
Ponsel Dini berdering dan segera ia melihat panggilan tersebut, ternyata sahabatnya Sani yang menelponnya.
D: Halo San!
S: Halo Din, kamu lagi sibuk gak nih?
D: ngak kok San, emang ada apa?
S: Nurita sakit Din, sekarang ia dirawat dirumah sakit A.
D: Nurita sakit apa San?
S: Aku juga belum tau Din sakit apa, tapi kemungkinan dia kecapean deh soalnya dia tiap hari lembur semenjak kamu gak ada dia yang hendel semua.
D: Kasihan juga Nurita sampai ia lupa dengan kesahatannya.
S: Oya Din, aku dan Fando besok siang ingin menjenguknya kamu bisa ikut gak?
D: Ntar deh aku usahain biar bisa ikut.
S: Benar ya Din!
D: Ia San.
S: Ya udah kalau gitu sampai ketemu besok di rumah sakit. Tutur Sani mengakhiri telponnya.
"Siapa yang menelpon?" selidik Bastian.
"Teman aku Sani, dia ngajakin aku jenguk teman kami yang lagi dirumah sakit."
"Kapan?"
"Dia bilang sih besok."
"Ya udah besok aku antar kerumah sakit." Terang Bastian.
"Beneran? " tanya Dini memastikan ucapan Bastian.
"Ia besok siang tapi setelah jam makan siang, ga papa kan?"
"Ia ga papa, kalau gitu aku kabarin Sani dulu biar besok ketemu disana." Terang Dini.
Keesokan harinya mereka pun akhirnya sampai di rumah sakit tempat Nurita dirawat, mereka berdua segera menuju ke ruangan yang sudah di beritahukan oleh Sani.
Dari kejauhan Dini melihat suami Nurita yang sedang duduk di dekat ruangan rawat Nurita dan segera ia menghampirinya.
"Mas Adit. Gimana keadaan mba Nurita?" Tanyanya.
"Dia udah mendingan kok Din, kamu masuk aja didalam ada Sani dan Fando." Jelas Adit.
"Ia deh mas kalau gitu kami masuk dulu."
"Ini siapa Din?" tanya Adit.
"Oh ia kenalin mas ini Bastian suami aku."
"Suami kamu?" tanya Adit heran.
Bastian pun mengulurkan tangannya ke Adit. "Bastian."
__ADS_1
Kemudian Adit pun menyambut uluran tangannya untuk bersalaman satu sama lain "Adit."
"Ya udah silahkan masuk. " Kata Adit sambil membukakan pintu.
Dini dan Bastian pun masuk keruangan tersebut dan langsung disambut oleh Sani dengan pelukan kemudian Dini pun memeluk kedua sahabatnya itu secara bergantian.
Sani menyenggol lengan Dini sembari mengarahkan pandangannya kearah Bastian, Dini yang mengerti maksud dari Sani pun segera angkat bicara.
"Kenalkan ini Bastian suami aku. " Terang Dini yang membuat kaget semua orang yang berada disana.
Kemudian Bastian pun mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya kepada sahabat istrinya itu.
Bastian memperkenalkan dirinya. "Senang bertemu kalian. " Ucapnya sembari menyalami mereka secara bergantian.
"Apa, suami? kok kamu gak kasih tau kalau udah nikah? emangnya kita bukan teman kamu lagi apa?" protes Sani.
"Bukan gitu San. "
"Trus apa?"
"Udah deh San, gak usah bahas hal yang gak penting sekarang kan Dini udah kenalin suaminya. Itu kan udah keputusan dia jadi kita dukung dong." Terang Nurita.
"Tau tu, bagus dong Dini udah bisa move on!" Fando menimpali.
"Ya bukan aku gak senang, cumankan seharusnya Dini kasih tau biar kita juga bisa datang di pernikahan mereka."
"Ia ia... Aku faham kok maksud mu San, ceritanya panjang udah gak usah dibahas lagi ya. " Pinta Dini.
"Ya udah deh kalau gitu, apa pun itu untuk kebahagiaan kamu kami pasti dukung Din." Ucap Sani.
"Makasih ya kalian memang sahabat aku yang terbaik."
"Din... " Panggil Nurita
"Ia ada apa mba?"
"Kamu bisakan balik lagi kerja sama aku?"
