Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Panik


__ADS_3

Fiani dari tadi merasakan jika kepalanya sangat sakit, Faham bingung harus melakukan apa sepertinya ada yang salah dengan istrinya apa perlu Faam periksa ke dokter dia jadi takut sendiri melihat Fiani yang hanya tiduran di tempat tidur mana mungkin sakit kepala saja kok dia sampai seperti orang yang sakit parah tidak bisa berdiri.


"Sayang kau yakin tidak ingin ke dokter?" tanya Faam yang memegang tangan Fiani erat dia bingung harus melakukan apa.


"Tidak! Nanti juga sembuh kok, aku hanya lupa minum obat sakit kepala saja. Sayang kau tidak perlu cemas aku tidak apa-apa kok." Faam tidak bisa membohongi dirinya tentang kekhawatiran nya apalagi tadi malam dia bermimpi aneh dia melihat Fiani istrinya pergi meninggalkan dirinya.


"Kenapa dengan dirimu sayang?" tanya Fiani ingin tau pasti suaminya sedang cemas sendiri.


"Tidak, tadi malam aku bermimpi mengerikan sayang, aku mimpi jika kau pergi meninggal kan diriku, kau terus saja mengatakan jika kau akan pergi seperti kata-kata mu kemaren itu aku jadi takut jika semua yang kau bicarakan itu benar. Kau pergi meninggalkan diriku." Fiani tersenyum ternyata Faam sangat mencintainya bagaimana ini padahal dia berusaha untuk melawan rasa sakitnya tapi soalnya dia malah tumbang mungkin dia kelelahan saat diajak suaminya pergi kemarin. Kan dia tidak boleh terlalu kecapekan.


"Sayang, itu hanya bunga tidur. Tidak perlu kau panik seperti itu, dan ini kepala ku nanti juga mendingan kok setelah aku meminum obat."


"Kenapa kau tidak cerita jika kau sakit kepala sayang." tanya Faam ingin tau.


"Kau kan selalu sibuk kan akhir-akhir ini jadi aku tidak mau merepotkan mu, kau sudah capek dengan pekerjaan kantor dan aku datang hanya ingin mengeluh padamu." Faam terkekeh siapa juga yang akan memarahi wanita pujaan hatinya malah jika Fiani seperti ini dia malah semakin khawatir berlebihan.


"Baiklah sekarang di mana obat mu biar aku ambilkan untukmu aku kasihan melihatmu. " Fiani tersenyum dia menunjuk ke arah tas yang selalu dia bawa pergi di dalam tas itu terdapat beberapa obat untunglah Fiani sudah menukar tulisan yang ada di obat itu jadi suaminya pasti tidak akan mencurigainya tapi kasihan sekali suaminya jika dia sampai tau jika dirinya tidak bisa bertahan cukup lama lagi.


Faam segera mencari obat yang di maksud istrinya tapi rasanya aneh kenapa obat kepala sebanyak ini? Aneh.


"Kenapa obat ini aneh? Bukankah obat sakit kepala sebanyak ini apa memang ini obatnya? Kenapa aku curiga, emmm aku tanya Fiani saja deh." batin Faam merasa jika obat sakit kepala Fiani ini sangatlah banyak dan besar tidak seperti obat sakit kepala yang bisa dia minum.


"Sayang, apakah ini ini obatnya?" tanya Faam yang menunjukan obatnya pada Fiani.


Fiani mengangguk tapi dia juga khawatir pasti suaminya akan bertanya panjang lebar tentang obat itu.


"Iya memang itu obatnya kenapa sayang? Pasti kau ingin bertanya kenapa obat itu banyak sekali kan? Karena apa kau mengambil semua cadangan obatku, kau ini. Ambil saja satu obat di setiap kantung obat itu. Itu kan ada empat kantong ambillah satu-satu."

__ADS_1


Faam menaruh curiga dengan obat ini dan tanpa sepengetahuan dari Fiani Faam pun mengambil empat butir obat itu dan di masuk kan ke dalam kantong celananya.


Faam segera mengambil air minum,


"Aku harus tau apa obat ini," ucap Faam.


