Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Bukankah Hak Mereka Sama


__ADS_3

Fifi sangat jengkel kenapa Yusuf tidak pernah memihak padanya padahal dia itu istrinya, tidak pernah mendengarkan apa yang dia ucapkan dan selalu berbuat seenaknya seperti saat ini.


"Tunggu mas," teriak Fifi yang segera menarik lengan Yusuf.


Yusuf sangat benci dengan wanita yang ada di depannya ini rasanya dia wanita yang tidak tahu malu dan tidak mempunyai harga diri sama sekali, pasti ada yang ingin dia rencanakan.


"Apa? Apa yang ingin kamu dapatkan dari diriku? Apa lagi? Kau sudah mendapatkan semuanya dan merusak kebahagiaan ku." Fifi tidak tahu apa yang suaminya ucapkan, padahal dia sudah memberikan kebahagiaan yang nyata tapi kenapa suaminya selalu saja mengatakan jika dia tidak bahagia?


"Siapa yang merusak kebahagiaan mu mas, aku lah sumber kebahagiaan mu, jika aku adalah perusak rumah tanggamu dengan.... "


"Stop! Jangan kamu membahas soal Cantika lagi." Fifi sangat kesal kenapa dia seperti ini terus, dia sudah lelah dengan semua ini, dia sudah menikah itu saja dengan persetujuan dari ibunya itu dan sekarang dia mengatakan hal itu.


"Kamu itu wanita yang tidak pantas di sandingkan dengan istri ku." Fifi membuatkan mata siapa. yang tidak bisa di sandingkan bukankah dia juga memiliki hak yang sama, dia ini juga istrinya loh.


"Mas aku ini istri mu loh." Yusuf berdecak pelan, memang memang dia adalah istri nya tapi dia tidak ada rasa untuk istrinya, jika bukan ibunya yang membohongi nya mana mau dia menikah dengan wanita sialan ini, karena inilah yang membuat dia harus kehilangan anak dan istrinya entah dimanakah mereka, sampai detik ini juga dia masih tidak di temukan.


"Kau memang istri ku, tapi aku kan tetap selamanya mencintai Cantika, dia tidak seperti dirimu yang menyerahkan segala macam cara untuk menyingkirkan penghalang yang merusak kehidupan mu." Fifi sangat amat sebal kenapa suaminya berpikir seperti itu?

__ADS_1


"Aku juga istri mu mas," ucap Fifi seraya menekankan jika dia pun mempunyai hak yang sama seperti wanita yang lain, seperti istri yang lain mempunyai hak untuk di sayangi oleh suaminya, tapi ini kenapa selalu Cantika yang di prioritas kan, sedangkan dia tidak pernah ada di dalam hatinya.


"Minggir, aku ingin mencari istri ku." Yusuf mendorong istrinya, dia sangat tahu istrinya ini bukanlah wanita yang baik, tapi kenapa ibu nya selalu saja membelanya. Selalu saja memperlakukan Fifi dengan baik berbeda dengan Cantika, Ibunya selalu saja membandingkan Cantika dengan Fifi, kenapa sih ibunya tidak pernah menerima Cantika sebagai menantu nya padahal Cantika adalah wanita yang sangat amat baik.


"Mas, jika kamu selangkah saja keluar dari rumah ini, aku akan bilang pada ibu mu." Ancam Fifi seraya mengepalkan tangan, walaupun dia sudah mendapatkan Yusuf namun entah kenapa Yusuf seakan lebih memilih wanita miskin itu, apa kurangnya dia dia sudah cantik, baik lalu apa lagi?


"Terserah, aku ingin mencari istriku... Minggir." Dara saat itu melihat jika anaknya bertengkar dengan Fifi, kenapa sih keduanya selalu saja bertengkar dan tidak pernah bisa akur?


"Yusuf! Apa apaan kamu, kok kamu kasar pada istrimu sendiri?" Dara sangat marah ketika melihat Fifi di perlakuan dengan sangat tidak baik oleh Yusuf.


