Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Jangan kepedean


__ADS_3

"Wulan? Kenapa Hikmal memanggil Nama Wulan, ada apa dengan dirinya apa dia sudah mencintai bahkan melupakan Fiani?" Mila hanya bisa bingung dengan keadaan anaknya, apa dia harus meminta tolong Wulan saja, tapi bagaimana mungkin sikapnya kemarin saja sudah keterlaluan dengan Wulan pasti Wulan tidak ingin datang.


Di sisi lain, Wulan sudah membeli buah-buahan, seharusnya dia tidak melakukan ini terlebih saat Hikmal juga tidak menginginkan nya tapi hatinya tidak bisa bohong karena apa rasanya cinta nya masih ada dalam dirinya.


"Bagaimana dengan keadaan Hikmal? Seharusnya aku juga tidak sekepo ini? Padahal aku juga sangat tahu jika Hikmal mencintai Fiani lalu kenapa aku masih sangat berharap? Haduh Wulan kamu harus sadar diri dong, tapi kan Hikmal tidak mungkin memiliki Fiani terlebih kan, hah mikir apa sih aku yang jelas pokoknya aku harus melihat nya saja memastikan keadaan nya dan langsung pergi."


"Ini neng buahnya." ucap penjual buah yang sudah membungkus buahnya dengan rapi.


Wulan segera menuju rumah sakit ya dengan jalan kaki karena apa jarak antara rumah sakit hanya tinggal beberapa meter saja.


Sebenarnya dia bingung dengan dirinya sendiri, buat apa dia malah mementingkan orang lain padahal dirinya sendiri saja tidak pernah dia perhatikan, dia merasa sakit sekali saat orang yang dia cintai malah berpaling muka, namun entahlah saat melihat wajahnya saja sedikit saja melihatnya perasaan marah, sakit hati dan tidak di perduli kan menghilang, ada apa dengan dirinya itulah yang membuat dirinya bahkan hatinya bingung.

__ADS_1


"Apa yang ku lakukan ini memanglah sudah benar apa tidak? Kenapa aku malah datang ke rumah sakit ini, padahal nanti juga aku akan di usir oleh tante Mila. Bodohnya aku." Wulan berjalan terus hingga sampailah dia ke ruangan tempat Hikmal di rawat, dia melihat dari pantulan kaca jika hanya ada tante Mila yang ada di sana.


Wulan mengambil napas kasar rasanya dia sangat bimbang antara ingin masuk ataukah tidak.


Mila kebetulan keluar dari ruangan betapa terkejutnya dia karena melihat Wulan yang malah tidak masuk dan hanya menunggu di luar.


"Wulan? Apa yang kamu lakukan?" tanya Mila dengan nada lembut.


"Ya sudahlah masuk, tunggu Hikmal sebentar tante ingin pergi untuk mencari makanan."


"Biar Wulan saja tante yang memberikan tante makan." tawar Wulan dengan senyuman.

__ADS_1


"Tidak, sebaiknya kamu jaga Hikmal, karena dari tadi Hikmal terus memanggil nama mu dan dia juga sudah sadar kok sekarang, tante sangat bahagia." Wulan membuatkan mata apa dia sudah sadar apakah benar? Syukurilah. " Wulan sangat senang mendengar kabar jika Hikmal sudah sadar tapi kenapa dia malah mencari dirinya bukankah dia seharusnya mencari Fiani bukannya Wulan ini Hikmal kesambet apa bagaimana sih?"


Mila segera melangkah pergi


"Kenapa Hikmal mencari diriku? Bukankah seharusnya dia itu mencari Fiani, apa aku yang kegeeran tidak mungkin kan jika Hikmal menyadari jika akulah orang yang selalu ada untuk nya dan mencintainya haduh Wulan kamu itu jangan terlalu percaya diri dulu paling Hikmal mencari mu untuk menanyakan kabar Fiani saja, kamu harus sadar diri jika Hikmal itu tidak akan pernah mencintai atau menganggap dirimu lebih dari teman bukan yang lain.


Ceklek


Wulan membuka pintu ruangan Hikmal terlihat Hikmal yang tersenyum kearahnya.


"Ini ulah kamu kan Nur!" Nur melirik saja tidak bersuara dan duduk di pojokan menatap awan yang sangat cantik siang ini.

__ADS_1


__ADS_2