Fiani masih belum juga beranjak dari tempat tidurnya itu yang membuat Faam makin khawatir terlebih Fiani bukanlah orang yang mudah untuk diajak ke rumah sakit untuk memeriksakan diri.


"Kasihan sekali istriku, gara-gara aku sibuk dengan pekerjaanku aku tidak terlalu memperhatikan dirinya. Dan kenapa saat aku ingin memberikan sebagian waktuku malah dia sibuk bekerja ah apa aku dan dia harus liburan lagi mengingat beberapa bulan kan aku harus ke luar negri ah selalu saja seperti ini."


"Sayang.... Ini obatnya, ayo aku bantu berdiri." pinta Faam sambil memberikan obat pada Fiani dan membantunya untuk minum obat. Belum juga Fiani meminum obat itu Fiani pun sudah mengatakan hal yang membuat Faam tidak kuasa menahan air matanya.


"Sayang jika seandainya aku tidak ada kabar apa yang akan kau lakukan apa kau akan membenci diriku?" tanya Fiani tiba-tiba membuat Faam terkejut.


"Kan aku sudah bilang sama kamu sayang, kau tidak akan pernah ku izinkan untuk pergi dari ku, kenapa sih kau selalu seperti ini." tegas Faam merasa muak karena istrinya selalu saja bicara aneh-aneh tentang dirinya apa tidak ada hal lain yang bisa di bahas selain itu?


"Tuhan tidak mungkin setega itu padamu sayang, jangan katakan lagi." terang Faam meneteskan air mata.


"Sayang apa kau menangis? Aku hanya bicara seandainya saja." tegas Fiani tidak ingin membuat suaminya khawatir.


Finai mengusap hidungnya entah kenapa dari tadi hidung nya seperti mengeluarkan sesuatu.


Faam melepaskan pelukannya dan melihat istrinya mimisan.


"Sayang hidung mu berdarah." teriak Faam yang panik sendiri pasti ini bukanlah sakit kepala biasa apa yang sedang Fiani coba tutupi darinya.


"Sayang kau tidak apa-apakan!" tanya Faam dalam kepanikannya.

__ADS_1


Dan tidak di duga ponsel Fiani pun berdering ternyata ada pesan masuk ternyata dari Yuda dan Yuda mengatakan jika satu hari lagi dia harus pergi untuk pekerjaan sedangkan Fiani saja keadaannya seperti ini.


Faam pun segera menelpon Yuda.


"Dia bagaimana dengan pekerjaan kita besok? Apa kita jadi pergi?" tanya Yuda ingin tahu jawaban Fiani.


"Istriku lagi sakit, di tunda dulu ok."


"Haduh kenapa yang ngangkat telpon Faam sih untunglah aku tidak salah ngomong jika iya aduh gawat."


"Lah tapi pekerjaan besok penting loh."


"Aku bisa membayar mu dua kali lipat dari proyek itu, biarkan istriku istirahat ok." tegas Faam sembari mengakhiri panggilan.


Yuda mengacak acak rambutnya haduh hampir saja dia mengatakan yang sebenarnya nih mulut untunglah tidak sampai terlewat batas jika iya aduh apa jadinya jika Faam tau jika istrinya sakit dan dia tidak di beritahu akan hal ini murka, murka dia 😱.


"Sial hampir saja aku mengatakan jika Fiani harus pergi ke rumah sakit, semoga saja Faam tidak curiga dengan diriku."


"Sayang..." ucap Fiani merintih kesakitan.


Faam segera bergegas meninggalkan penginapan dan membawa Fiani masuk ke dalam mobilnya.


Fiani sudah tidak sadarkan diri.


Faam merasa bingung harus berbuat apa jadi dia segera melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat dan saat kondisi Fiani mulai melemah dan Faam di buat panik sendiri.


Sesampainya di rumah sakit Lisa melihat Fiani segeralah Lisa berlari untuk memberikan pertolongan.

__ADS_1


"Kenapa dengan Fiani?" tanya Liana sambil panik sendiri namun dia tidak mengungkapkannya lewat ekspresi karena ada Faam yang sangat panik di sebelahnya.


__ADS_2