
Setelah cukup lama Bastian dan kedua orang tau Dini bercengkrama di ruang tamu. Kini ibu Laras menyuruh Bastian menemui Dini di kamar untuk beristirahat.
Bastian mau tak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh ibu Laras. Dengan ragu ia membuka pintu kamar Dini. Hingga pada akhirnya Bastian membuka pintu itu dan masuk kedalam kamar.
Deg
Bastian melihat Nia yang sudah menggantikan pakaiannya. Dia memakai baju kaos putih dan celana pendeknya diatas lutut sedang berdiri didepan cermin sambil mengucir rambutnya tinggi memperlihatkan leher jenjangnya.
Bastian diam mematung didekat pintu. Pikirannya seakan berputar seolah ia seperti pernah melihat seseorang yang berpenampilan sama dengan penampilan Dini saat ini.
"Kau disini? " Dini berbalik dari cermin begitu selesai dengan rambutnya.
Bastian menatapnya lekat tanpa memperdulikan pertanyaan Dini.
"Kau kenapa? " selidik Dini melihat Bastian masih diam mematung.
"T-tidak apa-apa. " Bastian menggelengkan kepalanya. Namun bayangan itu terus muncul di kepalanya.
Dini menghampiri Sio yang sedang terlelap diatas tempat tidur. Membetulkan bantal yang ada didekat Sio. "Kau istirahatlah. " Suruh Dini kepada Bastian. "Oya aku titip Sio ya. Aku mau menemui ibu dulu. " Ujar Dini kemudian hendak berjalan menuju pintu.
"Ibu dan ayah sedang keluar sebentar. " Terang Bastian menghentikan langkah Dini. "Keluar? " Membalikkan badannya menghadap Bastian.
"Ia sepertinya ibu meminta ayah mengantarnya berbelanja. " Jawab Bastian.
"Oh, begitu. " Namun Dini tetap keluar dari kamar meninggalkan Bastian yang bingung dengannya.
Bastian mengarahkan pandangan matanya menyusuri setiap sudut kamar itu. Terlihat sangat sederhana, tempat tidur kecil dan ruangan itu tidak terlalu besar seperti kamarnya. Matanya tertuju pada sebuah foto yang berada di meja rias Dini.
Foto berukuran kecil antara dirinya dan Dini. Sepertinya foto yang diambil ketika mereka berlibur ke bali pada waktu itu. Bastian mengambil foto itu dan menatapnya.
Menyentuh wajah Dini yang ada didalam foto itu. "Maaf jika aku tidak bisa mengingat siapa diri mu. Tapi aku juga tidak bisa memaksakan ingatan ku untuk secepatnya mengingat mu. " Lirih Bastian kemudian mengembalikan foto itu ketempatnya kembali.
__ADS_1
Membalikkan badannya kearah tempat tidur melihat Sio yang sedang terbangun dari tidurnya. Mendekati Sio yang mulai merengek-rengek dan semakin lama menjadi sebuah tangisan.
"Sst sst. " Bastian menepuk-nepuk pelan punggung Sio namun bukannya diam Sio semakin mengeraskan suara tangisannya.
Clek
Dini datang begitu mendengar suara tangisan Sio dari luar kamar. "Oh sayang. " Dini menggendong Sio sambil menepuk-nepuk punggung Sio. "Haus ya. " Dini membuka tas yang berisikan semua perlengkapan Sio sementara Bastian yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur hanya bisa memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Dini.
"Bas, bisa tolong buatkan susu buat Sio? " tanyanya.
"A-apa? " Bastian mendekati Dini.
"Ini tolong ambilkan aku botol dotnya. " Pinta Dini yang masih menenangkan Sio.
Bastian yang belum pernah melakukan hal semacam itu terlihat bingung harus bagaimana. "Sini biar aku aja, tapi tolong pegangin Sio. " Dini memberikan Sio kepelukan nya. Bastian hanya menuruti apa yang dilakukan oleh Dini kepadanya.
Sementara Dini mulai membuatkan susu formula untuk Sio. Selesai membuatkan susu buat Sio, Dini mengambil Sio dari tangan Bastian. Kemudian membaringkan Sio dipangkuannya mulai memberikan botol dot susu, mengarahkan kemulut Sio.
Dini dengan sabar mengurus Sio padahal Sio bukan anak kandungnya namun ia memberikan kasih sayang yang tulus kepada Sio layaknya anaknya sendiri.