"Mba... Aku gak bisa. "
"Kamu gak kasihan sama aku apa? semenjak kamu gak kerja lagi aku kewalahan tau gak, biasanya ada kamu yang bantu aku sekarang semua harus aku yang hendel." Lirih Nurita.
"Kan mba bisa cari pengganti aku buat bantu mba."
"Sani udah aku tunjuk sebagai ganti mu tapi dia belum bisa seperti kamu Din, dia juga butuh waktu belajar supaya bisa seperti mu maka dari itu kamu mau ya balik kerja." Mohon Nurita.
"Ia Din, kamu kan udah lama di bagian QS jadi kamu tau banyak hal. Tolong lah kami kali ini! " tambah Sani menimpali.
"Tapi." Jawab Dini menggantung sambil melirik Bastian, sementara yang dilirik hanya mengangkat bahunya sihingga membuat ia bingung.
"Gini deh ntar aku pikir-pikir dulu ya sekalian juga mau minta ijin dulu sama suami aku. " Tuturnya sambil melirik kembali.
"Ya udah deh kalau gitu tapi aku harap kamu kasih kabar baik. " Tambah Nurita.
"Wah Fan, kita bakalan rame lagi dong secara ntar lagi Dini bakalan kerja lagi." Sani merasa senang.
"Betul tu San, jadi kan kita bakal ngumpul lagi, kangen aku masa-masa kita bercanda bersama." Jelas Fando sembil tersenyum mengingat kebersamaan mereka.
"Kan belum tentu juga Fan, aku kan belum bilang bakalan kerja lagi." Terang Dini.
__ADS_1
"Aku tau kamu Din, kamu pasti gak bakalan buat kami kecewa." Fando
*
*
Di perjalan pulang
"Bas.."
"Ia kenapa Din?"
"Kalau seandainya aku balik lagi kerja, kamu ngizini aku gak?" tanya Dini.
"Aku sih terserah kamu aja Din mana baiknya menurut kamu aja asalkan tidak lupa kalau kamu sekarang udah punya suami."
"Ia aku gak akan lupa itu, makasih ya Bas. "
"Uumm.."
***
Hari ini Dini mulai lagi bekerja di PT tempat ia bekerja sebelumnya, ia dan Nurita sedang berada diruangan pak Maikel sang CEO perusahaan tersebut.
Sebenarnya ia sedikit takut berhadapan dengan Maikel karna ia tau pasti akan kena omel nantinya.
"Lu kenapa kemarin berhenti, sekarang masuk lagi? " Selidik Maikel dengan logat cina malaysianya.
"Maaf pak, kemarin saya berhenti karna saya mau nikah trus sekarang saya mau bekerja lagi atas tawaran dari ibu Nurita tapi jika bapak tidak berkenan saya kembali lagi bekerja tidak apa-apa, saya mengerti semuanya sudah ada aturannya."
"Nurita sudah cerita semuanya, ya karna memang kondisinya berpihak pada lu orang ya udah lu bisa kerja lagi tapi ingat lu harus bisa jaga kepercayaan yang udah lu dapat sekarang. Jangan sampai nanti pegawai lain beranggapan buruk karna lu bisa bekerja lagi." Jelas pak Maikel.
"Ia pak saya janji tidak akan mengecewakan bapak dan ibu Nurita sebagai atasan saya."
"Ya sudah lu orang bisa kembali bekerja." Perintah sang CEO.
"Terima kasih pak, permisi. " Terang Dini sambil membungkuk kan badannya dan berlalu meningalkan ruangan tersebut bersama dengan Nurita.
"Sekarang aku mau langsung kelapangan aja, ibu masih mau disini?" tanyanya kepada Nurita.
"Santai aja kali Din, gak usah panggil ibu lagi kan cuman kita berdua aja."
"Ia deh bu bos. " Gurau Dini.
"Lidernya mana ini!" suara Dini yang terdengar setengah berteriak karena suara mesin pumtes yang begitu nyaring.
Sontak semua karyawan menoleh kearahnya dan membuat para Karyawan terkejut melihat keberadaannya. Karna ia dikenal begitu tegas dalam masalah pekerjaan.
-
-
-
-
Bersambung
Tinggalkan jejak kalian ya! vote, like dan comentnya buat author.
__ADS_1