
Faam tersenyum melihat ketiga anaknya bermain.
"Sayang... " Fiani duduk bersebelahan dengan suaminya, suaminya hanya tersenyum melihat ketiga anaknya bermain.
Sudah lima tahun berlalu sekarang ketiga anaknya sudah sekolah, dia juga mendapat kan kesibukan lain yaitu mengantar ketiga anaknya untuk bersekolah di sekolah khusus.
"Kamu itu, sudah sana istirahat, kamu itu tidak bisa saja tidak melihat anak mu itu, sana istirahat dari tadi kami terus yang menjaganya." Faam tersenyum dan menyeruput kopi yang dibawakan Fiani.
"Kamu sekarang banyak bicara ya sayang, kan kamu capek harus mengurus tiga anak kita yang super duper rese itu." Fiani tidak memungkiri jika ketiga anaknya itu sangatlah aktif ya bagaimana lagi kan mereka masih kecil jika di marahi juga tidak akan tahu.
"Tapi tuh Bu Mega nyebelin masa anak kita di bilang nakal." Faam memandang istrinya mana mungkin anak mereka nakal dia tidak mengajari ketiga anaknya untuk nakal kok.
Apalagi nakal sama teman.
"Kamu ini selalu saja bertengkar dengan Mega kenapa, apa kamu sudah bertanya pada Dilan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi?" Fiani sudah bertanya pada anaknya tentang apa yang telah terjadi dan Dilan mengatakan jika yang mulai adalah anak dari Mega. Dia hanya membela kedua adiknya saja.
__ADS_1
"Sudah, tapi Dilan bilang dia itu hanya melindungi adik nya saja."
"Begini saja besok kan aku tidak ada pekerjaan, jadi biarkan aku saja yang menunggu kamu selesai pekerjaan kantor saja. " Fiani terkekeh nih lagi lagi pekerjaan kantor maning apa tidak ada pekerjaan lain kah.
"Lagi dan lagi, baik lah." Fiani tersenyum saja jika soal kantor baiklah.
"Sayang, kamu sudah berusaha. Aku hanya bercanda saja." Faam segera menarik lengan istrinya mana mungkin sih ia tega memberikan pekerjaan yang begitu banyak, dia sudah terllau capek apalagi untuk mengurusi ketiga anaknya.
"Memangnya pekerjaan mu di kantor sudah selesai semua?" Faam tersenyum bukannya selesai jika kantornya sih banyak lah pekerjaan kan ini demi anaknya dia juga tidak percaya jika anak nya itu nakal apalagi menganggu temannya ini pasti ada yang salah.
"Masih, hanya saja aku tidak percaya jika Dilan itu sangat nakal dia itu sangat pintar apalagi lihatlah dia saja selalu saja menjaga adiknya."
"Mama.... " Teriak Fania yang sedang sibuk bermain.
"Mama... Jangan marahin kakak ya, dia itu hanya melindungi diriku, kakak pernah berkata jika. dia akan melindungi diriku dan kan Danil tapi kenapa kakak Dilan yang terus kena marah oleh ibu guru."
__ADS_1
Fiani terkekeh itu dan itu lagi yang di katakan oleh Fania begitu pula dengan Danil mereka berdua selalu membela kakak nya.
Tidak pernah bertengkar.
"Fania, mama tidak akan marah pada kak mu, dan apa Tante Ana sudah memberikan kalian berdua makan?"
Fania menggeleng bagaimana tante Ana memberikan makan kan tante Ana anaknya sedang sakit!
"Mama lupa ya kan tante Ana sedang liburan Kan Sasa sakit." Fiani yang mendengar akan hal itu tersenyum saja kenapa dia bisa lupa ya.
"Kamu di sini biar mama membawakan kamu dan kedua kakak mu makanan." Fania tersenyum lagi pula dia juga sangat lapar.
Danil nampak menggeleng tuh. " Lihatlah adik mu itu caper sama mama."
"Dia juga adik mu tahu."
__ADS_1
"Apa dia ngadu sama mama, kakak sudah lah bilang sama mama jika si Repan itu nakal."
"Sudahlah jangan seperti itu. Tidak baek dek!" Ucap Dilan dengan nada yang lugu dia juga tidak ingin sampai papa dan mama nya mengkhawatirkan dirinya.