Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Episode 12. Cerita bude Asih


__ADS_3

Sinar mentari kembali lagi dipagi hari ini, cahayanya yang selalu menerangi dunia ini dengan setia menandakan memulai aktivitas untuk semua mahluk.


Pagi ini Dini terbangun dari tidurnya seiring dengan cahaya mentari yang memasuki kamarnya melalui pantulan kaca jendela.


Ia segera membersihkan dirinya di kamar mandi, selesai dengan aktivitasnya itu ia kemudian membangunkan Bastian.


"Bas.Bas." Panggil Dini sambil menepuk-nepek lengan Bastian dengan pelan.


"Ummm."


"Bangun! udah siang ntar telat lo!"


Bastian pun kemudian beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi sementara Dini segera merapikan tempat tidur dan setelah itu baru ia menyiapkan pakaian Bastian.


"Kamu udah mau jalan?"


" Ia. " Jawab Bastian.


"Sarapan dulu baru berangkat ya, biar aku buatkan teh untuk mu."


"Boleh deh." Sahut Bastian.


"Hari ini sarapannya gini dulu ya soalnya gak ada apa-apa lagi didapur." Terang Dini sambil meletakkan segelas teh dan roti di atas meja tepat dihadapan Bastian.


"Gak papa, ntar belanjanya ditemanin bude Asih aja ya. Soalnya kamu kan belum tau tempat ini ntar takutnya nyasar."


"Ia." jawab Dini.


Tak lama setelah itu bude Asih pun datang. "Pagi pak." Sapa bude Asih.


"Pagi bude."


"Oya bude ntar temani istri aku belanja keperluan dapur ya."


Deg.


Dini mendengar Bastian menyebutkan kata istri.


"O.. Ia ya pak."


"Kalau gitu aku berangkat dulu. " Pamitnya kepada Dini.


"I-ia." Jawabnya gugup.


"Bude kenalin aku Dini." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Ia bu, saya Sri aningsih biasa dipanggil bude Asih."


"Bude gak usah pangil ibu, panggil nama aja."


"Tapi kan ga enak sama pak maneger."


"Siapa bude?"


"Ya pak Bastian la bu."


"Udah gak papa kok bude."


"Tapi."


"Udah pangil apa aja asal jangan panggil ibu terlalu tua soalnya. Kita jalan sekarang aja ya bude belanjanya. Tapi bude aja yang bawa motornya ya. Aku belum tau jalan bude." Kemudian mereka berdua pun pergi mengendarai sepeda motor metik milik bude Asih.


"Bude kita ke ATM dulu ya. "


"Ga usak ndok ditempat kita ntar belanja ada B** linknya sekalian aja ntar disana kalau mau tarik uang. Soalnya biasanya ATM yang di pabrik itu tanggal segini udah gak ada uangnya bisanya cuman transfer aja." Terang bude Asih sambil tetap fokus dengan membawa motornya.


"Kok gitu bude?"

__ADS_1


"Ia kan karyawan baru gajian jadi pada ambil uang."


"O.. gitu!"


" Bude udah lama kerja sama Bastian?"


"Udah ndok, dari zamannya pak Selo sampek sekarang."


'Emangnya Bang Selo pernah kerja di sini? "


"Bukan cuman pernah sampe sekarang juga masih bekerja di perusahaan ini ko ndok, cuman pak Selo sekarang udah jadi direktur utama perusahaan ini. Pak Selo lebih Sering di luar kota mengurus perusahan yang disana jadi jarang berkunjung paling kalau ada yang mau diurus aja."


"Oh...Aku gak tau apa-apa sih bude tentang pekerjaan mereka."


"Jangan bilang kalau kamu juga gak tau kalau ini perusahan milik keluarga pak Bastian."


"Emang gak tau bude hehe."


"Ndok, ndok."


"Perusahaan ini milik orang tua pak Bastian tepatnya pak Nugro dan Adiknya. Jadi selain pabrik kebun ini juga milik mereka dan kebun disini memiliki 8 devisi."


"Makasih ya bude udah kasih tau tentang semuanya, aku memang belum bertanya apa-apa tentang pekerjaannya Bastian."


"Trus Bastiannya udah lama kerja disini bude?


Seingat bude sih udah hampir 2 tahun lah tapi tepatnya bude udah lupa ndok kira-kira begitulah.


Kita udah sampai ayok ndok. "


"Ia bude. "


Mereka berdua pun memasuki tempat pembelanjaan yang cukup besar dan lengkap itu. Didepan pintu masuk ruko terdapat banyak sayuran, ikan dan lainnya sementara di dalam ruko mulai dari semua kebutuhan Seperti perlengkapan mandi, snack dan masih banyak lagi.