Plak


"Seharusnya kamu itu sadar akan ucapan yang kamu ucapkan itu, dia itu orang miskin, tidak selevel dengan kita, apa kata orang nanti." Yusuf di buat sangat tidak mengerti kenapa ibunya selalu saja memikirkan tentang omongan orang, dan selalu saja percaya dengan ucapan orang, sedangkan anaknya sendiri menderita seperti ini, anaknya menderita saja tidak di pikirkan dan membela orang lain dari pada dirinya sendiri.


"ibu! Ibu tahu apa yang membuat diriku keluar dari rumah ini dan memilih hidup sederhana bersama dengan Cantika? Karena Yusuf tidak tahan dengan perilaku ibu yang selalu membahas tentang orang miskin terus mereka itu tidak salah bu, mereka juga tidak ingin menjadi miskin jika mereka bisa meminta mereka meminta menjadi orang kaya."


"Kenapa kamu tidak sadar-sadar juga, kamu itu hanya di peralat oleh wanita itu." Yusuf merasa sangat amat tidak mengerti lagi dengan ibunya kenapa dia terus menerus menyalah kan Cantika, dia adalah orang yang dia sayang tidak pernah dia itu meminta bahkan menyuruh nya untuk berbuat macam macam, selalu membuatnya merasa jika Cantika adalah wanita yang sangat baik, wanita yang sangat mengerti kan keluarga dan entah kenapa dan mengapa ibunya selalu saja menyalahkan dirinya.

__ADS_1


"Ibu salah, ibu salah besar! Tidak ada yang memperalat diriku, kenapa sih ibu selalu saja menyalahkan Cantika, dia itu wanita yang baik bu."


Plak


"Fifi, dia adalah istri mu yang sah, kenapa kau terus menerus membela wanita itu, dia hanya memanfaatkan dirimu nak, sadar lah." Yusuf memegangi pipi kakan nya rasanya sakit sekali tapi lebih sakit lagi dia sampai detik ini tidak menemukan di mana keberadaan dari istrinya yang tengah mengandung besar.


Apakah dirinya akan selamat, apakah nanti dia kan bertemu lagi dengan anaknya ataukah tidak?


"Stop, ibu, Cantika, Cantika juga istri saja dari Yusuf tapi kenapa ibu selalu saja membuat diri ku menjauh dari istri apalagi sekarang istriku tengah mengandung anak dari diriku. Biarkan aku mencari istriku." Yusuf bersimpuh di hadapan ibu nya bahkan Dara malah meninggalkan anaknya dan lebih perduli dengan Fifi.


Yusuf tanpa ragu segera pergi tanpa membawa apa pun dari rumah memang ini bukan lah kehidupan nyata, dia lebih bahagia jika bersama dengan istrinya, walaupun dengan makanan dan rumah yang seadanya istrinya bahkan tidak pernah mengeluh, bahkan saat mereka tidak mempunyai uang sama sekali dia menjual cincin pernikahan mereka tanpa sepengetahuan dari Yusuf. Pengorbanan istrinya membuatnya merasa jika istrinya pantas untuk bahagia.


Namun yang membuat nya selalu sedih adalah saat Yusuf harus memilih antara istrinya dan ibunya Cantika dengan lapang dada menyuruhnya untuk datang ke rumah ibunya, Cantika tidak pernah sekali pun membenci mertuanya padahal mertuanya selalu jahat dan bahkan tidak pernah menerima nya sebagai seorang menantu.


Yusuf sadar jika ibunya memang dari awal tidak menyukai Cantika menjadi menantunya tapi setidaknya ibunya menerima karena apa dia juga sekarang akan menjadi seorang nenek.


......"Maafkan diriku istriku, aku telah membawamu menuju mala petaka, bukannya aku membuat dirimu bahagia namun aku hanya membawa mu menuju ke sengsara. Kau boleh marah padaku karena seharusnya aku yang pantas kau salahkan, tapi ku mohon kembali lah di pelukan ku, jangan menghilang seperti ini. Jangan membuat diriku panik. "......

__ADS_1


__ADS_2