Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Lahiran


__ADS_3

"Hah kau yang benar, lalu sosial yang harus aku lakukan?" tanya Fasm masih bingung.


"Alasan yang harus kamu lakukan ya selalu ada bersama dia lah kok nanya, ya sudah aku tinggal dulu." Fasm membuat kan mata lah kok di tinggal sih istrinya sedang kesakitan loh kok di tinggal gini.


"Sabar ya sayang, " Fiani malah terkekeh. Apa apaan coba suaminya yang melahirkan kan dia malah dia yang panik.


"Tuh muka jangan gitu dong." ejek Fiani padahal nih perutnya mulas sekali tapi suaminya membuatnya malah ingin ketawa.


"Aku ini panik? Panik melihat kamu seperti ini." Faam memegang tangan Fiani.


"Bagaimana jika kamu makan biar aku belikan makanan." Fiani menggeleng.


"Bagaimana jika kamu suruh Ana datang saja kemari. Untuk membeli kan makanan?" Faam tersenyum nih ada apa juga dengan istrinya nih ceritanya enggak mau di tinggal kah apa bagaimana? Wajar lah tidak ingin di tinggal kan harus melahirkan dua bukan satu bayi.


Dan kedua orang tuanya harus tahu akan hal ini.


"Baiklah, aku akan segera menghubunginya."


Sekarang Fiani sudah ada di ruangan dan seluruh keluarga juga sudah berkumpul yang tidak ada hanyalah Aldo yang di suruh ke caffe, ibu Fiani dan ayah Fiani.

__ADS_1


Fino, Ardan, Rendra, Liana yang tengah mengandung, dan Ana sudah ada di sana menunggu. Dan yang ketinggalan hanyalah adik dari Faam yang harus bertugas dulu.


"Semoga ketiga nya selamat." ucap Ibu dari Faam.


"Sekarang aku mempunyai dua cucu sekali gus. Pasti mereka sangat cantik dan tampan ah tidak sabar untuk menggendong mereka. " Pekik ibu dari Faam.


Beberapa menit kemudian terdengar suara tangisan bayi dan beberapa menit setelahnya juga sama.


"Pokonya yang pertama gendong aku." pekik suaminya. Membuat Ana menggeleng pelan memang keluarga dari Faam sangat lah antik sampai berebut ingin menggendong cucu mereka.


Dokter pun keluar beriringan dengan suster.


"Keduanya sehat, dan ibunya juga." Mendengar hal itu ibu dari Faam pun segera menerobos pokoknya yang pertama menggendong adalah dirinya.


Ana terkekeh melihat kedua majikannya yang seperti anak kecil padahal bayi nya kan ada dua.


Tapi entahlah kenapa kok ada yang aneh.


"Nak dimana cucu ibu?" tanya ibu Faam celingukan.

__ADS_1


"Tapi bukankah seharusnya dua bayi eh kenapa kok tiga bayi?" Faam tersenyum sebenarnya sih ini bukan bayinya saat Fiani melahirkan putrinya di ruangan sebelah juga melahirkan.


Dan sayangnya kata dokter dia adalah wanita malam dan dia tidak mempunyai keluarga, wanita itu sudah di temukan di jalan dengan keadaan yang menghawatirkan namun untungnya dia dapat melahirkan putranya dengan selamat.


"Bukanlah seharusnya bayi mu dua ya nak?" tanya ibu Faam pada Faam yang malah menggendong bayi laki-laki.


"Ya memang dua ibu, nanti lah Faam ceritakan. " Mendengar hal itu Ibunya hanya diam pasti ada sesuatu tapi kenapa dia malah ingin menggendong anak itu ya?


"Boleh mama gendong?" Faam pun menyerahkan bayi yang ada di gendongannya pada ibunya.


"Tampannya anak ini, ini anak mu kah?" Faam menggeleng.


"Tidak ibu, dia bukan anakku, dia adalah anak dari seorang wanita, dia meninggal saat melahirkan anak nya. Dia sebatang kara bu, aku kasihan. Jadi aku meminta dokter untuk mengadopsi nya dia juga sudah satu minggu di sini bu. "


"Terserah kamu lah."


Fiani tersenyum, Fiani memandang kedua anaknya.


"Sayang... Makasih. " Faam mengecup kening istrinya.

__ADS_1


"Lihat betapa bahagianya ibu. " Faam dan Fiani saling memandang ibu mereka.


__ADS_2