
Didalam mobil sudah ada Kevin yang menunggu rupanya, Bastian membuka pintu kemudian memberikan kunci mobil kepada Kevin.
"Kamu yang nyetir! " suruh Bastian.
"Siap bos." Sahutnya dan segera bergeser tempat duduk kesampingnya.
"Loh Bas, Kamu dibelakang aja sana kasihan kan Dini sendiri dibelakang." Melirik kearah Dini.
"Udah jalan gak usah banyak protes." Sewot Bastian.
"Idih galak amat pak. "
"Hai Din.. amasih ingat aku gak?" tanya Kevin sembari menoleh ke arah belakang menghadap Dini.
"Ya masih ingat lah. " Sahut Dini.
"Bagus deh kalau kamu ingat kirain udah lupa sama aku yang ganteng ini." Seloroh Kevin.
"Ya mana mungkin aku lupa sama kamu, kan kamu salah satu orang yang ikut ngunciin aku di toilet sekolah dulu." Jawab telak dari Dini.
Raut wajah Kevin seketika langsung berubah bagaimana tidak mendengar hal itu dan sontak membuat Bastian dan Kevin saling menatap satu sama lain.
"Oalah Din, masalah yang dulu kok di bawa-bawa sih?" Kilah Kevin.
"Ia ia, udah ayo jalan. Gerah bangat ini.
lagian aku cuman bercanda kok Vin, aku gak segitunya juga kali dendam sampe bertahun-tahun yang ada sesak ini jantung kalau terlalu lama dendam atau marah sama orang apalagi kalau marahnya gak jelas apa gak kaya orang gila tuh?" Sindir Dini.
Merasa dengan ucapan Dini, Bastian pun berdehem.
"Hemm.. Ini kapan jalannya kalau ngobrol terus?" Mengalihkan pembicaraan.
"Sabar pak bos, ini juga mau jalan." Ucap Kevin.
*
*
*
"Vin,,, kamu istrahat di kamar tamu ya besok sore baru kita berangkat." Suruh Bastian.
"Lah, kok dikamar tamu sih Bas?
biasanya juga tidur dikamar mu setiap aku nginap disini."
Tok.
"Au,, sakit Bas!" Kevin merintih kesakitan akibat jidatnya yang di sentil oleh Bastian.
"Itu akibatnya kalau ngomong gak dipikir dulu, kamu lupa ada Dini dikamar aku ha?"
"O ia, ya maaf namanya juga lupa kalau pak bos udah ada istri."
"Udah sana ntar Dini nunggui tuh." Ledeknya menggoda Bastian.
Bastian masuk kekamar dan melihat Dini yang sedang mengambil pakaiannya dari dalam lemari sepertinya ia hendak mandi karna memang ia selalu membawa pakaian gantinya kekamar mandi dan menggantinya disana.
__ADS_1
Ketika Dini berjalan melewati Bastian yang baru datang itu, terdengar suara Bastian yang menghentikan langkahnya.
"Besok sore aku mau balik, kamu bilang sama mama kalau kamu gak mau ikut aku kesana."
"Kenapa harus aku yang ngomong ke mama?"
"Ya ialah kamu, mau siapa lagi?"
" Kamu kan bisa ngomong sendiri!"
"Kalau aku yang ngomong mama bakalan gak mau dengarin aku." Terang Bastian.
"Gak ah, itu urusan mu aku gak mau ngomong sama mama." Ucap Dini.
"Kamu tuh ya, disuruh gitu aja gak bisa jadinya kamu bisanya apaan? buat orang kesal aja." Gerutu Bastian.
"Terserah deh yang jelas aku gak mau buat ngomong ke mama." Tetap pada jawaban awal darinya.
Dini tak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Bastian yang seolah tidak ingin berada didekatnya.
Kenapa juga ia mau menerima perjodohan ini dan sekarang lihat apa yang di lakukan. Dia bahkan memintaku untuk membujuk mama supaya aku tidak ikut dengannya besok.
"Dasar laki-laki plinplan, gak bertanggung jawab." Gerutu Dini yang tengah berada didalam kamar mandi memaki suaminya itu.
Sibuk dengan kata-katanya yang mengeluarkan semua unek-uneknya sehingga dalaman atasnya terjatuh ke lantai kamar mandi ketika hendak memakaikannya.
"Yah basah kan! gimana ini? masa keluar gak pake ini? udah ah gak kelihatan juga kali ya? lagian gak ada yang lihat juga kan paling juga dia udah keluar dari kamar." Gerutu Dini berbicara sendiri.
Akhirnya ia pun keluar dari kamar mandi dengan sangat pelan. Melihat Bastian tengah berbaring di tempat tidur.
