
"Saya ingin menyeret wanita itu karena apa? Anda tahu dia yang membuat anak saya seperti ini." ucap Mila dengan nada yang tinggi membuat Wulan yang mendengarnya hanya menggeleng pelan.
"Hah apa dia tidak salah orang? Siapa yang dulu membuat Fiani seperti ini? Siapa yang dulu menentang hubungan mereka? Jika Hikmal seperti ini seharusnya dia sadar jika ini semua gara-gara ucapannya sendiri. Main menyalahkan orang saja." dengus Wulan
"Nyonya Mila yang terhormat, bukankah anda yang seharusnya di salahkan? Karena apa? Ada sendiri lah yang membuat anak anda satu-satunya celaka." ucap Wulan membuat Mila menggeleng. Siapa tadi yang pantas untuk di salahkan dia? Dasar seharusnya dia tahu memang Fianilah yang patut untuk di salahkan mengingat apa? Dia wanita murahan yang menggoda anaknya dan hanya ingin merampas harta dari putranya.
Dia hanya wanita penggoda yang pantas untuk di salahkan.
"Saya? Kenapa kau malah menyalahkan saya?" tanya Mila yang tidak ingin di salahkan akan hal ini padahal dia yang jelas jelas bersalah karena telah membuat hati Hikmal menjadi tersakiti.
Membuat Hikmal menjadi putus asa.
"Seharusnya anda datang kemari sudah berpikir dengan jernih." Mila seakan tidak Terima atas kata kata yang terlontar dari mulut Wulan.
Itu terdengar sebuah penghinaan yang sangat besar, mana mungkin seorang ibu tidak akan memikirkan kebahagiaan putranya sendiri? Bagaimana seorang ibu akan tega melihat putranya hanya di manfaat kan oleh wanita ini.
__ADS_1
"Fiani, dulu sangat mencintai anak anda, begitu pun sebaliknya dan apa yang anda lakukan? Seharusnya anda mengingat saat anda datang menemui Fiani dan mengatakan cacian itu. Anda tau betapa hati Fiani sakit karena mendengar omong kosong anda?" Mila hanya diam dia tidak bisa berkata apa lagi kemang benar dulu dia sangat membenci Fiani sampai sekarang rasa benci itu masih ada dan tidak pernah hilang.
"Yang patut di salahkan bukanlah Fiani, melainkan wanita yang anda bangga-banggakan itu, sekarang setelah Hikmal seperti ini apa anda pernah melihat dia lagi? Seharusnya anda sadar dan memahami jika wanita yang anda banggakan itu hanyalah ingin menguasai harta anda." Mila menggeleng tapi benar perkataan Wulan.
Sekarang bahkan Sonia saja tidak pernah lagi muncul. Dia seakan tidak lagi menghiraukan Hikmal padahal dia dulu berjanji untuk selalu ada dan menemani Hikmal namun apa? Sekarang janji itu kini hanya tinggal janji yang tidak bisa di tempati.
Deden menunggu istrinya untuk kembali namun dia malah sampai sekarang tidak kunjung kembali.
Dia baru ingat mana mungkin istrinya akan dengan mudah membawa Fiani, dia dulu juga seharusnya tidak melakukan hal itu dan bersekongkol. dengan ibu tiri Fiani.
Mana mungkin seorang ibu dapat membuat hidup putranya hancur seperti ini.
Dan perkiraan nya ternyata sangat tepat, dia melihat istrinya yang sedang bersitegang dengan pemilik rumah.
"Bu, ayo kita kembali." ucap Deden seraya merangkul istrinya.
__ADS_1
"Kembali? Kembali kau bilang? Tidak dia harus mempertanggung jawabkan semuanya, karena dia anak kita jadi seperti ini." teriak Mila malah membuat Deden sangat emosi kenapa istrinya tidak pernah berubah dan malah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang di perbuatannya sendiri.
Deden mengepalkan tangan dan menampar istrinya.
Plak
Mila tidak mengerti kenapa justru dia yang di tampar oleh suaminya, seharusnya dia itu menampar wanita yang telah membuat anaknya celaka bukan dirinya.
"Kenapa mas memukul ku?" tanya Mila masih tidak sadar dengan sikap nya mana mungkin seseorang akan mau ikut dengannya jika caranya saja seperti ini.
Melihat tiga orang yang berada di depan gerbang sudah cukup membuat Deden tau jika istrinya menang membuat ulah.
"Maafkan, maafkan kelakuan istri saya, saya dan istri saya akan pergi dari rumah ini." Mila menggeleng dia tidak ingin pergi dari tempat ini sebelum membawa wanita itu.
"Pergi... Kau..."
__ADS_1
"Maaf Pak, saya tahu apa yang bapak rasakan saat ini, terlebih lagi bapak dan istri bapak malah datang ke rumah saya, saya akan datang ke rumah bapak nanti setelah saya tidak sibuk. Dan sebaiknya bapak membawa istri bapak pulang seperti nya dia sangat lelah." ucap Faam membuat Deden tersenyum lega ternyata dia tidak memarahi istrinya.
Memang istrinya tukang buat onar.