Selesai memberikan susu kepada Sio, kini Dini mengajak Sio bermain. Walaupun hanya sekedar bermain cilukba setidaknya Sio sudah mulai merespon bermain dengannya.
Menggerakkan kedua tangan dan kakinya serta senyuman kecil dibibirnya pertanda baby Sio merespon perlakuan Dini.
Sedari tadi Bastian mengamati apa yang dilakukan oleh Dini. Ia begitu cekatan mengurus Sio padahal ia sendiri belum pernah melakukan atau merawat seorang bayi.
"Apa Sio sering bersama mu? " Selidik Bastian di sela-sela tawa Dini yang masih bermain dengan Sio.
"Ia. " Jawabnya singkat.
"Apa Karin tidak keberatan dengan ini? " Bastian kembali bertanya. "Tidak. " Lagi-lagi memberikan jawab singkat.
__ADS_1
"Apa kau begitu menyaingi Sio sehingga kau terus bersamanya? " Bertanya lagi.
"Tentu. Karena kehadiran Sio aku bisa seperti sekarang ini. "
"Maksudnya? " Bastian bingung dengan arti dari ucapan Dini.
"Sudah lah lupakan saja. "Dini menghentikan pembicaraan mereka. Karna tak mungkin baginya untuk mengatakan jika selama Bastian hilang, Dini merasa dunianya hilang dan begitu Sio terlahir kedunia. Ia seperti menemukan semangat baru baginya untuk menjalani kehidupannya.
Bastian pun hanya menganggukkan kepalanya kaku tapi didalam hatinya seperti ada yang mengganjal ketika Dini enggan meneruskan pembicaraan mereka.
"Kau istirahat lah. Aku akan membawa Sio keluar agar kau bisa beristirahat. " Terang Dini. "Tidak apa kalian disini saja." Cegah Bastian.
"Tapi nanti kau bisa terganggu. " Ucap Nia.
"Tidak apa. " Tegas Bastian.
"Baiklah. " Dini menuruti keinginan Bastian untuk tetap berada didalam kamar bersamanya.
Bastian merebahkan dirinya diatas tempat tidur dan Dini beserta Sio juga berada didekatnya. Bastian menatap keduanya sampai ia tertidur disana.
Sementara ditempat lain Lovia sedang menggerutu menahan rasa kesal. Mama Mita yang sengaja mencegah Lovia untuk ikut bersama dengan Bastian dan Dini. Meminta Lovia untuk membantunya mengurus sesuatu dan terjadi sesuatu yang dimaksud oleh mama Mita ternyata hanya untuk memindahkan beberapa pot bunga dan menata beberapa bunga yang baru ditanam didalam pot oleh Mita.
Padahal bisa saja Mita menyuruh pekerjanya membereskan akan hal itu namun ia sengaja berbuat demikian agar Lovia berhenti mengganggu Bastian dan Dini. Jika Lovia terus bersama dengan Bastian lantas bagaimana Bastian bisa mendapat ingatannya tentang Dini jika tidak pernah dekat satu sama lain.
Mita tersenyum puas melihat Lovia yang kesal namun berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepada Mita. "Bagus, setidaknya kau tidak menggangu anak dan menantu ku saat berada dirumah besan ku. Jika kau ikut bagaimana kami akan menjelaskannya nanti. Dan kau pasti akan terus menempelkan dengan Bastian tanpa tau tempat." Gerutu Mita dalam hatinya.
Ketika Mita memalingkan wajahnya kearah lain Lovia menatap tajam kearah Mita. "Jika kau bukan ibu dari Bastian. Sudah kupastikan kau akan menanggung akibat dari perbuatan mu ini. " Gumam Lovia dan ketika Mita kembali menghadap kepadanya ia berpura-pura tersenyum.
Namun Mita bukanlah orang yang segampang itu dikelabui. Tapi Mita tidak mau terpancing dengan hal seperti itu. Karena ia tidak ingin merusak rencananya yang akan secara halus menjauhkan Lovia dari Bastian.
Namun lain dengan Karin, Ia melihat ekspresi Lovia dari kejauhan yang sengaja dibuat-buat merasa tidak terima dengan sikap Lovia. Ia ingin memberi pelajaran kepada wanita itu namun Mita menyadari hal itu. Dengan gerakan menggelengkan kepala Mita memberi kode kepadanya dan terpaksa ia mengurungkan niatnya.
__ADS_1