"Sekalian aja belanja buat stok yang perlu ndok biar gak repot bolak-balik keluar."


"Hari ini mau masak apa ndok biar bude yang pilih didepan kamu belanja yang lainnya disini."


"Umm. Terserah bude aja aku belum tau kebiasaan Bastian sukanya apa. "


"Ya udah bude kedepan dulu."


"Sudah semua bude, gak ada lagikan?"


"Sepertinya udah cukup ndok."


" Iya bude aku hampir lupa beras. Bentar aku ambil dulu ya bude."


Setelah selesai membayar semua barang belanjaannya mereka pun kembali kerumah dengan menggunakan motor bude Asih yang sudah penuh dengan barang belanjaan didepan dan beberapa di tenteng oleh Dini.


-


-


"Udah bude biar aku aja yang beresin belanjaannya, bude ngerjain yang lainnya aja."


"Ya udah kalau gitu bude mau nyuci dulu."


"Ia bude. "


Selesai dengan barang belanja yang sudah tersusun rapi olehnya, ia pun lanjut memasak di dapur namun bude Asih datang setelah selesai mencuci pakaian.


"Aduh ndok biar bude aja yang masak, kamu istirahat aja dulu."


"Aku gak capek kok bude lagian ga papa kok biar aku aja bude."


"Jangan gitu ndok ntar bude kena masalah kalau ndok ngerjain semuanya bisa-bisa ntar dibilang makan gaji buta lagi. "

__ADS_1


"Gak ada yang bakalan bilang gitu bude. "


"Ngak enak ntar sama karyawan yang lainnya yang sama seperti bude kerjanya."


"Maksudnya gumana sih bude?"


"Ndok bude tu kerja disini tapi perusahan yang bayar kami. jadi kami ini sama saja halnya dengan karyawan seperti pabrik dan karyawan yang di devisi bedanya kami cuman dapat gaji pokok aja."


"Ya udah terserah bude aja deh kalau gitu, aku kekamar aja kalau gitu terang Dini sambil berlalu meninggalkan bude di dapur tersebut."


Tok.. tok..


"Ia ada apa bude?" sahut Dini setelah membuka pintu kamarnya.


"Ndok bude pamit pulang dulu ya! kerjaan bude udah selesai."


"Oh ya udah bude makasih ya!"


"Ia ndok sama-sama."


Tak lama kemudian Bastian pun kembali dari kantornya yang ada di pabrik berhubung karena sudah waktunya jam makan siang.


"Kamu udah pulang Bas?"


"Uumm.. lapar soalnya."


"Ya udah ayo biar aku siapin."


Bastianpun akhirnya mengikutinya dari belakang menuju meja makan.


"Nih." Ucap Dini sambil meletakkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauknya.


"Kamu makan juga dong!"


"Ia ini aku mau makan juga. " Sahutnya sembari menyendokkan nasi kedalam piringnya beserta sayuran dan ikannya.


Baru suapan pertama Dini langsung terbatuk-batuk.


Uhuk.. uhuk...


"Ini minum dulu!" Bastian yang menyodorkan air putihnya. dengan cepat Dini meminumnya dan menghabiskan isi gelas tersebut.


"Hah... hah... Pedes bangat!"


"Masakannya bude emang pedes, kamu gak bisa makan yang pedes?"


"Ia." Sahutnya sambil mengipas-ipaskan tangannya.


Karna lidahnya masih merasa tak enakan ia segera membuka kulkas mengambil air dingin dan meminumnya mamun lagi-lagi ia masih mengipas-ipaskan tangannya sambil membukakan mulutnya.


Bastian yang melihat itu mendekatinya dan berdiri tepat didepannya jarak mereka kini sangat dekat satu sama lainnya.


Tanpa basa-basi Bastian langsung mencium bibir merah Dini akibat masakan yang dibuat oleh bude Asih tersebut.


Dini terkejut dengan perlakuan Bastian yang tiba-tiba menciumnya, ia membulatkan matanya menerima ciuman itu dan membiarkan Bastian melakukannya cukup lama hingga ia hampir kehabisan nafas.


Merasa ciumannya tidak mendapat balasan Bastian pun menghentikan ciuman tersebut kemudian melepaskan kedua tangannya dari pinggang Dini.


-


-


-


-


**Sampai sini dulu, gantung biar ada rasa penasaran.

__ADS_1


Vote, like dan comentnya dong**!!!


__ADS_2