Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Liana


__ADS_3

Soni membawa Liana ke dukun beranak, ia tidak menginginkan bayinya jika bayi ini sampai lahir ke dunia maka Liana tidak akan pernah bisa menjadi ladang uang nya lagi.


Liana tidak henti-hentinya menangis. Ketika Soni memaksanya untuk masuk ke dalam rumah, rumah itu terlihat sangat sepi letaknya sangatlah terpencil, mungkin hanya beberapa orang yang lewat.


"Masuk aku bilang!" teriak Soni memaksa Liana untuk masuk ke dalam rumah.


Liana menangis tersedu-sedu tidak ada yang menolong dirinya. Dia harus bagaimana Liana tidak ingin kehilangan anaknya.


"Jangan kau bunuh anakku, kau boleh memaksa diriku, apapun tapi jangan bunuh anakku. Dia juga darah daging mu." teriak Liana.


"Omong kosong! Cepat masuk!" teriak Soni namun Liana menggeleng ia tidak ingin menggugurkan kandungannya.


Saat keduanya berdebat seorang wanita setengah tua membawa saru cangkir minuman. Dia mengatakan jika Liana meminum minuman yang dia berikan maka bayi itu akan gugur.


Mendengar hal itu Liana ingin pergi namun Soni menangkapnya dan memaksa Liana untuk meminum minuman hitam itu.


Setelah memaksanya meminum minuman yang sudah diberikan sesuatu Liana merasakan jika perutnya sangat sakit.


Soni tersenyum saat Liana kesakitan bahkan rasanya dia tidak mempunyai perasaan sedikitpun pada wanita.


"Sakit!" teriak Liana namun tidak diindahkan oleh Soni.


Darah pun mengalir dan Liana pun pingsan karena tidak kuasa menahan rasa sakitnya.


Soni pun membopongnya, dan membawanya menuju mobil.


Soni melihat darah yang terus mengalir tapi masih saja dibiarkan wajah Liana sangat pucat, Soni pun ketakutan sendiri.


Saat dirasa tidak ada orang Soni pun segera membaringkan Liana di pinggiran jalan.


Dia tidak menginginkan wanita ini lagi dia bisa mencari wanita lain yang bisa di bodohi.


Tentu lah sama dengan Liana.


Di sisi jalan Ardan tengah mengendarai mobil dengan pelan ia takut saat jalan sepi tiba-tiba ada orang yang tiba-tiba menyebrang jalan.


Dia melihat sesuatu, seseorang tengah tergeletak di pinggir jalan, dengan ragu Ardan pun turun dari mobil dan melihat siapa kah gerangan yang tergeletak di pinggir jalan.


"Liana?" ucap Ardan yang terkejut melihat Liana yang bersimbah darah, apa yang terjadi padanya? Ardan tanpa ragu segera mengangkat tubuh Liana ia sangat khawatir walaupun dia wanita yang licik bukan berarti dia juga melakukan hal yang sama dengan Liana.


Ardan segera membawa Liana menuju mobil dan membawanya menuju rumah sakit terdekat. Terdengar suara eraman dari Liana apakah dia sangat kesakitan?

__ADS_1


Apa yang telah terjadi padanya dan siapa yang tega melakukan ini padanya? Kasihan walaupun dia wanita jahat orang yang tega melakukan hal ini lebih jahat lagi.


"Sabarlah sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit." terang Ardan.


Ardan segera menancap gas ia tidak bisa melihat Liana kesakitan apalagi darah semakin banyak keluar.


Setelah sampai di rumah sakit dokter segera menangani Liana dan berita buruk pun harus dokter sampaikan.


Janin yang Liana kandung tidak bisa di selamatkan Ardan bingung apa yang harus dia katakan saat ini,


Ardan masuk ke dalam ruangan tempat Liana terbaring. Wajahnya begitu pucat apa dia akan terima jika anaknya sudah tiada?


Ardan pun tertidur tanpa dia sadari.


Pagi pun sudah mulai menjelang, Liana bangun dari tidurnya melihat sekeliling dia tidak berada di apartemennya kenapa dia ada di sini? Lalu bagaimana dengan anaknya?


Dia melihat Ardan yang sedang tertidur pulas," Apa yang kau lakukan?" tanya Liana yang ingin tahu.


"Yang sabar, Kau harus kuat," ungkap Ardan membuat Liana memandangi perutnya.


"Apa yang kau katakan?" tanya Liana.


