
"Suamiku ada apa dengan dirimu?" tanya Dia ni yang ingin tau kenapa suaminya marah-marah tidak jelas.
Faam pun tersenyum " Tidak, aku tidak sedang marah sayang, aku hanya heran dengan Ardan."
"Memangnya kenapa dengan dia?" tanya Dia ni membuat Faam terkekeh.
"Aku memberikan dirinya liburan satu minggu dan belum juga aku mengatakan tugas-tugas nya setelah liburan itu berakhir dan dia main tutup telponnya kan rese!" dengus Faam mengatakan apa yang dia rasakan.
"Bukankah sahabatmu ada dua kenapa kau hanya memberikan liburan pada Ardan saja nanti bagaimana dengan Rendra?" tanya Dia ni lagi.
"Jika Rendra itu beda, bahkan dia tidak ingin liburan walau hanya satu detik pun, dia itu penghobi bisnis lain halnya dengan si Ardan tapi pasti dia sangat mencemaskan temannya itu, tapi masa bodo lah yang penting kita liburan... " teriak Faam yang segera menenteng kopernya menuju mobil.
"Nona..." Setelah Faam berlalu pergi Ana sangat amat mencemaskan Fiani. Fiani tau jika Ana pastilah akan sangat khawatir mengingat dia tidak di ajak dalam bulan madunya bersama dengan suaminya.
"Kenapa? Kenapa kau begitu cemas Ana, bukankah saat aku bulan madu kau akan libur dan kau juga mendapat kan gaji seperti saat kau kerja."
"Nona, bukan itu," Bagaimana caranya ia menjelaskan pada Nona nya jika saat ini dia begitu cemas. Siapa yang akan mengingatkannya untuk minum obat dan tiba-tiba penyakit Nona mudanya kambuh bagaimana siapa yang akan menolongnya.
"Aku tau kau menghawatirkan diriku, tapi aku akan baik-baik saja dan setelah bulan madu ku selesai pasti aku akan cepat-cepat kembali." jelas Fiani sembari mengangkat kopernya.
"Nona apa yang kau lakukan? Koper itu sangat berat Nona sini biar saya saja yang membawanya menuju mobil." Fiani tersenyum asistennya sangat perduli sekali dengan dirinya. Faam memang pintar dalam menilai orang untuk menjadi orang kepercayaannya.
Fiani mengikuti Ana dari belakang, sebenarnya Fiani ingin mengajaknya tapi pasti Faam tindak akan mengizinkannya.
"Ayo sayang kita pergi," pinta Faam pada Fiani.
Ana seakan tidak bisa merelakan kepergian keduanya.
"Nona...." ucap Ana memandang ke arah Fiani.
Fiani tau pasti Ana begitu sangat menghawatirkan dirinya, tapi dia tidak boleh sampai terlihat mencurigakan apalagi di depan Faam.
"Jaga dirimu baik-baik, aku pergi dulu." ucap Fiani membuat Ana tidak bisa berbuat apa-apa. Dan melihat kepergian kedua pasangan pengantin baru yang akan bulan madu.
__ADS_1
Ana pun segera ke luar dari hunian, terlihat para art yang membersihkan beberapa barang.
Sekarang apa yang akan dia lakukan biasanya dia akan mengikuti Fiani kemanapun Fiani akan pergi.
Dan sekarang dia harus mengerjakan apa? Apa dia pulang ke rumah saja mengingat beberapa minggu kan dia sibuk bekerja terus.
Pasti sekarang ibu dan ayahnya sudah sangat kangen dengannya.
Baru juga membereskan barang-barang nya Ama pun terkejut karena Yuda sudah berada di depannya. Baru saja dia akan menyetop angkot.
"Kau? Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Ana sebenarnya malas jika harus lagi dan lagi bertemu dengan Yuda.
"Apa yang sedang aku lakukan? Ya apa lagi jika bukan menjemput dirimu, kau pasti mau pulang kan ke rumah orang tuamu?" tanya Yuda menebaknya ya pastinya dia akan pulang ke rumah orang tuanya kan Faam dan Fiani kan sedang bulan madu.
"Aku tidak butuh tumpangan darimu." jelas Ana.
"Janganlah menolak diriku terus Ana," pinta Yuda.
" Ana.... Dengarkan aku dulu..." teriak Yuda yang segera mengejar Ana yang belum lama pergi.
