
"Lebih baik bos bersikap masa bodoh deh bos nanti Ana pasti akan merasa kehilangan." ucap Bima memberi saran yang tidak terlalu susah tapi hatinya susah menerima.
Memang sepele sih tapi jika mengacuhkan seseorang apalagi seseorang yang dia sayang itu pasti akan membuat hatinya tersiksa.
"Hah, jangan memberi ide konyol itu Bima kau tau kan aku tidak bisa jauh dari Ana dan kau menyuruhku untuk menjauhinya? Tidak sampai kapan pun aku tidak akan mau." Bima menggeleng pelan nih kan padahal idenya sangat amatlah cemerlang loh kan Yuda nya tidak mau padahal seseorang akan merasa kehilangan jika seseorang itu tiba-tiba tanpa kabar nah bosnya tidak berpikir jauh sih.
"Bos coba saja lah, jangan banyak protes."
"Kenapa kau jadi menyuruhku memaksakan diriku seperti apa yang kau mau, JAWABANKU TIDAK!" ucap Yuda sambil menekan suaranya ia tidak ingin jauh dari orang yang ia sayang ia harus memperjuangkan cintanya apapun resikonya.
"Terserah bos saja lah," ucap Bima yang segera menjalankan mobilnya tak beberapa saat ponsel Yuda berbunyi ternyata ada pesan dari Fiani.
Dengan malas Yuda segera mengambil ponselnya, ternyata Fiani memberikan pesan jika seminggu lagi dia harus menemaninya untuk ke rumah sakit, lah walaupun malas tapi dia bukanlah laki-laki yang suka melanggar janji.
Dengan wajah yang di tekuk nya, Yuda pun hanya mengetik Ya sebagai balasannya dan tidak membalas pesan Fiani lagi.
"Kan tambah di tekuk tuh muka," ucap Bima membuat Yuda hanya diam, yang ditakutkan Bima bukanlah kemarahan dari Yuda namun saat Yuda hanya diam tak mengatakan apapun itu yang membuatnya pusing bagaimana caranya merayu bosnya itu?
"Bagaimana caranya menghibur bos ya, masa harus menghubungi Ana, tapi jika tuan sampai tau kan kasihan Ana. Tuhan kenapa hubungan pasangan ini begitu rumit? Tolonglah Tuhan berikan mereka kebahagiaan.
Bima pun membawa mobil menuju ke sebuah tempat yang biasanya di datangi oleh Yuda untuk menenangkan pikiran.
Disisi lain Faam dan Fiani masih belum beranjak dari tidur mereka, padahal matahari sudah mulai meninggi.
Fiani tiba-tiba terbangun karena kepalanya yang terasa sakit, dia segera berdiri dan mencari tasnya namun pil yang kemarin entah kemana.
Dia pun mencarinya dan menemukannya untungnya pil nya sudah ketemu.
Fiani segera menelan pil itu dan saat itu juga Faam pun terbangun, ia terkejut ketika tidak menemukan istrinya di sampingnya. Kemana perginya Fiani?
Faam pun mencari keberadaan istrinya, namun ia tidak menemukannya.
"Sayang apa yang kau lakukan?" tanya Fiani yang tiba-tiba muncul di belakang Faam.
Faam melihat istrinya yang masih menggunakan jubah mandi, apa dia tadi mandi? Dan tidak menunggu dirinya lagi, wah minta di hukum nih istrinya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau mandi tanpa menunggu diriku sayang.." Fiani tersenyum.
Mandi? Siapa yang mandi baru juga masuk kamar mandi dan meninggalkan sesuatu ini aku akan membangunkannya eh dianya sudah bangun." Faam terkekeh apa dia sedang merayunya agar tidak dimarahi?
"Jadi?"
__ADS_1
"Jadi kau belum mandi?" tanya Faam.
"Ya belum lah." jawab Fiani sambil tersenyum simpul, sebenarnya tadi saat dia mencari pil Fiani mendengar jika Faam sudah bangun jadi dia inisiatif memakai gaun mandi.
Fiani tidak ingin ketahuan jadi Faini segera menyimpan pil nya ke tempat yang aman.
"Bagaimana jika kita mandi." ucap Faam yang segera menggendong Fiani menuju kamar mandi.
Faam menatap wajah Fiani dengan tatapan sedikit aneh entah kenapa ia merasa jika isyrinya wajahnya memucat apa dia tengah sakit?
