Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Siasat


__ADS_3

Yusuf tersenyum kenapa anak semata wayangnya ini masih saja bertanya padanya, bukankah dia harusnya dia bisa mengerti sendiri.


"Kenapa, kenapa kamu masih bertanya nak, bukan kah orang yang paling kamu percaya adalah adik kecil mu itu, ayah tahu jika memang kalian berdua ini selalu bertabrakan dan sering bertengkar tapi jika di dalam bisnis kalian sangat lah amat sangat kompak. " Dilan hanya bisa tersenyum saja.


Memang adik satu itu memang selalu saja seperti layaknya anak kecil tapi ya bagaimana lagi jika tidak bertengkar dengan dirinya satu hari saja ada yang kurang,


"Ayah tahu saja jika Danil selalu bertengkar dengan dirinya. "


"Apa sih yang tidak ayah tahu dari mu, bagaimana dengan kuliah mu, lancarkan, kamu pasti sudah masuk semester tujuh kan?" Dilan tersenyum memang nya kenapa, nih apakah mungkin ayahnya merencanakan proyek ini gara gara. Ah ayah nya ini benar benar deh. Anak nya juga bukan dirinya saja kok.


"Ayah bukan nya ayah masih mempunyai satu orang anak lagi? Kenapa selalu aku saja yang ayah perhatikan nanti imbasnya dia akan membenci diriku. " Yusuf tersenyum apa hubungannya dengan anak angkat dari Fifi di manjakan oleh ibunya saja sudah sukur sukur loh apanya lagi yang dia inginkan.


"Membenci, yang seharusnya membenci adalah ayah, tidak ada ikut campur nya, sudah lah jangan membahas dia, bagaimana jika jika temui saja papa dan mama mu. "


"Pasti ingin bicara tentang bisnis lagi kan yah!" Dilan sudah menduga dan benar saja Yusuf ayahnya mengangguk.

__ADS_1


"Nak ayah hanya ingin mengatakan pada Faam dan Fiani jika saham milik ayah akan jatuh di tangan mu, sudah jangan berpikir yang macam macam. Jika Faam yang memegang saham itu pasti tidak akan ada yang mencurigainya. "


"Kenapa ayah, membohongi ibu, bukan kah anak ayah juga pantas mendapat kan apa yang ayah miliki!"


"Ayah tahu akan hal itu, tapi kamu harus tahu ini adalah usaha ayah dengan ibu kandung mu, mana mungkin ayah akan memberikan apa yang menjadi hal mu pada orang lain, sudah jika kamu memikirkan tentang adik sambung mu itu tidak akan ada habisnya. "


Dilan juga berpikir akan hal itu, tapi apa yang membuat ayahnya enggan untuk memberikan apa yang seharusnya menjadi milik mereka berdua.


Tak berselang lama mobil sudah terparkir di depan rumah, seseorang menyambut mereka siapa lagi jika bukan Fiani yang sudah menunggu kedatangan anak nakal satu itu.


"Mama? Masih nanya mama, kenapa kenapa kamu tidak berangkat bersama dengan adik mu. " Yusuf tersenyum saja melihat anak nya di marahi oleh mama angkatnya ini.


"Mama aku bisa menjelaskan nya kok. " Terang Dilan yang segera masuk.


Fiani yang sudah tahu akan kedatangan tamu hanya tersenyum saja.

__ADS_1


"Capek ya merawat anak nakal itu?" tanya Yusuf pada Fiani.


"Tidak sebanding lah, bukannya seharusnya kamu datangnya besok. " Fiani bingung apa yang membuat Yusuf datang lebih awal.


"Rekan kerja ada apa? Silahkan masuk!"


"Sudah seperti tamu saja... " pekik Fiani yang sudah terbiasa saat Yusuf bertamu di tempat nya.


"Rekan... Apa yang membuat mu datang menemui ku, apa kamu ingin membahas tentang penyerahan kuasa itu?" Tanya Faam yang ingin tahu.


"Tidak, aku hanya ingin menguji antara anak kandung ku, dan seberapa licik dan pintar mereka. " Dilan segera berlalu dia juga tidak ingin tahu apa yang ayah kandung dan ayah angkat nya bicarakan enakan di perpustakaan kan busa membaca.


"Kamu serius, kamu ingin menempatkan keduanya untuk merebut posisi direktur utama. " Faam menggeleng pelan nih ada ada saka bapak satu ini.


"Aku hanya ingin mereka bersaing secara normal, aku juga tidak ingin menyerah kan perusahaan di tangan yang salah, kamu tahu kan apa yang aku maksud kan! " Faam mengangguk saja karena selama ini yang menguasai perusahaan adalah istri dan ibunya yang tidak tahu aturan tapi ingin bertindak sewenang-wenang.

__ADS_1


__ADS_2