Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta
Ikut Saja


__ADS_3

Faam tidak melepaskan cubitannya dari pipi Fiani yang jelas dia memang ingin selalu seperti ini bercanda bersama dengan istrinya.


Bermain bersama seperti seorang anak kecil yang sedang bermain entahlah rasanya Fiani seakan ingin membuatnya darah tinggi selalu.


Tapi rasanya itu tidak akan pernah mungkin karena apa setiap Fiani membuat ulah Faam hanya tersenyum tidak menghiraukan, dia menganggap istrinya layaknya teman yang akan selalu menemaninya.


Kapan pun dan di mana pun.


"Sayang... Buat apa aku menipumu?" Faam menatap wajah Fiani dengan tatapan tajam.


"Alasan mu terlalu klasik."


"Kenapa kamu selalu saja tidak mempercayai ucapan ku, kamu tau tidak dari awal aku bertemu dengan dirimu pasti kamu selalu membuat ku baik darah, tapi kenapa aku hanya tersenyum? Ya alasan ku hanya satu ingin membuat mu jengkel."


"Terus aku harus merasa berterima kasih gitu? Karena kamu tidak mengumpati diriku dengan kata-kata kasar, gitu!!" Faam menggeleng nih anak dasar memang nyebelin ya tetap saja nyebelin jika sudah seperti ini.

__ADS_1


"Nih kamu main berprasangka buruk terus, kenapa sih coba katakan saja memang apa yang membuat dirimu marah padaku?" tanya Faam mencoba mencari tau kenapa dengan istrinya lupa ingatan ya lupa saja tapi marahnya jangan kelamaan dong.


"Entah pokoknya setiap aku melihat mu aku rasanya ingin marah saja kamu tau kan."


Faam tidak mengatakan apapun lagi dia ingat mungkin walaupun istrinya tidak ingat akan kejadian itu mungkin hatinya tau jika pernah membuat kesalahan yang fatal dan tidak bisa di maafkan.


"Kenapa dia diam saja, memangnya apa yang barusan aku katakan salah ya? Atau menyinggung perasaan dirinya, kenapa aku jadi merasa bersalah sendiri? Ada apa dengan diriku? Apakah dia memang suamiku? Apakah dia memang orang yang selalu menghawatirkan diriku? Wajahnya lecek seperti itu kenapa aku jadi merasa bersalah?"


"Maaf!" ucap Fiani.


"Karena aku terlalu banyak berprasangka buruk padamu." Faam mengangguk dan fokus menyetir mobil.


"Apa dia marah karena ucapan ku tadi? Wajar saja dia marah karena aku yang keterlaluan sih, aku harus meminta maaf lagi." batin Fiani sambil melirik Faam.


"Ada apa dengan Fiani? Apa Fiani menganggap diriku sedang marah padanya? Dasar Fiani selalu saja seperti ini. Biarkan sajalah."

__ADS_1


Tak berselang lama mereka sudah sampai, Faam membukakan pintu mobil dan menyuruh Fiani keluar.


"Kita hanya sebentar menemui mempelai dan langsung pulang, aku tau pasti kamu akan merasa tidak nyaman jika ada banyak orang di sekeliling mu kan." Fiani mengangguk memang benar dia akan merasa tidak nyaman jika ada banyak orang yang bersamanya.


"Hah kenapa dia bisa tau?"


"Aku dan kamu itu sama, sama-sama tidak nyaman jika ada banyak orang, kita nanti kan ke danau seperti biasa. Nanti aku akan menceritakan seperti apa dirimu." Fiani hanya mengangguk Fiani tidak ingin jika Faam sampai mendiamkan dirinya.


Entah kenapa saat Faam diam dia malah menjadi tidak enak, hatinya seakan sakit jika di cuekin seperti tadi.


Mau marah salah, ya ikut saja lah asal jangan di kacangin seperti tadi saja.


Faam mengulurkan tangannya. Fiani menerima jabatan tangan Faam.


"Kita harus terlihat mesra ok." ucap Faam membuat Fiani mengangkat jempolnya.

__ADS_1


"Terserah kamu saja." jawab Fiani mengikuti langkah suaminya untuk masuk, semua mata melihat Fiani membuat Fiani nampak risih karena tatapan mata mereka yang terlihat sinis bukan tersenyum manis


__ADS_2