Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Kenangan tentangnya


__ADS_3

Ana memandang ke arah Tuan Faam dia tau pasti dia sangat sedih apalagi Nona Fiani masih belum sadar.


"Tuan.." Ucap Ana membuat Faam berbalik arah dan menatap lagi tubuh Fiani yang masih lemah.


"Ada apa Ana?" tanya Faam tanpa menatap tangan kanan yang di tugaskan untuk menjaga Fiani.


"Ana!" lanjut Faam melirik sekilas Ana apa Ana juga tau akan penyakit yang di derita istrinya?


"Iya tuan ada apa?" tanya Ana yang was was karena Faam hanya meliriknya apakah Faam mencurigai nya?


"Apa kamu tau jika istriku itu sedang sakit?" tanya Faam yang ingin tahu, jika Ana tau lun ia harus berterima kasih karena selalu ada di dekat Fiani sedangkan dirinya selalu sibuk dengan pekerjaan dan tak pernah tau apa yang sedang Fiani rasakan.


"Maaf! Maafkan saya tuan Faam, karena nona sendiri lah yang meminta saya untuk menyembunyikan semua ini dari tuan Faam." jelas Ana tanpa ada kebohongan dalam ucapannya.

__ADS_1


Ia tau jika dirinya seharusnya memberi tahu kan tentang keadaan nona Fiani dan bukannya menyembunyikan semua ini pada Tuan Faam.


Faam tersenyum kali ini dia menatap tajam Ana, Ana takut jika Faam memecat dirinya karena memang dia lah yang bersalah karena tidak jujur pada tuannya.


Faam mendekati sosok wanita yang raut wajahnya ketakutan memang wanita itu kali ini sedang dak dik duk apakah dia akan di pecat?


"Apakah tuan Faam akan memecat saya, karena kecerobohan saya yang tidak menceritakan apapun yang saya ketahui tentang Nona Fiani?" Faam menggeleng dan tersenyum Faam pun segera duduk bersebelahan dengan Ana orang buang sengaja di bayar untuk mengawasi setiap aktivitas istrinya karena Faam dari dulu tidak pernah tau yang Fiani inginkan.


Istrinya selalu tertutup dan hanya menceritakan masalahnya pada pria jelmaan itu siapa lagi jika bukan Nur.


Dan dia beruntung mempunyai orang kepercayaan seperti Ana, dia jadi lebih tau banyak hal tentang istrinya terlebih istrinya itu bukan tipe orang yang mau menceritakan banyak hal pada orang lain.


Faam kembali tersenyum. "Tidak! Aku tidak akan memecat mu, aku malah berterima kasih padamu karena kamu telah menjaga istriku dengan baik, kamu tau Fiani bukanlah orang yang bisa dekat dengan siapapun. Bahkan dia sendiri tidak terlalu dekat dengan diriku, ucapan nya itu selalu kasar padaku, tapi aku tau dia seperti itu karena ulah orang tuanya yang lebih menyayangi adiknya dan dia tidak pernah di perhatikan." Ana hanya mengangguk-angguk saja pantas saja Ana tidak pernah sekali pun melihat kedekatan Tuan Faam dan Nona Fiani.

__ADS_1


"Ah jadi karena itu tuan menyuruh saya untuk menjadi tangan kanan Nona Fiani?" Faam mengangguk ya itu memang alasan yang sebenarnya.


"Benar apa kamu tau? Aku sangat mencemaskan tentang keadaan istriku, dan anehnya aku tidak pernah mengetahui sedikit pun tentang dirinya, aku tau dia juga sangat mencintai diriku tapi aku merasa jika aku tidak tau menahu tentang apa yang istrinya sukai."


"Tuan, tuan tau tidak, Nona pernah mengatakan jika Nona juga sangat mencintai tuan loh tapi Nona hanya tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Tuan tua tidak Nona pernah cerita tentang perusahaan Tuan dan apa saya harus mengatakan yang sebenarnya?" Faam tidak menginginkan hal itu. Yang dia inginkan adalah menyelamatkan nyawa istrinya.


"Soal perusahaan atau uang aku bisa mencarinya Ana, tapi... " Faam memandang kearah istrinya yang masih tidak sadarkan diri.


"Aku tidak bisa melihat istriku seperti itu, apalagi saat aku tau jika dia sedang sakit dan sekarang aku harus memilih antara istri atau anak ku, coba pikirkan apa yang harus aku lakukan Ana?" Ana tau pasti sangat lah berat jika harus memilih antara kedua orang yang sangat Tuan mudanya sayangi.


Tapi jika dia tidak memilih bagaimana? Dan jika dia memilih itu membuatnya berat.


"Nona pernah bilang saat dia sudah tidak tahan lagi, Nona selalu merasa sakit pada tubuhnya namun dia mencoba untuk bertahan apalagi saat dokter mengatakan jika Nona tengah mengandung apa tuan tau? Nona sangat senang tapi saya juga sangat khawatir tentang keadaan Nona. Maaf karena saya tidak pernah menceritakan apapun pada tuan Faam."

__ADS_1


"Hey kau tidak perlu merasa bersalah padaku, tapi.. " Faam kembali melangkah dan duduk memandangi istrinya.


"Kasihan tuan sejak Nona koma dia menjadi tidak ingin melakukan apapun. Kasihan dirinya semoga saja tuan Faam dapat sabar menghadapi cobaan ini dan semoga Nona Fiani cepat sembuh dan dapat tau bagaimana tuan Faam sangat mencemaskan dirinya dan mencintai dirinya.


__ADS_2