
Di tempat lain dua orang pria dan satu wanita memasuki rumah sakit, mereka bertiga mendapat kabar jika istri dari bosnya masuk ke rumah sakit.
"Apa benar ini rumah sakit nya?" tanya Rendra pada Liana.
Liana tersenyum dari kabar yang dia dapatkan secara tidak sengaja memang benar ini rumah sakitnya tapi di mana ruang rawat Fiani.
"Kamu ini, memang seharusnya kita datang ke sini tanpa sepengetahuan dari bos apa tidak di marahin nantinya?" Tanya Rendra kepada Liana.
Jika Liana pastilah tidak akan terkena marah karena mungkin kena umpatan dari Faam saja.
"Sudah lah jangan bertengkar terus, kita datang ke mari itu untuk melihat keadaan Fiani bukan malah melihat kalian berdua bertengkar. " Liana tidak bermaksud untuk mengajak adik dari Ardan ini bertengkar tapi ya bagaimana lagi Rendra nya ini yang selalu mengajak dirinya bertengkar.
Dengan mulut yang komat kamit Liana pun segera meninggalkan kedua pria yang aling pandang, lebih baik dia bertanya pada suster disini mana tau dia mendapatkan informasi tentang Fiani di sini.
__ADS_1
Ardan dan Rendra menatap kepergian Liana tuh anak mau kemana lagi coba main kabur.
Faam dengan langkah yang berat berjalan meninggalkan ruangan, dia begitu khawatir melihat Fiani apalagi mungkin gara-gara dia Fiani menjadi koma seperti ini.
Dengan melipat tangannya, memegang pipi Faam pun duduk termenung ternyata begitu berat meninggalkan orang yang dia sayang apalagi dia sedang sakit seperti ini. Rasanya dia tidak tega tapi bagaimana lagi pekerjaan ya pekerjaan mana mungkin dia menunda-nunda pekerjaan nya.
"Maafkan aku sayang... Aku bukan nya ingin meninggalkan dirimu saat kamu seperti ini, tapi mau bagaimana lagi aku juga tidak bisa terus menerus mengabaikan pekerjaan ku. Maaf karena aku tidak bisa menunggumu di sini." Faam pun bangun dan berjalan guntai rasanya jika dia dapat menyelesaikan pekerjaannya dia akan membawa istrinya untuk berobat ke luar negeri.
Fiani tersenyum dan membalikkan badannya lagit malam ini begitu terang benderang karena di balut oleh cahaya rembulan tapi hatinya begitu gelap seakan ada banyak awan mendung yang menyelimuti.
Fiani melihat dirinya sendiri, melihat tubuhnya yang lemah dia berpikir sampai berulang-ulang kali jika dia kembali maka dokter pasti akan mengatakan hal yang sama. Dia tidak mungkin mengorbankan anaknya apapun yang terjadi.
"Apa yang kamu pikirkan? Sekarang kembali lah!!" teriak Nur pada Fiani, namun Fiani tidak mengindahkan bagaimana pun dia harus terus seperti ini sampai anak yang ada dalam kandungannya lahir.
__ADS_1
"Apa sih!" teriak Fiani merasa kesal karena sejak keadaannya seperti ini Nur selalu memintanya untuk kembali apa-apa sih dia ini.
"Kamu jika seperti ini kamu akan kehilangan ingatanmu, ayo cepat kembali.. " pinta Nur pada Fiani.
"Tidak, sekali tidak ya tidak kamu dengar." ucap Fiani yang segera menghilang dari pandangan Nur.
Nur nampak sebal sendiri, kenapa dia selalu seperti ini, tidak pernah mendengarkan apa yang dia katakan, nanti dia bisa menyesal sendiri. Nih bocah tidak bisa di beri tahu secara baik- baik memang.
"Bocah satu itu apa dia tau dia itu sedang di pikirkan orang banyak kenapa dia tidak pernah mengerti sih, gini nih kalau perempuan mikirnya pakai logika enggak pakai perasaan ya gini hadeh bingung. Harus apa coba ayo coba dong buat Fiani mengerti kawan susah tau meluluhkan hati Fiani 😔ðŸ˜
Nur ajah sampai bingung harus gimana dong 😣.
Bantuin Nur dong kawan biar Fiani mau kembali 😉
__ADS_1