Sedangkan Bima hanya melihat dia tidak ingin ikut campur dalam masalah bosnya itu karena jika dia ikut campur pasti akan lebih ruet lagi.
Yuda menggapai lengan Ana dan Ana tidak senang akan hal ini kenapa dia selalu saja tidak pernah lelah selalu saja mengejarnya tanpa henti.
Bukankah dia tau jika ayahnya tidak akan setuju tapi kenapa dia selalu memaksakan diri.
"Ana... Kenapa jelaskan kenapa kau selalu seperti ini?" tanya Yuda.
"Kau tau alasannya dan kenapa kau masih bertanya padaku, tanyakan saja pada ayahmu dia tidak akan pernah setuju dengan hubungan kita berdua lebih baik kau menerima perjodohan yang sudah ayahmu atur itu dan lupakanlah diriku dan ya nanti aku akan melunasi semua hutang-hutang ku." jawab Ana yang segera menepis tangan Yuda dan segera memberhentikan angkot.
"Ana..." teriak Yuda yang tidak diindahkan oleh Ana.
"Ayah apa yang kau katakan pada Ana? Kenapa dia seakan selalu memberi jarak yang membuatku semakin hari semakin membuatku kebingungan sendiri.
__ADS_1
" Maafkan aku Yud, sebaiknya memang kita tidak pernah ada hubungan lagi, aku terlalu miskin untuk orang seperti dirimu." Ucap Ana yang menangis di angkot.
Bima yang melihat hal itu segera meminta Yuda untuk pulang, pasti di lain hari Ana akan menjelaskan apa yang terjadi.
Yuda sudah pulang ia ingin tau apa yang dikatakan ayahnya pada Ana kenapa Ana menjauhi dirinya dan tidak ingin mengenal dirinya sendiri padahal ayahnya tau jika dirinya sangat mencintai Ana kenapa ayahnya tega melakukannya.
"Ayah..." ucap Yuda pada Ayahnya terlihat ayahnya yang sedang mengobrol dengan seseorang pengusaha dia adalah om Ruslan dia juga melihat Sintia, malas banget jika Sintia ada di sini.
"Nah itu Yuda sudah pulang.." Ucap Ayahnya yang membuat Ruslan dan Sintia menoleh kearah Yuda.
"Dia lagi ngapain sih wanita ini datang lagi pasti dia memaksa ayahnya untuk kemari malas banget." batin Yuda yang segera duduk jauh dari kedua tamu itu.
"Bagaimana Hans, bagaimana dengan rencana kita tempo hari apakah kau setuju dengan perjodohan ini?" tanya Ruslan berinisiatif.
"Tentu saja dan lihat sepertinya mereka berdua terlihat cocok," jawab Hans membuat Yuda menatap ayahnya tidak suka.
"Sintia, memangnya Sintia mau dengan Yuda dia ini anaknya susah diatur." Yuda tidak mengatakan apapun dia sangat tidak menyukai kedua orang ini. Kenapa sih ayahnya selalu saja memaksakan kehendak kan ayahnya tau jika selama ini dia tidak menyukai Sintia.
"Om, apapun sifat Yuda, Sintia bersedia kok menerimanya."
"Dasar, wanita licik ya jelas lah mau kan uang ayahku banyak dan pasti kau hanya ingin memanfaatkan diriku bukan dasar!" pekik Yuda dalam hatinya.
"Ayah, Yuda capek Yuda ingin istirahat." terang Yuda pada ayahnya. Ruslan tidak keberatan begitu pun dengan Sintia, karena tujuan mereka datang sudah terpenuhi yang paling penting mereka berdua sudah berhasil mendapatkan hati Hans, sebentar lagi mereka berdua akan kaya raya.
"Yuda..." teriak Hans merasa tidak suka dengan sikap anaknya itu.
"Sudahlah Om, biarkan saja Yuda istirahat kan Yuda baru pulang dari kantor pastilah dia sangat capek." ucap Sintia mencari-cari perhatian.
Hans merasa sangat beruntung jika Yuda menikah dengan Sintia selain cantik Sintia pasti bisa meluluhkan hati anaknya yang keras kepala itu.
"Maafkan atas ketidak sopan nan Yuda," ucap Hans. Ia mengepalkan tangan nya.
"Dasar anak kurang ajar, setelah ini ayah akan menghukum mu." batin Hans sambil mengeratkan gigi.
__ADS_1