Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Enggak Peka


__ADS_3

Hikmal tersenyum kearah Wulan.


"Kenapa dia melihatku seperti ini? Ada apa dengan dirinya." Wulan duduk di kursi Hikmal hanya tersenyum tanpa bersuara sedikitpun menatapnya dengan tatapan penuh dengan kebahagiaan.


"Apa kamu? Ah tidak bagaimana keadaan mu? Maaf aku tidak bersama dengan Fiani." tak ada jawaban dari Hikmal dia hanya menatap Wulan membuat Wulan salah tingkah.


"Siapa yang ingin Fiani ada di sini." Wulan menatap dengan penuh tanya kenapa? Tumben Hikmal tidak bertanya tentang Fiani, ada apa dengan dirinya apakah dia melupakan orang yang sangat ia cintai.


"Bukankah kamu mencari Fiani, bukankah kamu mencintai Fiani, benar kan." Hikmal tersenyum memang dia mencintai Fiani namun apa benar jika Fiani sudah mempunyai suami? Jika ia mana mungkin Hikmal menghancurkan kebahagian orang yang dia sayangi, lebih baik dia mencari kebahagiaan dengan orang lain agar dia dan Fiani sama-sama bahagia.


"Tidak, sekarang mana mungkin aku mencintai Fiani, terlebih kan Fiani sudah mempunyai seorang suami, mana mungkin aku merusak rumah tangga orang lain apalagi wanita yang aku cintai." Bagaimana bisa Hikmal tahu tentang ini apakah Tante Mila mengatakan semuanya pada Hikmal.


"Dari mana kamu mengetahui nya? Apa tante Mila menceritakan semuanya padamu?" tanya Wulan bingung pasti memang tante Mila yang memberi tahukah akan hal ini.

__ADS_1


"Tidak, ada seseorang yang memberi tahu ku, jika harusnya aku ini tidak mengejar wanita yang sudah bersuami, dan ternyata benar Fiani sudah bahagia dengan suaminya, lalu apa kamu tidak ingin bahagia juga bersama orang yang kamu cintai?" tanya Hikmal membuat Wulan bingung nih apa dia baru saja menyatakan bahwa dirinya sudah mengetahui jika Wulan mempunyai rasa.


"Bahkan aku sendiri pun tidak tahu, yang jelas jika dia memintaku untuk tidak mendekatinya lagi aku juga akan pergi tanpa di minta kok, karena apa cinta tidak bisa di paksakan, cinta tidak bisa seperti air yang akan mengalir cinta hanya akan membuat sakit hati jika orang yang kita cintai bahkan tidak menganggap jangankan menganggap memperhatikan saja tidak." Hikmal memegang tangan Wulan dan ingin mengatakan jika dirinya akan membuka hatinya untuk dirinya setidaknya jika dia tidak mencintainya Wulan pasti akan membuatnya lambat laun jatuh cinta padanya hanya membutuhkan waktu dan kebiasaan saja.


"Apakah kamu sedang curhat padaku, aku yang tidak memperhatikan dirimu kan?"


"Hah kenapa dia jadi peka seperti ini, ini hanya perasaan ku kah?"


Masih saja tidak mau mengaku dianya.


"Lalu kenapa dengan tuh muka, merah tahu, hahaha.. " Hikmal malah ketawa membuat Wulan ikutan ketawa.


"Aku suka melihatmu tersenyum seperti ini, maafkan aku ya karena tidak tahu perasaan mu," Wulan diam saja bagaimana mungkin Hikmal berubah seperti ini apa dia sedang tertempel jin cinta apa bagaimana sehingga bicaranya tambah ngelantur seperti ini.

__ADS_1


"Siapa yang mempunyai perasaan padamu, jangan sotoi deh jadi cowok."


"Siapa yang sotoi, Si Wulan, aku tahu kok kamu selama ini sudah menderita karena memendam perasaan padaku kan." Wulan memperlihatkan wajahnya yang merah nih dasar tidak waras tapi memang benar sih dia mempunyai perasaan yang besar pada Hikmal.


"Saat ini memang aku masih belum mempunyai rasa apapun padamu tapi seiring berjalannya waktu pasti perasaan cinta itu akan tumbuh kan."


"Maksudmu apa dengan mengatakan itu padaku? Nih kamu latihan buat membuat hati Fiani luluh lagi padamu kan?"


"Eh... Tidak kok, kok malah bahas Fiani sih aku ini ingin kamu menjadi pendamping ku loh masih enggak jelas juga? Biasanya kan kamu yang suka peka pake banget loh." Mata Wulan membuat sempurna eh dari tadi itu Hikmal berbicara tentang dirinya, waduh apakah ucapannya tadi serius apa bercanda seperti dahulu.


"Jadi?" Wulan menunggu jawaban dari Hikmal.


"Jadi? Maukah kamu menerima ku sebagai pendamping hidup mu? Ya walau kamu tahu sih perasaan ku masih belum ada untuk mu." Wulan memegang erat tangan Hikmal walaupun Hikmal belum mempunyai perasaan padanya.

__ADS_1


__ADS_2