Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Episode 9. Aku gak mau


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar Dini langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan terlelap disana sepertinya ia memang sedang kelelahan.


Sementara di ruang tamu sudah ada kedua orang tua Bastian beserta Selo dan istrinya Karin.


"Baru sampai mah? " tanya Bastian.


"Ia Bas. Dini dimana kok gak kelihatan?" tanya Mita.


"Ada kok mah baru aja masuk ke kamar."


"Ya udah biarin dia istirahat, dia juga pasti kecapean."


"Selo... Bawa Karin kekamar biar dia istrahat, pasti kamu cape kan?" tanya Mita.


"Ia mah."


"Ya udah sana gih istirahat."


"Kalau gitu Karin ke kamar dulu mah, pah." Pamitnya.


"Ia sayang." Mita


Selo dan Karin pun beranjak dari duduknya dan segera masuk ke kamar untuk beristirahat. Mereka benar-benar kelelahan satu hari ini, bagaimana tidak para tamu yang hadir begitu banyak dan mereka harus menyambut tamu mereka satu persatu yang datang untuk memberi selamat.


"Kapan kalian balik?" tanya Nugroho.


"Besok sore pah. " Jawab Bastian.


"Kerjaan kamu gimana Vin?" tanya Nugroho.


"Kerjaan aku aman kok om." Sahut Kevin tersenyum.


"Bagus lah kalau begitu."


"Oya Bas, besok Dini ikut kan sama kamu biar besok sebelum kalian berangkat mama mau temani Dini dulu belanja keperluan kalian." Mita.


"Kayanya gak deh mah, Dininya gak mau ikut." Terang Bastian berbohong pada hal dia sendiri yang tidak ingin membawa Dini pergi bersamanya.


"Besok biar mama yang ngomong sama dia."


"Udah lah mah gak usah di paksa."


"Di paksa gimana coba? kan udah seharusnya kalian itu tinggal bersama atau jangan-jangan kamu yang gak mau bawa dia, ia kan?" Selidik Mita.


"Gak tau tu tan, punya istri tapi dianggurin dasar emang Bastian." Kevin tiba-tiba nimpung.


"Kamu juga!" gertak Bastian ke Kevin dengan mata melotot.


"Apa?" sahut Kevin


'Udah udah kalian ini kaya anak kecil aja.


Besok kamu ajak Dini ikut sama kamu dia itu istri mu. " Terang Nugroho.


"Ia ia.." Bastian akhirnya mendengarkan perintah orang tuanya.


"Jangan ia ia aja kamu Bas!" tegas Nugroho.


"Ia pah, besok Bastian bakalan bawa Dini ikut." Terang Bastian.


"Nah gitu dong nak." Mita.


"Ya udah kalau gitu Bastian duluan ke kamar." Pamitnya.


"Kamu belum istirahat Vin?" tanya Bastian sebelum meningalkan ruangan itu.


"Bentar lagi Bas, kamu duluan aja aku masih mau ngobrol sama om dan tante." Terang Kevin.


"Ya sudah kalau gitu aku duluan."


"Ia Bas. "


Bastian ikut berbaring disebelah Dini yang sedang tidur itu, namun Dini terbangun karena kehadiran Bastian. Dini pun melihat kearah Bastian kemudian membuka selimut yang ada di tubuhnya dan perlahan menurunkan kakinya.


"Mau kemana? " tanya Bastian.


"Mau ambil minum aku haus tadi lupa bawa kesini." Terang Dini sambil terus bergerak menuju pintu.

__ADS_1


"Tunggu!"


"Apa?" jawabnya sambil menoleh kearah Bastian.


"Ganti dulu pakaian mu di depan banyak orang." Perintah Bastian.


"Kenapa sih emang?"


"Udah gak usak banyak tanya, aku bilang ganti ya ganti."


"Aku gak mau!" ucap Dini.


"Ganti gak?" Bastian mendudukkan dirinya diatas tempat tidur.


"Gak!" Dini tetap bersikeras tak mau mengganti pakaiannya.


"Diluar ada papa, mama sama Kevin. Kamu emang gak malu apa pakaian kamu begitu?"


"Nggak!" jawab Dini santai.


"Kamu tu ya, ganti dulu baru kamu keluar." Perintah Bastian sambil menarik tangan Dini.


"Apa sih kamu? lepasin tangan aku!"


"Gak bakalan aku lepasin sebelum kamu mau ganti itu pakaian mu."


"Ia ia.. Aku ganti baju sekarang lepasin dulu tangan aku."


Bastian pun melepaskan tangannya namun apa yang terjadi setelah tangan Bastian terlepas? Dini masih tak mau mengganti pakaiannya dia malah mengoda Bastian.


"Tapi Boong!" ucapnya kemudian berlari kearah pintu kamar untuk melarikan diri dari Bastian.


Namun langkahnya masih kalah cepat dari Bastian yang sigap mengejarnya sepertinya ia sudah menduga jika Dini bakal kabur darinya.


Kini tubuh Dini sudah berada di pelukan Bastian. Tangannya melingkar di pinggang Dini untuk menahan keinginan Dini yang hendak kabur itu.


"Lepasin!" teriak Dini.


"Ganti dulu pakaian mu!"


" Gak mau!"


"Aku bisa sendiri! sekarang lepasin dulu, aku gak bakalan kabur lagi." Ucap Dini.


Bastian pun melepaskan Dini dari dekapannya bukan karna ia percaya dengan perkataan Dini melainkan karna ia tak tahan berlama-lama diposisi seperti itu.


