Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Penganggu


__ADS_3

Tak berselang lama ada stau panggilan masuk sebenarnya Ardan malas jika saat bekerja ad sorang yang menelpon namun saat Ardan melihat siapa yang menelpon matanya pun membulat sempurna dan segera mengangkat panggilan dari seseorang itu.


"Kenapa kau selalu menelpon ku, kau tau kan jika aku dan istri ku sedang liburan kau ini menganggu saja, " ucap Faam dengan nada kesalnya.


"Hey bukannya aku ingin menganggu tapi pekerjaan ku ini yang butuh bantuan dirimu bos," pekik Ardan dengan nada kesalnya.


"Ck kau ini, bukan kah itu tugas mu kenapa kau seakan memaksaku untuk pulang?" tanya Faam sebal dengan Ardan kenapa dia selalu saja menganggu si saat saat seperti ini apa dia tidak tau apa yang sekarang ia pikirkan bagaimana mungkin ia bisa rela pulang jika istrinya sekarang tidak bisa lagi bertahan lama. Faam juga tidak ingin jika dia pulang nanti Fiani akan meninggalkannya sendirian.


"Bos ku yang terhormat, bukankah ini memang sudah saatnya bos kembali! lagian kenapa bos bulan madunya lama sekali?" tanya Ardan ingin tahu.


"Suka suka aku lah, lalu buat apa aku mengaji mu mahal-mahal bukan kah itu sudah menjadi tanggungan mu, sudah lah kau tidak tau apa alasanku yang sebenarnya sudahlah lebih baik kau bekerja aku tidak sanggup jika harus pulang." Ardan menggaruk kepalanya yang tak gatal apa yang bosnya coba katakan hah nih otak kenapa loading di saat yang seperti ini.


"Apa bos kelelahan, baiklah aku mengerti bos, " ucap Ardan sambil cengengesan.


"Kalau kau dekat pasti mulutmu itu sudah aku sumpah pakai kain pel, " Ardan malah tertawa mendengar ancaman bosnya yang sangat serius.


"Haduh ternyata aku mengganggu acaranya bos untuk membuat bos kecil rupanya, hahaha baiklah bawahan ini tidak akan menganggu bos lagi." ucap Ardan yang segera menutup telponnya.


Faam membuang ponselnya ke kasur nih dasarnya memang Ardan rese malah dia mengatakan hal yang membuatnya jadi aneh sendiri ah memang nasib.

__ADS_1


"Sayang kenapa dengan dirimu?" tanya Fiani yang ingin tahu kenapa suaminya marah-marah tanpa sebab yang pasti.


"Biasa lah tukang ribut, siapa lagi jika bukan Ardan, dia memintaku untuk pulang bukanlah liburan kita masih belum berakhir?" tanya Faam pada Fiani namun jika di hitung memang pantas lah Ardan itu marah bagaimana tidak tugas dari Faam sangat lah banyak dan ini sudah lewat dari tanggal kepulangan mereka. Pasti Ardan sangat kualahan menghadapi situasi dimana dia harus pergi dan menemui kolega-kolega mentalnya saja seperti es baru bisa mencari kapan pun lah ini bosnya malah meninggalkan dirinya begitu saja.


"Sayang Ardan mungkin saat ini sedang mencemaskan keadaanmu, dia hanya mencari-cari alasan saja. Begini sayang kita sudah liburan terlalu lama." Faam menjadi manyun sendiri bagaimana bisa dia pulang pasti di rumah dia juga tidak fokus dalam masalah pekerjaan, pasti yang dia pikirkan adalah apakah istrinya akan baik-baik saja, apakah istrinya tidak akan membohongi nya lagi, jika dia kembali namun kenyataan pahit pun datang bagaimana, bagaimana dia sanggup menghadapi kenyataan yang memilukan seperti ini.


"Liburan kita terlalu lama, apa kau tidak mau menghabiskan waktu mu dengan suami mu ini?" tanya Faam dengan nada merengek Fiani pun bingung bukannya dia tidak menikmati masa liburan mereka tapi ini sudah lewat masa bulan madu jadi Faam pasti sangat di butuhkan di perusahaan bukan.


"Eh.." Mulut Fiani tersekat.


"Bukan kok, bukannya aku tidak menikmatinya hanya saja anak buah mu itu menghawatirkan tentang dirimu jadi."


Faam menggeleng pelan yang ada bukan menghawatirkan tentang Faam tapi sudah seperti ibu hah enggak jelas juga kadang tuh anak satu.


"Sayang.... Bukan! Bukan itu maksudku janganlah marah, aku kan cuma kasihan saja melihat Ardan dan Rendra itu saja." ucap Fiani mendekati suaminya yang sudah seperti anak kecil marah-marah tidak jelas biasanya juga dirinya yang marah-marah seperti ini kenapa jadi suaminya ikut-ikutan?


"Lalu apa kau juga tidak kasihan padaku?" tanya Faam membuat Fiani terkekeh kasihan kasihan untuk apa? Dan dalam masalah apa?


"Kasihan? Kenapa?" tanya Fiani membuat Faam malas untuk menjawab dan malah memalingkan wajahnya. Faam tidak ingin Fiani melihat kearah nya kenapa sih dia selalu saja tidak perduli pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ah sudahlah kau tidak akan pernah mengerti perasaan suamimu." terang Faam dengan nada juteknya.


"Hey sayang, aku tau kok perasaan mu padaku aku juga paham jik akau ingin selalu bersamamu tapi..."


"Nah itu tau, kan aku bosnya kenapa kau memikirkan mereka? Aku juga ingin liburan kok itu saja dan mungkin pasti aku akan merindukan mu."


Fiani tersenyum merindukan dirinya kenapa bisa?


"Merindukan ku, bukankah setiap hari kau bisa melihatku kenapa bisa kau merindukan ku?" tanya Fiani ingin tahu.


"Ck, kau ini aku itu mencintai mu." ucap Faam memandangi wajah istrinya.


"Ah benarkah seperti itu?" tanya Fiani.


"Aku hanya khawatir saja saat aku ke kantor dan kau di rumah siapa yang akan menjagamu? "Fiani tersenyum.


" Aku kan sudah bekerja bersama Yuda kenapa kau masih khawatir juga."


"Pekerjaan, apa kau itu lebih memilih bersama Yuda dari pada mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, kenapa kau melakukan hal ini? Padaku sedangkan aku sebagai suami mu juga ingin tahu apa penyakit yang kau derita. Apa kah aku tidak boleh tau tentang hal ini? Apa mungkin kau berpikir jika aku akan membuang mu saat aku mengetahui jika kau sakit?" tanya Faam dalam hatinya.

__ADS_1


"Hah bagaimana jika aku berbicara dengan Yuda mengenai ini." terang Faam yang segera pergi meninggalkan rumah sebelum pergi Faam meminta beberapa orang untuk mengawasi istrinya takut jika sesuatu tiba-tiba terjadi saat dia pergi. Apalagi rumah ini letaknya sangat jauh dari pemukiman penduduk.


Fiani tidak bisa berbuat apapun, dia hanya bisa melihat Faam yang pergi dengan kemarahannya, apakah tadi dia salah bicara? Tapi kan dia tidak bermaksud mengatakan hal itu.


__ADS_2