
Yuda tersenyum melihat Wulan, sedangkan Wulan nampaknya masa bodoh dengan apa yang dia lihat, dari tadi dia hanya memerhatikan jalanan saja.
Melihat tante Mila yang sedikit tersenyum di ujung bibirnya, entah lah apa yang membuat Tante Mila menginginkan Hikmal di rawat di rumah sakit milik adik dari Faam apakah dia tidak ingin jika kejadian tadi terulang kembali? Entahlah mungkin bisa saja seperti itu.
Melihat Hikmal kali ini membuat Wulan terkekeh dan sedikit sedih bagaimana tidak dahulu saat mereka masih bersekolah dia adalah orang yang paling Wulan sayang namun perasaan nya harus rela di kubur dalam dalam karena Hikmal telah memilih bersama teman sekaligus sahabatnya.
Rasa sayang itu tidak pernah berubah apalagi saat Hikmal lebih memilih berpacaran bersama dengan Fiani, ya memang hatinya sedikit sakit bisa di bilang sakit tapi mau di kata apa Hikmal bahagia jika bersama dengan Fiani.
Sedangkan jika nanti dia bersamanya Hikmal saja tidak pernah memberi ruang agar hatinya bisa terbuka untuk nya.
Yang ada dalam pikiran Hikmal selama ini hanyalah Fiani, ya rasanya dunia memang tidak adil kenapa saat dia mencintai seseorang seseorang itu tidak mencintai dirinya dan malah berpaling dan memilih dengan sahabatnya sendiri.
"Dari tadi kami terus memandangi nya? Ada apa?" tanya Yuda yang dari tadi terus memperhatikan sosok wanita manis yang tingginya lebih pendek darinya.
"Jangan terlalu KEPO!!" Yuda terkekeh kan benar Wulan seperti tengah mengharapkan sesuatu dari putra tidur ini.
"Bukannya aku kepo tapi dari tadi kamu terus saja memandanginya, memangnya kamu mempunyai cerita apa pada masa lalu?" Wulan membuang muka dan mengambil nafas dalam dalam sedangkan Mila hanya berfokus pada anaknya saja tidak memperdulikan Yuda dan Wulan uang sedang berbicara.
__ADS_1
"Jangan mengurusi urusan orang lain deh. Dan lagi jangan sok kenal." Yuda terkekeh jangan sok kenal katanya nih anak memang benar-benar seperti Ana. Jika saya Yuda bisa bersama dengan Ana seperti dulu lagi pasti dia akan merasakan kebahagiaan.
Namun bagaimana mungkin cinta Yuda dapat tersampaikan sedangkan Ayah nya saja tidak setuju dengan hubungan nya dengan Ana.
Dan jika Yuda terus memaksakan diri yang ada Ana akan semakin membencinya karena apa ayahnya tidak akan membiarkan dirinya dekat dengan Ana.
"Lalu bagaimana dengan si itu, sepertinya dia cemburu padaku?" Yuda tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Wulan siapa orang yang cemburu pada Wulan sedangkan dari tadi dia hanya bersama dengan Ana.
Eh...
Ana?
Cemburu?
Mana mungkin!!
"Si itu siapa?" tanya Yuda yang bingung sendiri.
__ADS_1
"Apa kamu tidak melihat jika Ana cemburu padaku tadi?"
"Cemburu padamu? Apa masalahnya?" Wulan membuang napas berat.
"Dasar, masa kamu tidak tahu perasaan wanita, Ana tadi cemburu melihat mu dekat dengan ku." pekik Wulan membuat Yuda sedikit mempunyai rencana agar bisa menarik hati Ana lagi tanpa bersusah payah mengejarnya.
"Ana cemburu padaku? Hah kesempatan dengan cara ini aku akan busa membuat Ana kembali lagi di pelukan ku. Dan masalah ayah aku akan bicara lagi padanya kali ini nekat saja lah mati urusan nanti."
Iki bocah malah pe nekat piye koe ki Yud yud!!
"Dasar nih cowok hayo ngapain!" Yuda tersadar dari lamun nya benar juga semakin dia memanas manasi Ana semakin Ana tau jika hatinya masih ada untuk nya.
"Bisakah kamu membantuku?" Wulan menggeleng nih cowok mau apaan sih.
Disisi lain setelah Faam, Fiani dan Aldo kenyang mereka segera masuk ke dalam mobilnya.
"Sekarang sudah kan, pokoknya nanti kamu harus memeriksa kan kandungan mu." paksa Faam sedangkan Fiani yang kenyang hanya tersenyum saja jika dia bilang tidak nanti pria rese ini akan lebih banyak omong lagi.
__ADS_1
Tidak ada pembicaraan antara Faam dan Fiani Faam melihat istrinya menyandarkan diri di empat duduk dan terlelap.
"Dasar habis makan malah tidur, tapi aku tidak pernah melihat Fiani tertidur seperti ini, aku saja di suruh untuk tidur di luar karena masih merasa jika diriku ini bukanlah suaminya. Aku kangen Fi, apalagi saat kamu memangil diriku dengan panggilan suamiku, entah kapan kamu akan mengingat kembali diriku yang tak pernah lelah mencintai mu. Tidak pernah lelah untuk membahagiakan dirimu. Namun sayangnya karena kesalahan ku kamu melupakan diriku sampai kapan kamu akan seperti ini? Menjadi sosok orang lain yang tidak mengenali ku, menjadi sosok yang selalu membuatku marah dan bahkan aku sendiri tidak dapat menjadi seseorang yang selalu kamu banggakan."