Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Pacar??


__ADS_3

Sedari tadi Faam hanya diam saja, dia masih sangat sebal dengan Fiani, tapi menyakitkan sih dia masih saja ingin menemui pria itu padahal sudah di larang.


"Nih si pria cerewet kenapa diam saja, apa dia marah padaku? Kan aku tadi hanya menggodanya, gitu aja terus di masukin ke hati." batin Fiani memandang sosok pria yang jauh dari pandangannya.


Faam memang dari tadi hanya diam saja, namun selalu mengikuti kemana pun istrinya pergi, Faam hanya takut jika dia diam diam menemui pria itu, memang sih dia tidak tau apakah pria itu lebih tampan darinya atau tidak yang pasti dia kesal jika istrinya menyebut pria lain selain dirinya.


"Nona, apakah Nona dan Tuan sedang bertengkar?" tanya Ana yang ingin tahu karena dari tadi Faam selalu diam saja tidak mengatakan apapun tapi yang jelas setiap mereka pergi kemana pun pasti Tuan Faam akan mengikutinya.


"Ah tidak kok Na, tadinya sih aku hanya bercanda pada suamiku itu tapi dia selalu saja menganggapnya serius." ucap Fiani.


"An apakah suami ku tadi sudah makan?" tanya Fiani membuat Ana menggeleng yang dia tahu sedari tadi sih Tuan hanya mengikuti kemana pun Fiani pergi.


Mungkin saja Faam belum makan.


"Belum Nona, memangnya kenapa Nona?" tanya Ana yang ingin tahu.


"Ah tidak, aku hanya ingin memasak untuk nya." Terang Fiani membuat Ana mengangguk eh tapi apakah Nona Fiani tahu caranya memasak? Ataukah dia lupa?


Di sisi lain Maya memandang anaknya yang masih tidak sadarkan diri, apakah memang benar apa yang dikatakan suaminya Deden jika memang dia yang bersalah? Apakah dulu memang dia yang egois?


Apakah dia dulu terlalu memaksakan kehendaknya sendiri?

__ADS_1


Jika saja waktu akan dapat di ulang dia akan memilih untuk membuat anaknya bahagia, dia tidak ingin anak semata wayangnya menderita seperti ini.


Sudah hampir tiga tahun telah berlalu, namun anaknya masih saya tidur seperti ini.


"Nyonya.. " ucap seorang perempuan yang tidak lain adalah orang yang di tugaskan merawat Hikmal mungkin wanita itu susah dua tahun bekerja dengan Mila.


"Tinggalkan aku sendirian." Wanita itu segera meninggalkan ruangan tanpa bertanya lagi dia sudah tau mungkin nyonya besar ingin melihat kedaan putranya.


Memang Mila sengaja tidak merawat Hikmal di rumah sakit karena ia sangat khawatir jika seseorang tanpa sepengetahuannya mencoba untuk membunuh anaknya.


Sudah hampir tiga kali berturut-turut kejadian itu menimpa anaknya, entah siapa yang melakukan hal keji seperti itu.


Mila menatap wajah putranya, bagaimana caranya membuat anaknya kembali lagi seperti sedia kala, apakah hanya kehadiran Fiani yang akan bisa membuat anaknya tersadar.


"Nak apakah kamu secinta itu dengan Fiani sehingga kamu memilih untuk pergi meninggalkan ibumu?" tanya Mila pada Hikmal tentu saja jika Hikmal dalam keadaan normalpasti dia akan menjawab iya.


Tapi sayangnya jawaban yang ingin ibunya dengar tidak lagi terlontar dari mulut Hikmal.


Badannya kini kurus, bahkan tulangnya kini dapat terlihat. Bagaimana mungkin seorang ibu tidak sedih melihat putra satu-satunya terbaring lemah tidak berdaya.


Mila menjatuhkan air matanya seharusnya saat Hikmal meminta restu dia menyetujuinya saja.

__ADS_1


Flashback on


"Tidak, sebaiknya aku pulang saja." Hikmal terkekeh melihat Fiani yang malah mengurungkan niatnya padahal rumahnya sudah di depan mata.


"Kok pulang sih, ayolah nanti aku perkenalkan pada ibu dan ayah ku." Fiani nampak ragu kemarin saja mereka terlihat tidak suka dengan dirinya.


Pasti nanti dia akan di usir karena derajat mereka tidak sama


"Tidak, apakah nanti mereka akan menyukai diriku?" tanya Fiani ingin tahu padahal dia sudah tau ibu dari Hikmal sudah pernah menemuinya bagaimana mungkin dia akan sanggup menerima cacian itu lagi.


"Belum mencoba belum tahu kan, yuk masuk." ucap Hikmal seraya menyuruh Fiani untuk tidak terlalu mencemaskan hal itu, percaya padanya.


Mereka pun akhirnya masuk ke rumah, di sana nampak seorang wanita, namanya Mila. Sorot mata yang tajam seperti ingin sekali membunuh membuat Fiani sedikit takut.


Memang wanita ini yang datang menemuinya tempo hari, memberikan uang yang begitu banyak padanya. Namun Fiani menolaknya dia tidak ingin menerima apapun dari ibu Hikmal yang ingin dia dapat kan adalah restu darinya.


"Hikmal, bagaimana dengan sekolahmu hari ini? Dan kepada kamu pulang dengan wanita ini?" Fiani membuang muka memperlihatkan wajah dasarnya nih pasti ingin ngajak buat debat lagi?


"Baik-baik saja kok bu, dia pacar Hikmal." Mila yang tahunya jika Hikmal hanya dekat dengan wanita itu pun segera menarik lengan putranya dan berjalan menjauh.


Mila sangat terkejut bahkan dia ingin mencari tahu kenapa Hikmal malah berpacaran dengan wanita itu????

__ADS_1


__ADS_2