
"Kau... " teriak Sonia merasa sangat kesal dia pun menyuruh para anak buahnya untuk. menangkap kembali Mila.
"Saat nya." ucap Ana yang segera berlari karena anak buah Sonia yang tadi diam saja langsung menyerang mereka ya apa boleh buat sekalian olah raga pagi kan hehe..
"Akan aku pastikan kalian semua mati." pekik Sonia tak membuat Ana dan Wulan mundur sedangkan Yuda yang jelas jago bela diri berjalan pelan saja.
Menghadapi cecunguk sialan ini mungkin hanya sekali tonjok mudah lah.
"Kau lihat saja siapa yang akan menang, tante minggir." teriak Wulan yang mencoba memberitahukan pada Mila agar dirinya menjauh.
Mila mundur beberapa langkah ternyata mereka malah menolongnya setelah apa yang dirinya lakukan.
Perkelahian pun tidak terelakkan Ana membabat habis musuh yang terus menyerang sedangkan Ana masih berkelahi dengan pria yang menggunakan senjata tajam.
Sedangkan Yuda dengan gampangnya mengalahkan empat orang berbadan besar dengan sekali pukulan dia dengan mudah mengalahkannya.
Gampang sekali.
"Ternyata mereka semua jago dalam hal bela diri dan Fiani pun sama seharusnya aku tadi tidak mengatakan hal yang melukai hati Fiani." batin Mila yang mencari tempat aman untuk bersembunyi.
Dalam sekejap para penjahat itu sudah dapat di kalahkan. Sonia segera berlari.
Wulan segera mengejarnya begitupun dengan Ana dan Yuda segera menghampiri wanita yang ketakutan dia bersembunyi di balik sofa.
Sonia masuk ke dalam ruangan, ruangan itu begitu luas hanya ada satu tempat tidur, di sana nampak terbaring orang yang susah lama tertidur dan tidak belum terbangun sampai detik ini.
__ADS_1
"Berani kalian mendekat, kalian akan melihat pria ini mati." pekik Sonia yang mengarahkan senjata tajam dan mengancam ingin melukai Hikmal jika mereka semua berani mendekati dirinya.
"Apa yang kamu lakukan Sonia! Lepaskan Hikmal!" teriak Wulan membuat Sonia hanya berdecak pelan.
"Lepaskan! Hikmal? Itu tidak akan pernah terjadi karena apa, pria ini yang telah mempermainkan hatiku." Ana dan Wulan menggeleng.
"Siapa yang mempermainkan perasaan mu? Hikmal dari awal sudah mengatakan kan kamu nya yang memaksakan diri supaya Hikmal mencintai mu." Sonia membuang muka.
"Dia memang harus membuka hatinya padaku, karena apa? Karena aku wanita yang sangat mencintai nya dan apa? Kau tahu Hikmal tidak sedikit pun melirik ku dan mencintaiku." teriak Sonia sambil memegang senjata di tangannya.
"Jika kamu sendiri tahu, Hikmal tidak mencintaimu lalu buat apa kamu melakukan semua ini? Kamu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih mencintai mu dari pada Hikmal kamu tahu dan kamu sendiri paham akan hal itu. Lalu buat apa kamu memaksakan diri seperti ini?" Ucap Wulan sambil mengingatkan siapa yang dulu mengejar-ngejar Hikmal.
"Masa bodoh! Jika Hikmal tidak menjadi milik ku maka dia tidak akan pernah bisa mendapatkan orang yang ia sayangi."
"Sonia, jangan seperti ini, kasihanilah Hikmal dia sudah seperti ini." ucap Wulan sambil membujuk Wulan.
Memang wanita ini sudah gila, tidak masuk akal dan memang harus di bawa ke rumah sakit jiwa secepatnya.
"Kau! Kau yang telah mencelakai Hikmal? Kenapa kau melakukannya?" tanya Wulan yang ingin tahu apa alasan Sonia melakukan hal seperti itu?
"Iya, karena aku sakit hati dia kabur di saat pesta pernikahan dan lebih memilih mengejar cintanya itu jadi, aku dengan sengaja mencelakai Hikmal jika Hikmal tidak ku miliki maka Fiani pun tidak akan bisa memiliki Hikmal. " pekik Sonia dengan nada ketusnya.
"Hikmal pun tidak bisa memiliki Fiani kau harus tahu karena sekarang Fiani sudah milik orang lain." ucap Wulan memberitahu Sonia.
Namun Sonia tidak percaya akan hal itu pasti Wulan hanya mempermainkan dirinya agar Hikmal bisa bebas.
__ADS_1
"Menangkap wanita satu saja kok susah sekali." pekik Faam yang segera melangkah dia dari tadi menguping pembicaraan mereka.
"Siapa lagi kau?" tanya Sonia yang terkejut melihat ada pria sangat tampan. Jika di bandingkan dengan Hikmal kulit dan wajahnya sangat jauh berbeda. Siapa kah dia?
"Aku? Adalah pria yang di maksudkan Wulan, aku adalah suami dari Fiani, dan Hikmal itu tidak akan pernah bisa mendapatkan wanita yang aku cintai." Fiani mendengar dari balik pintu ternyata memang benar dia adalah suaminya.
Suami yang mencintai dirinya bukan karena ada apa-apa nya. Melainkan cinta yang tulus, tulus dari dasar hatinya.
"Bohong!" teriak Sonia.
"Kamu masih tidak mempercayai diriku" Faam pun mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
Faam mengambil ponselnya dan menunjukkan sesuatu.
"Kamu?" ucap Sonia masih tidak percaya jika pria tampan yang ada di depan ini adalah suami dari Fiani.
"Masih tidak percaya juga?" tanya Faam yang membuatkan matanya.
"Dan sekarang kau lepaskan dia." tunjuk Faam menunjuk pria yang masih belum sadar.
"TIDAK!!!" ucap Sonia dengan nada keras.
"Baiklah, jika kamu masih tidak mau di ajak untuk kompromi."
Ana melihat Faam mengeluarkan sesuatu, jangan-jangan.
__ADS_1
"Tuan Jangan." teriak Ana yang tidak percaya dengan apa yang di keluarkan Faam dari kantung celana nya.