"Semoga saja dia sedang tidur. " P5ikirnya.
Namun setelah Dini melewatinya Bastian pun membuka matanya dan pandangannya langsung tertuju pada wanita yang baru saja melewatinya itu yang sedang membuka lemari dan mengambil sesuatu dari dalam lemari.
Ia menatap punggung Dini yang menggukan kaos putih yang pas di badan dan celana pendek diatas lutut.
Tanpa menyadari Bastian yang sedang menatapnya disana ia membuka pakaiannya kemudian mengenakan dalaman atasannya itu.
Sementara Bastian yang melihat punggung mulus dan putih itu menelan ludahnya. Perasaannya campur aduk. Ya wajarlah ya dia kan laki-laki normal melihat pemandaangan yang begituan gimana gitu rasanya!
Selesai menggenakan kembali pakaiannya tersebut segera ia menutup lemari pakaian itu dan ketika hendak berbalik badan Dini terkejut melihat Bastian yang sedang duduk ditepi ranjang tersebut pandangan mereka bertemu sejenak dan dengan gugup ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ngapain kamu? bukannya tadi kamu sedang tidur?" Selidik Dini.
Sementara Bastian melihat tingkahnya itu memasang raut wajah bingung dan mengerutkan keningnya kemudian pandangannya turun tertuju kebagian kegundukan kembar itu.
Glek,
Menelan lagi air ludahnya. "Memangnya kenapa?" Bastian malah balik bertanya.
"Ga ada." Ungkapnya dan segera mengalihkan pandangannya kemudian berjalan kearah pintu hendak keluar dari kamar karna merasa malu dengan Bastian yang melihatnya tengah mengganti pakaiannya.
Ketika hendak membuka pintu, tangannya terhenti karena mendengar suara Bastian.
"Kamu mau kemana ha?"
"Ya mau keluar lah, emang kenapa?" Dini membalikkan badannya menghadap Bastian.
__ADS_1
"Yakin mau keluar dengan pakaian begitu?" tanya Bastian.
"Memang kenapa?" tanyanya sambil melihat pakaian yang ia kenakan itu.
"Jadi dari kemaren-kemaren gak ada aku kamu juga berpakaian begitu?"
"Ia. kenapa?"
"Ganti dulu kalau mau keluar kamar. Pakaian mu terlalu ketat." Suruh Bastian.
"Ketat gimana? biasanya juga pakai begini gak ada yang ngelarang, mama aja gak marah kok. " Protes Dini.
"Udeh deh jangan susah kalau dikasih tau, ganti dulu sana." Suruh Bastian.
"Ga ah lagian cuman mau kedapur sebentar ambil minun habis itu juga balik lagi kekamar." Terang Dini sambil melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu tanpa menghiraukan perkataan Bastian.
"Dasar keras kepala sudah tau bajunya itu terlalu ketat trus celananya itu terlalu pendek masih aja gak bisa kasih tau." Gerutu Bastian.
Bastian pun mengikutinya kedapur dan ternyata didapur sudah ada Kevin yang sedang mengambil air dingin dari dalam kulkas.
"Din, mau apa?" Tanya Kevin sekedar menyapa.
"Mau ambil minum."
"Nih." Kevin yang menyodorkan minuman yang baru diambilnya tadi.
"Gak ah aku gak begitu suka air dingin." Tolak Dini.
"Oh begitu rupanya."
"Uumm."
"Kamu mau minum juga Bas?" tanya Kevin.
"Aa.. Gak aku nyarin kamu." Jawab Bastian kikuk.
"Masa sih? nyarin aku apa ngekorin Dini?" goda Kevin.
"Apaan sih kamu Vin?"
Setelah menghabiskan air minum yang diambil oleh Dini, ia pun segera beranjak dari dapur tanpa menghiraukan kedua orang yang tengah berdebat itu.
"Bas... kamu beruntung bangat jadiin Dini sebagai istri kamu." Terang Kevin.
"Beruntung gimana?"
"Ya ia secara orangnya cantik gitu. "
"Emang kamu gak sadar apa dia tu cantik gitu apa lagi seperti penampilannya barusan, apa gak pengen gitu?"
"Banyak omong kamu Vin. "
"Jangan dianggurin ntar diambil orang baru tau rasa. "
"Mau diambil gimana maksud kamu diakan udah jadi istri aku." Protes Bastian.
"Ya status doang tapi nyatanya kan perlakuan kamu gak gitu ke dia." Terang Kevin.
__ADS_1
"Ah sudah lah gak usah bahas itu terus, bawel bangat! kaya emak-emak tau. " Ledek Bastian.
Hai hai,,, jangan lupa like dan comentnya ya biar aku makin semangat buat lanjutin cerita Dini dan Bastiannya.