
"Semuanya sudah saya laksanakan sesuai perintah bos." ucap seseorang yang segera mengakhiri panggilan dari Faam.
Faam tersenyum dan memandang istrinya yang masih terlelap tidur.
"Aku sudah menepati janjiku padamu, aku sudah menyuruh orang untuk membongkar rencana licik dari calon tunangan Yuda sekarang kamu tidak perlu mencemaskan orang lain lagi." Faam membelai lembut rambut istrinya.
Menatapnya dengan mata berbinar, entah sudah berapa lama dia tidak membelai rambut istrinya seperti ini.
Mengusap lembut perut istrinya yang sudah mulia nampak membesar di dalam sana ada dua orang anak satu jagoan dan satunya lagi seorang bidadari untuk mengisi kekosongan rumahnya.
"Sayang, jangan nakal ya di dalam, jangan buat mama sakit, maafkan papa ya nak karena papa ingin menyingkirkan kalian dari hidup papa tapi memang mama mu sangat menyayangi dirimu. Tapi jangan pernah membenci papa nak karena papa sebenarnya tidak ingin melakukan hal itu papa dulu terpaksa karena mama sakit dan papa juga tidak mempunyai pilihan lain. "
"Tapi kali ini papa, akan menjaga kalian berdua, dan menjaga mama mu. Papa bahagia memiliki kalian." Faam segera mengecup perut istrinya.
Faam memandang lekat mata istrinya memang benar apa yang di katakan Aldo padanya, dia terlalu mementingkan dirinya sendiri tanpa tahu apa yang saat ini istrinya pikirkan.
"Fia aku janji akan membahagiakan diriku, maaf karena bersikap dingin padamu, itu sebenarnya aku lakukan tidak ayal karena aku takut jika kamu takut padaku, ternyata kamu menginginkan itu lagi dan kenapa kamu tidak memberitahuku jika ingatan mu sudah pulih apa kamu ingin mengerjai ku? Tapi jika kamu masih marah karena kecerobohan ku kamu pantas kok marah, kamu pantas marah padaku karena memang aku lah yang bodoh tanpa tahu akan hatimu aku melakukan hal yang tidak kamu inginkan. Tapi kali ini izinkan aku untuk menjadi pria yang kamu inginkan sama seperti dulu." Faam tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke pipi istrinya.
Memberikan kecupan sebelum tidur dan akhirnya membiarkan istrinya terlelap.
Nur tersenyum begitupun dengan jin rese yang selalu mengikuti. dirinya kapanpun dan dimana pun memangnya enggak ada kerjaan apa selain ikut dengan dirinya? Dasar!!!
"Mereka itu sebenarnya saling mencintai, hanya saja karena keegoisan mereka masing masing mereka menjadi sosok yang asing." Khon segera memukul jin yang sok tahu ini.
__ADS_1
Plak
"Aw... "teriak jin rese padahal Fiani sudah memberinya nama yang bagus lah tetap saja Nur selalu memanggilnya dengan sebutan jin rese padahal dia sama sekali tidak rese hanya saja jahil bin kebangetan saja hehe.
Sama saja kalik 😏 tor
"Sakit tahu kamprettt!!!" pekik Jin rese pada Nur.
"Makannya kamu itu jangan sok tahu jadi jin, kamu tahu memang sejak akhir mengenal Fiani memang dari dulu Faam itu seperti itu mencintai Fiani hanya saja Fiani nya saja yang gengsi."
Jin rese membuang napas berat eh tinggi emang jin bisa buang napas ya kan dia mati??
"Sok sokan seperti manusia saja mengambil napas, kita itu sudah mati kali,"
"Et.. Mau kemana? Main ngacir pergi saja, jangan kesana kita itu nanti kita mengganggu kemesraan mereka." Jin rese terhenyak.
"Menganggu? Dari dulu kan tugasnya jin menganggu sebagai orang ketiga dan sudah viral karena jadi obat nyamuk lah kenapa malah di suruh pergi sih dasar Nur aneh. Jin abal-abal ini mah."
Jin rese menggeleng " Tugas kita itu menganggu memangnya kamu lupa? Kita itu sudah viral dengan sebutan yang ketiganya adalah setan, nah kita ini setan ingat lah itu."
"Kamu sendiri yang setan, aku mah jin yang baik dan selalu membantu manusia enggak seperti dirimu tukang pembuat onar." Jin rese terkekeh nih kelamaan hidup sama manusia jadi sifatnya yang seperti manusia saja menang tidak cocok lagi deh ampun ampun.
"Enggak tahu deh tentang mu lagi, kita itu setan masa enggak mau di panggil setan, kamu itu kebanyakan bersama manusia, jadi kamu terlalu menganggap manusia itu baik semua. Ingatlah nanti suatu saat manusia kaan menjadikan mu alat saja, kita itu... "
__ADS_1
"Bicara lagi aku sumbat mulut mu, aku tahu kali mana manusia yang baik dan mana manusia yang jahat, mereka itu manusia yang baik rajin ibadah, dan mereka juga tidak aneh-aneh kok. Jangan selalu beranggapan manusia itu jahat semua." Jin rese berdecak.
"Memang susah jika jin terlalu menganggap manusia sebagai teman gini nih jadinya sama teman sendiri bukannya membela nah malah ini di cela balik dasar Nur rese tapi jika aku pikir pikir selama Nur bersama mereka dia tidak pernah berkata kasar dia hanya berkata kasar kepadaku memangnya ini aku apa di kasarin melulu?" batin jin Rese pada dirinya sendiri.
"Dasar tukang ngambek!" celetuk Jin rese membuat Nur marah dan segera mengejar Jin rese memang harus diberi pelajaran jin rese ini.
Faam melihat jika Nur dan temannya itu sudah pergi memang kadang Faam bisa tahu kehadiran Nur dan kadang juga tidak tapi seperti nya Nur kali ini menguping pembicaraan nya.
Tapi biarlah dia jin baik dan tidak akan mencampuri urusannya.
Tapi Faam bingung dimana besok dia akan membawa istrinya jalan-jalan apa ke danau saja seperti dulu???
"Sayang aku ingin sekali mengajak mu ke suatu tempat yang indah, semoga kamu mengingat tempat itu kita bisa bermain berdua lagi, main di tengah danau sambil mengunakan angsa.
Aku jadi tidak sabar melihatmu tertawa lagi," pekik Faam yang segera turun ke ranjang membuka lemari untuk mengambil selimut.
Faam tahu jika istrinya ini anti dengan yang namanya hawa dingin.
Faam segera menyelimuti Fiani dan membaringkan tubuhnya tak lupa dia memberikan batas ya walau batasnya hanya guling yang akan segera di lempar ke krpalanya jika Fiani sudah terlelap nanti.
Ketika melihat guling itu Faam tersenyum di ujung bibirnya mengingat berapa resenya bumil ini saat sedang tidur.
Namun Faam tidak pernah marah pada bumil ini karena apa kebahagiaan nya hanya bisa di dapatkan jika bumil yang ada di sampingnya selalu menemaninya seperti saat ini.
__ADS_1