"Sayang kenapa dengan wajahmu ini?" tanya Faam ingin tahu bahkan Faam memegang wajah Fiani.
"Kau ini aku tidak apa-apa, kenapa kau heboh seperti ini, ya jelas lah pucat kan kau tidak mengizinkan diriku untuk tidur selama beberapa hari ini. Memang kau lupa?" tanya Fiani membuat Faam terkekeh yang benar sih dia nya yang salah terlalu terbuai akan hasrat nya jadi dia selalu meminta jatahnya setiap malam.
Faam segera menjatuhkan ciumannya di leher Fiani. "Kau menginginkannya lagi?" tanya Fiani. Faam mengangguk,
Fiani pasrah jika Faam bermain-main dengan tubuhnya, dia hanya ingin meminta haknya jadi apa yang salah?
Faam yang sudah terbuai dengan hasrat nya segera melepaskan tali gaun mandi Fiani, Fiani hanya memandang tanpa bisa melakukan perlawanan.
Faam segera mencium bibir Fiani dengan buas ******* nya dengan lembut, Fiani pun membalasnya.
Faam melepaskan gaun mandi Fiani dilihatnya Fiani yang sudah polos, Faam pun membuka seluruh bajunya dan melanjutkan ciumannya.
Faam mencium tubuh Fiani, Dia pun meremas dua gundukan kembar milik Fiani dan tak lupa memberikan tanda di gundukan itu, Fiani mengerang.
Ciuman nya segera turun, Fiani pun terduduk menikmati setiap permainan yang Faam mainkan.
Sebelum ke puncaknya Fiani pun meminta Faam berdiri, Faam diam dan hanya menurut saja, Fiani kini yang bermain.
Faam diam ketika Fiani menyentuh bagian sensitif nya, Faam hanya bisa mendesah membiarkan Fiani melahap dengan buas senjatanya.
Faam yang tidak tahan lagi segera mencium tubuh Fiani dan memasukkan senjatanya ke dslm gua.
Fiani mendesah dengan hebat ketika senjata milik Faam masuk ke dalam gua miliknya.
Ah
Uh
Faam semakin berhasrat untuk memuaskan istrinya.
__ADS_1
Permainan mereka pun berlanjut hingga akhirnya Faam yang kelelahan mengakhiri aktivitas mereka.
Mereka pun mandi bersama, setelah keduanya sudah rapi keduanya pun hanya duduk memandang satu sama lain, Faam segera memeluk istrinya.
"Terima kasih."
"Untuk apa?" tanya Fiani yang bingung.
"Karena kau sudah mau jadi istriku." Fiani tersenyum kirain apa ternyata hanya itu.
"Hanya itu aku kirain apa." jawab Fiani seenaknya.
Faam mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya sebenarnya tadi malam dia ingin memberikan hadiah ini tapi dia malah kelupaan.
"Sayang..." ucap Faam yang segera memberikan kotak berisi kalung berlian ada Fiani.
"Apa itu sayang?" tanya Fiani yang kepo sendiri.
Kotak itu sangat cantik, tapi dia tidak tau apa isi di dalamnya.
"Coba kamu buka sendiri, sebenarnya tadi malam aku ingin memberikannya padamu tapi lupa,"
"Memangnya apa yang ada di dalam sini?" tanya Fiani ingin tahu.
"Kamu lihat saja sayang..." Fiani segera membuka kotak merah dan ternyata di dalam kotak ada sebuah kalung yang indah.
"Bagaimana kau suka?" tanya Faam ingin tahu.
"Suka, Terima kasih sayang." Ucap Fiani yang segera memeluk istrinya.
"Aku pake in ya?" Fiani tersenyum.
Faam segera memakaikan kalung di leher Fiani sangat cantik.
"Sayang?" tanya Fiani tiba-tiba.
"Apa kau tidak marah jika nantinya aku menghilang dari hidupmu?" Faam bengong lagi lagi istrinya bertanya padanya yang bukan bukan kenapa sih selalu pertanyaan itu kenapa tidak yang lain?
"Ya jelas marah, aku akan memarahi dirimu, memarahi mu di ranjang." jawab Faam asal.
Fiani tersenyum padahal sebenarnya niatnya ingin memberitahukan suaminya jika dia akan pergi jauh dan tidak lah mungkin bisa memeluknya apalagi melihat dirinya.
__ADS_1
Fiani tanpa sadar menjatuhkan air matanya.
"Sayang kenapa kau menangis?" tanya Faam ingin tahu.