Saat berada diposisi seperti itu membuat Bastian dag dig dug Karena ia dapat merasakan aroma dari tubuh Dini, rambutnya yang wangi membuat perasaannya campur aduk.


Nama juga masih normal jadi wajar dong!


Akhirnya Dini pun menuruti kemauan Bastian, kini ia mengambil pakaian yang hendak ia gunakan dan membawa pakaian tersebut kekamar mandi kemudian menggantinya disana.


Tak lama ia pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju piyamanya. Tanpa melihat kearah Bastian ia langsung berjalan menuju pintu kamar melewati Bastian yang tengan duduk di sisi ranjang.


Bastian pun melirik Dini yang sudah memakai piyama yang longgar dibadan lengkap dengan celana panjangnya.


"Emang ya tu anak, katanya banyak orang di depan tapi mana ada. Awas aja ntar ya aku balik kerjain baru tau rasa." Omel Dini berbicara sendiri karna ternyata ia tidak mendapati ada orang di ruang tamu.


Itu karna semua orang sudah masuk kekamar masing-masing. Saat ia mengambil minum di dapur Karin datang dengan membawa kantong plastik yang berisi susu ibu hamil.


"Kamu mau apa? sini biar aku bantu." Terang Dini.


'Ini mau buat susu." Karin.


"Oh, sini biar aku buatkan mba Karin duduk aja." Mengambil kantong plastik yang ditangan Kiren.


"Gak usah repot biar aku aja." Tolak Kiren.


"Gak repot kok mba. Jelas Dini.


Setelah membuka kantong plastik tersebut Dini pun berucap, "susu ibu hamil" dan membaca petunjuk penyajian di lebel kotak susu tersebut.


"Udah berapa usia kandungannya mba?" tanya Dini.


"Masuk 9 minggu." Sahut Kiren.


"Rasanya gimana mba?" Dini ingin tau.

__ADS_1


"Ada rasa senang karna bisa hamil tapi kadang ada rasa gak enaknya juga."


"Kok gitu?"


"Ia, kadang mba ngerasa mual, pusing, lemes.


makanya kamu juga cepatan nyusul biar kita sama-sama."


"Aku belum kepikiran buat hamil kok mba." Terang Dini sambil memberikan susu yang sudah di buat olehnya.


"Loh kenapa?"


"Mba dan bang Selo menikah karna saling mencintai sementara aku dan Bastian karna dijodohin jadi pernikahan aku tu gak seperti pernikahan mba. Kami belum terbiasa dengan situasi sekarang mungkin masih butuh proses untuk bisa saling mengenal satu sama lain." Terang Dini.


"Kamu kok mau sih dijodohin?" Kiren.


"Mau gimana lagi mba, nolak juga gak bisa jadi ya nurut aja deh!"


"Trus awalnya kamu mau dijodohin sama Selo kan? karna aku kamu harus nikahnya sama Bastian. Maaf ya Din!"


"Udah mba gak usah minta maaf, ini bukan salah mba kok."


Sementara Bastian keluar dari kamar untuk melihat Dini yang tak kunjung kembali kekamar, ia melihat tidak ada lagi orang yang berada di ruang tamu.


"Kemana dia?" tanyanya sendiri


setelah mendengar suara dari arah dapur segera ia berjalan menuju sumber suara tersebut.


Kini ia berada tak jauh dari posisi Dini dan Karin yang tengah asik ngobrol, ia diam-diam mendengarkan apa yang sedang di bicarakan mereka.


"Aku penasaran deh, Selo bilang sebelum kamu dijodohin pacar kamu ninggalin kamu karna wanita lain ya?"


Dini pun menarik nafas sebelum menjawab pertanyaan Karin.


"Maaf aku tak bermaksud..."


Belum sempat Karin menyeselaikan kalimatnya Dini sudah memotong ucapannya.


"Ga papa kok mba!


Sebenarnya kami pacaran sudah 5 tahun tapi tanpa sepengetahuan ku ternyata Arya menjalin hubungan dengan wanita lain 1 tahun terakhir.


Dia bilang aku terlalu sibuk bekerja sehingga aku tidak punya banyak waktu bersamanya.


Memang kenyataannya begitu aku selalu mengutamakan pekerjaan ku di bandingkan apa pun itu.


Aku bekerja keras untuk dapat menghasilkan banyak uang. Dalam waktu 3 tahun aku membelikan lahan sawit kepada orangtua ku dan sekarang mereka hidup dari hasil panen sawit tersebut.


Setelah itu aku bekerja keras untuk hidupku.


Aku berusaha agar aku punya cukup uang untuk biaya pernikahan yang aku impikan dengan Arya dan setelah aku merasa itu sudah cukup ternyata ia malah meninggalkan ku. Menyedihkan bukan?" terang Dini dengan menundukkan pandangannya.


"Memangnya dia tidak bekerja sehingga kamu harus berjuang sendiri?"


"Dia bekerja di tempat yang sama dengan ku cuman dia hanya karyawan kontrak biasa jadi penghasilannya tidak sebanyak penghasilan ku."


"Berarti dia bukan yang terbaik buat kamu." Hibur Karin


"Ya, mungkin begitu mba."


"Udah gak usah sedih gitu dong, sekarang kan kamu udah punya Bastian."


"Ia makasih mba."


"Sama-sama Din. Kita kemar yuk. " Ajak Karin.


"Susunya dikit lagi, mba habisin dulu dong."


"Oh ia, bentar ya."


Mendengar jika Dini dan Karin ingin kembali ke kamar, maka Bastian pun bergegas juga kembali ke kamar.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan coment nya ya gaes!!!


__ADS_2