap Faam tiba-tiba. Kenapa dia ada di sini bukankah nih anak harusnya kuliah di luar negeri? Nah kenapa dia ada disini?
Fiani melirik saja.
"Bukankah kau kuliah di luar negeri?" tanya Faam.
"Aku ada praktek di sini di rumah sakit di kota, "
"Wah temenku sekarang sudah menjadi dokter ya?" Rehan tersenyum.
"Owh ya kenalin, ini istriku kenapa kau tidak datang ke pernikahan ku, kau ini memang tega sekali padaku ya!"
"Jangan membuat cerita sedih." terang Rehan.
"Aku itu baru juga nyampe loh, bela belain ambil praktek di Indonesia. Demi melihat siapa loh." Faam tersenyum nih temannya suka sekali membuat dirinya aneh sendiri.
"Iya, iya aku tau kok." terang Faam.
"Bentar, dia? Istri mu?" tanya Rehan.
"Iya memang nya kenapa?" tanya Faam ingin tahu jangan bilang jika dia mau menggoda istrinya.
"Tadi aku godain dia."
"Apa?"
__ADS_1