"Kau keguguran," terang Ardan membuat Liana menitihkan air mata.


Pasti calon ibu akan kecewa apalagi ini anak pertamanya.


"Aku tidak ingin kehilangan bayiku," teriak Liana sambil terisak.


"Tenanglah, aku tau kok kau saat ini sedang bersedih tapi ingatlah tentang kesehatanmu," ungkap Ardan.


"Pasti kau ingin mentertawakan diriku kan, apa kau puas sekarang," Ardan bingung lah kenapa jadi dia yang di salahkan tapi semua wanita pasti akan kalut saat kehilangan bayinya.


"Tidak, aku hanya.." Ardan tidak melanjutkan ucapannya rasanya ia tidak harus meladeni Liana yang masih tidak terima dengan kepergian bayinya.


"Bayiku, kembalikan bayiku..." teriak Liana histeris.


"Tenanglah Liana, kau harus bisa menerima semua ini," ucap Ardan memenangkan.


"Pria itu harus bertanggung jawab, dia sudah membunuh bayiku," teriak Liana membuat Ardan kualahan menahan tubuh Liana agar tidak jatuh.


"Tenanglah Liana, tenang..."

__ADS_1


"Aku tidak bisa tenang sebelum aku bisa membalaskan semua perbuatannya. Dia sudah membunuh anakku..." teriak Liana membuat dokter segera datang dan menyuntikan obat penenang.


"Kembalikan anakku... " ucap Liana masih tidak bisa Terima jika anak yang di kandungnya telah tiada.


Setelah beberapa saat Liana pun sudah kembali tertidur dan dokter menyarankan jika Liana harus di jaga dengan ketat takutnya dia bisa mencelakai dirinya sendiri.


Ardan mengangguk, dia melupakan sesuatu hal yang penting kenapa dia bisa melupakannya bukankah hari ini adalah hari dimana Faam kan berbulan madu lah Faam pasti marah.


Saat Ardan melihat ponselnya ada puluhan panggilan tidak terjawab tentu lah dari Faam. Nih bakalan perang dunia nih sama bosnya.


Ardan memutuskan untuk menelpon Faam.


"Halo bos maaf..."


"Kau kemana saja kau ini, kau tau kan hari ini hari apa kemana saja dirimu dari semalam aku sudah menelpon mu dan baru sekarang kau menelpon apa saja yang kau lakukan?" tanya Faam dengan nada emosi.


"Haduh nih kan beneran aku kena marah, tapi bagaimana lagi apa aku harus meninggal kan Liana sendirian? Lah kenapa aku jadi kasihan sih?"


"Nih bocah malah diam, katakan kau ada di mana, aku membutuhkan tiket dan kau menghilang bak di telan bumi." lanjut Faam masih dengan suara keras.


"Jika aku menjawab bahwa aku bersama dengan Liana pasti Faam tidak mengizinkan diriku, aku harus beralasan apa? Pikir Ardan pikir? "


"Nih bocah, aku tanya kau sedang ada di mana?"


"Maaf kan aku bos sekarang aku menunggu temanku di rumah sakit, dia sedang kalut karena kehilangan anak nya, dia tidak mengizinkan diriku pergi lalu aku harus bagaimana bos?" tanya Ardan ingin tau jawaban dari Faam langsung.


"Kebiasaan kau ya selalu saja membantu orang lain, baiklah kau tidak ikut tidak masalah aku hanya bertanya apa tiket ku sudah kau siapkan?" tanya Faam masih dalam panggilan.


"Sudah bos, sudah aku taruh di atas meja kerja bos, dan apa bos menginginkan yang lain?" tanya Ardan yang lega karena tampaknya Faam tidak marah padanya.


" Tidak, ya sudah semoga teman mu cepat sembuh dan aku akan memberikan kau liburan sampai aku pulang dan katakan pada Rendra untuk mengurus perusahaan selama aku pergi, ingat kan?" tanya Faam.


"Iya bos." Ucap Ardan yang segera mematikan panggilannya.


Belum juga Faam menyelesaikan ucapannya Ardan main tutup telpon segala.


"Bocah sialan, denger kata libur aja senengnya minta ampun belum juga aku mengatakan satu hal lain," maki Faam merasa sangat kesal sendiri.


Fiani menggeleng mendengar Faam yang marah-marah tidak jelas.


Maaf ya telat up karena susah sinyal

__ADS_1


selamat membaca


Dan Terima kasih yang sudah mampir 😄


__ADS_2